banner ad Startup UIN

Secangkir Kopi Yang Mendunia

Yang nulis on di Pojok Usaha | Agu 29, 2013 | 2 Comments

Apa yang akan Anda lakukan jika ide Anda ditolak dan dilecehkan-bahkan dianggap gila-oleh 217 orang dari 242 yang diajak bicara? Menyerah? Atau malah makin bergairah? Jika pilihan terakhir ini yang Anda lakukan, barangkali suatu saat, sebuah impian membuat bisnis kelas dunia bisa jadi milik Anda.

Yah, itulah kisah nyata yang dialami oleh Howard Schultz, orang yang dianggap paling berjasa dalam membesarkan kedai kopi Starbucks. “Secangkir kopi satu setengah dolar? Gila! Siapa yang mau? Ya ampun, apakah Anda kira ini akan berhasil? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi,” itulah sedikit dari sekian banyak cacian yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks.

Howard Schultz pic by turner.com

Dalam buku otobiografinya yang ditulis bersama dengan Dori Jones Yang- Pour Your Heart Into It; Bagaimana Starbucks Membangun Sebuah Perusahaan Secangkir Demi Secangkir-Howard menceritakan bagaimana ia merintis “cangkir demi cangkir” dan menjadikan Starbucks sebagai kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia.

Awalnya, Howard Schultz adalah seorang general manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Suatu kali, ia datang ke Starbucks yang pada awalnya hanyalah toko kecil pengecer biji-biji kopi yang sudah disangrai. Toko ini dimiliki oleh duo Jerry Baldwin dan Gordon Bowker sebagai pendiri awal Starbucks. Duo tersebut memang dikenal sangat getol mempelajari tentang kopi yang berkualitas. Melihat kegairahan mereka tentang kopi, Howard pun memutuskan bergabung dengan Starbucks, yang kala itu baru berusia 10 tahun. Ia pun segera bisa dekat dengan Jerry Baldwin. Sayang, hal itu kurang berlaku dengan Gordon Bowker dan Steve, seorang investor Starbucks baru. Meski begitu, Howard tetap berusaha beradaptasi dan mencoba mengenalkan berbagai ide pembaruan untuk membesarkan Starbucks.

Suatu ketika, Howard Schultz datang dengan ide cemerlang. Ia mendesak Jerry untuk mengubah Starbucks menjadi bar espresso dengan gaya Italia. Setelah perdebatan dan pertengkaran yang panjang, keduanya menemui jalan buntu. Jerry menolak karena meskipun idenya bagus, Starbucks sedang terjerumus dalam utang sehingga tidak akan mampu membiayai perubahan.

Howard pun lantas bertekad mendirikan perusahaan sendiri. Belajar dari Starbucks, ia tidak mau berutang dan memilih berjuang mencari investor. Dan, pilihan inilah yang kemudian membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ditolak dan direndahkan menjadi bagian keseharian yang harus dihadapinya.

Tekad itu terwujud–dan bahkan–dengan uang yang terkumpul dari usahanya, ia berhasil membeli Starbucks dari pendirinya. Namun, kerja keras itu tak berhenti dengan terbelinya Starbucks.

“Anda harus sangat sabar dalam menghadapi penderitaan! Anda harus bekerja begitu keras dan memiliki an­tusias­­me yang begitu besar terhadap suatu hal sehingga hal-hal lain dalam hidup anda terpaksa dikorbankan.”

ujarnya. Saat terjadi akuisisi, ia mendapati banyak karyawan yang curiga dan memandang sinis perubahan yang dibawanya. Tetapi, dengan sistem kekeluargaan, ia merangkul karyawan dan bahkan memberikan opsi saham sehingga sense of belonging karyawan makin tinggi.

Kini, dibantu dengan CEO yang diperbantukannya, Orin C Smith, Howard berhasil mengembangkan Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Ia juga menekankan layanan dengan keramahan pada konsumen, dan di sisi lain, memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard terus berekspansi hingga terus menjadi kedai kopi terbesar.

Howard Schultz adalah gambaran kegigihan seseorang dalam mewujudkan ide. Meski diremehkan pada awalnya, Howard tetap bertahan dan akhirnya membuktikan bahwa dengan tindakan nyata, semua ide bisa menjadi nyata. Kepedulian yang ditunjukkan dengan “memanusiakan” semua karyawannya juga telah membuatnya makin disegani sehingga mampu terus memperbesar usahanya.

Berpikir Positif Pada Hidup

Howard Schultz dikenal pekerja keras dan mengutamakan disiplin. Salah satu yang kebiasaan uniknya adalah tidak tidur malam lebih dari empat jam dan teratur bersepeda (olahraga). Ini di­anggapnya mendukung kesuksesan-ke­suksesan dalam hidupnya.

Lahir pada tahun 1952 di Seattle, Amerika Serikat. Howard Schultz la­hir dalam keluarga yang sederhana, na­­mun mempunyai pandangan yang baik tentang kehidupan. Namun nasib Howard Schultz cukup bagus karena dapat melanjutkan pendidikan hingga universitas.

Untuk membantu biaya sekolahnya, Howard Schultz melakukan kerja sam­pingan. Pekerjaan Howard Schultz ti­dak menetap dan sering gonta-ganti pe­kerjaan. Hingga akhirnya Howard Schultz bekerja di perusahaan Perstop yang merupakan produsen peralatan dapur, hingga menjadi pimpinan di per­usahaan tersebut. Howard Schultz mempunyai hobi melancong ke luar kota dan bahkan ke negara lain sambil mengamati karakter dari orang-orang yang dia singgahi. Pada tahun 1963, Howard Schultz melancong ke kota Milan, Italia. Ketika bersantai di kota itu, tiba-tiba terbersit ide birlian untuk bisnis kopinya.

Inspirasi ini muncul ketika dia me­nya­dari bahwa di Milan hampir di se­tiap blok ada warung kopi, yang tidak ha­nya rasanya yang nikmat namun juga pelayanannya sangat ramah dan memuaskan pelanggan. Inilah ke­­mudian yang dikembangkannya ke­mudian hari di Starbucks hingga puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Ia juga menekankan layanan dengan ke­ramahan pada konsumen, dan di sisi lain, memperlakukan karyawan sebagai keluarga. Dengan cara itu, Howard te­rus berekspansi hingga terus menjadi ke­dai kopi terbesar.

“Saya ingin bertanggung jawab atas takdir saya sendiri. Mungkin itu ke­­lemahan saya, yang selalu bertanya-ta­nya apa yang akan saya lakukan berikutnya. Tak pernah ada kata cukup,”

ujarnya. Howard juga menyarankan siapa­­pun untuk tidak berhenti bermimpi.

“Ambil risiko lebih banyak. Bermimpilah lebih sering. Gantung harapan lebih tinggi. Bersikaplah lebih bijaksana.”

pe­sannya.

Tags: , , , ,

About the Author

Tentang admin:
Forum Komunitas Online UIN yang di dirikan agar terciptanya komunikasi tanpa batasan ruang dan waktu untuk seluruh mahasiswa, mahasiswi dan dosen UIN yang ada di seluruh Indonesia.

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: