banner ad Startup UIN

Ijazah S1 itu udah ngampar

Yang nulis on di Mahasiswa | Sep 23, 2013 | 2 Comments

Memasuki minggu ketiga perkuliahan otak sudah cukup panas ternyata. Menikmati lanjutan pelajaran di kampus baru di ujung Jakarta Timur ini merasa banyak pelajaran yang kemarin di UIN banyak dilewatkan. Namanya juga kuliah baru pertama kali di S1 ya pasti banyak fase-fase yang dilewati.

Tahun Pertama, masih beradaptasi dan suka keasikan memilah dan memilih teman, genk bahkan  mungkin sibuk cari pacar baru minimal gebetan. Kuliah masih dalam taraf semangat seriusnya mau paketan SKSnya sampai 24sks juga semangat aja yang penting ke kampus, belajar, kongkow, dapet uang jajan.

Tahun Kedua, malesnya udah mulai tuh kelihatan berat banget langkah kakinya. Boro-boro langkah kaki, melekin mata aja susah kesiangan terus dan ya mulai bosen sama konflik-konflik internal kelas, bawaannya mau belajar juga udah keganggu sama gosip di kelas, kampus, sibuk sama urusan hatinya.

Tahun Ketiga, mulai dikasih jam-jam kosong ke kampus paling dapet seminggu 3 hari, saking jarangnya kadang mulai kebawa males dan mulai jenuh sama rutinitas kampus yang itu-itu aja dan ga selesai-selesai paling yang bikin enak karena bisa ketemu temen-temen aja tapi itu juga bosen kan padahal tugas kuliahnya dikasih setumpukan.

Tahun Keempat, mulai ketar-ketir mikirin diri sendiri, skripsi, temen-temen yang udah mulai pada sidang, wisuda pertanyaan dari orangtua, dan niat perjuangan kuliah benar-benar baru dimulai tahun keempat ini. Ya telat ga telat sih apalagi juga ntar banyak hembusan untuk cari pendamping wisuda.

Dan coba telisik lagi sebelum terlambat, administrasi diri kita dalam mengurus perkuliahan sama sekali ga diperhatikan karena di perkuliahan selama tahun keempat itu kita cuma sebagai seseorang yang keasikan dengan titel pengikut waktu saja tanpa kasih inovasi perubahan diri untuk mengatur waktu dan memulai semuanya sendiri.

Pelajaran yang melekat atau mungkin tersimpan rapih dalam database laptop juga ga semua tersimpan, paling yang tersimpan ya yang disuka-suka saja dan setelah lulus semua data juga cuma didiemin bahkan mungkin hilang ga sengaja kehapus. Apalagi kalau nanti kerjanya melenceng jauh dari bidangnya.

Coba sadarin, selama kurang lebih empat tahun kita cuma memampirkan badan saja ke kampus, mengistirahatkan badan di kamar tapi tidak ada ilmu yang benar-benar digenggam, diingat, yang penting lulus nilai cukup atau bagus. Ya kan?

Karena memang kita masih sibuk mengasyikan diri bukan mengurus diri di kuliah S1 itu. Dan ingat zaman semakin maju, ijazah S1 itu sudah ngamparterlalu banyak yang punya dan udah ga wah atau keren lagi itu udah biasa. Ga percaya? Coba nanti kalau ke Jobfair lihat seberapa tidak berartinya ijazah kita 😉

Dan ketika kita memutuskan untuk meneruskan studi mungkin pandangan orang terhadap kita adalah hebat tapi STOP untuk terbuai karena ketika kalian duduk di studi selanjutnya tanya sama diri sendiri, ilmu apa yang masih bisa dibawa ke kampus baru kalau di S1 administrasi ilmu diri sendiri berantakan.

Sebelum merasakan coba untuk lebih apik mengadministrasi ilmu, karena ya itu penyesalan memang ada di akhir 🙂

 

Depok, 21 September; 14.18 WIB

Silvia Ratna Juwita

Tags: , , , , , , ,

About the Author

Tentang Silvia Ratna Juwita:
Indonesian Language and Literature Education at UIN Jakarta '08; Master of Language Education at Universitas Negeri Jakarta (UNJ) '13

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top