banner ad Startup UIN

Sampah: Kalau Bisa Jadi Duit, Mengapa Harus Jadi Banjir?

Yang nulis on di Mahasiswa | Feb 1, 2014 | 0 Komentar

banjir jakarta

Banyak warga di beberapa daerah di Indonesia kini sedang menderita. Banjir yang melanda hampir tiap tahun di daerah tersebut, termasuk Ibukota, seolah-olah sudah menjadi agenda rutin yang tak dapat dihindari lagi. Ya memang, butuh waktu lama untuk membebas tuntaskan Indonesia dari bencana tahunan ini. Paling tidak secara bertahap mampu dikurangi penyebabnya. Volume sampah yang begitu menumpuk di sungai-sungai besar maupun kecil di kampung-kampung, merupakan salah satu faktor utama penyebab meluapnya air sungai ke jalanan dan perumahan. Sungai yang seharusnya menjadi tempat mengalirnya air pembuangan tersumbat oleh sampah-sampah yang memang sengaja dibuang oleh warga. Kesadaran warga akan pentingnya menjaga lingkungan sebagai langkah antisipasi bencana masih sangat rendah. Membuang sampah sembarangan seakan menjadi perbuatan dosa yang halal hukumnya, tanpa ada rasa bersalah maupun cemas akan kerusakan lingkungan setelah melakukannya.

Membangun kesadaran memang terlihat sulit, namun bukan merupakan hal yang mustahil. Buktinya adalah para warga Kecamatan Jambangan, kota Surabaya. Kota yang pernah meraih gelar adipura ini beberapa tahun belakangan ini menjadi begitu terkenal akan prestasi-prestasinya dalam menciptakan Surabaya yang bersih dan hijau. Program yang diadakan pemerintah kota dibawah pimpinan walikota kesayangan kota Surabaya, Tri Rismaharini, berhasil menyulap tumpukan sampah warga menjadi uang dan barang-barang unik yang memiliki estetika dan kegunaan. Program Surabaya Green and Clean, Merdeka dari Sampah dan yang baru-baru ini gencar disosialisasikan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, berhasil menyulap sampah warga Kecamatan Jambangan menjadi uang dan barang unik yang bermanfaat. Program-program cemerlang ini berhasil menciptakan kader-kader lingkungan yang peka dan peduli kepada lingkungannya tanpa harus diberi insentif bayaran.

Gotong royong warga dalam mengolah sampah berhasil menyulap sampah menjadi uang di tempat yang bernama Bank Sampah. Bank Sampah ini mekanisme sama persis seperti Bank-bank uang pada umumnya, namun bedanya disini yang ditransaksikan adalah sampah kering seperti plastik, sterofoam, kertas dan sebagainya. Tiap rumah sudah memisahkan sampah menjadi sampah kering dan sampah basah, lalu setiap hari Minggu akan disetorkan ke Bank Sampah untuk diolah dan dijual kepada Bank Sampah Pusat. Bank Sampah ini juga memiliki struktur pegawai layaknya Bank-bank pada umumnya. Hasil yang cukup mengejutkan adalah, omzet Bank Sampah di RT 7 RW 3 Kecamatan Jambangan ini mencapai 12 Juta selama dua tahun. Bayangkan! Uang 12 juta itu adalah sampah yang biasanya kita buang sia-sia di sungai-sungai. Sampah bukan menjadi penyebab banjir, justru menjadi uang. Lalu bagaimana dengan sampah basahnya? Sampah basahnya pun juga diolah menjadi pupuk kompos menggunakan komposter yang dibuat sendiri secara sederhana. Alih-alih menumpuk di sungai, sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Selain itu, di kampung ini air limbah bekas wudlu juga dimanfaatkan sebagai air untuk menyirami tanaman. Hampir setiap hari kampung ini menerima kunjungan tamu dari berbagai propinsi di Indonesia, bahkan tamu asing dari Asia Tenggara, Jepang dan negara lainnya. Andai, program seperti ini dapat diterapkan di kota-kota lain sehingga masalah sampah yang meresahkan dapat ditangani secara bertahap. Tidak sulit kok menumbuhkan kesadaran, asal ada kemauan untuk meluangkan waktu dan tenaga untuk memisahkan sampah basah dan kering serta mengolahnya menjadi uang dan barang yang bermanfaat. Keuntungan lainnya adalah, untuk melakukan langkah nyata mengurangi sampah ini tidak membutuhkan biaya besar. Cukup bermodal keterampilan dan kreativitas sehingga sampah dapat disulap menjadi barang-barang cantik dan berguna seperti tas, sandal, taplak meja bahkan baju. Bahkan, sudah banyak warga yang kreatif mendapat pesanan dari luar negeri. Sampah yang biasanya menyumbat sungai, kini malah menjadi barang ekspor. Selain itu, kegiatan-kegiatan seperti ini otomatis menjadi sarana berkumpul warga sehingga dapat mempererat silaturahmi antar warga.

            Sayangnya, program cemerlang yang memang kita butuhkan saat ini masih dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia saja, belum merata. Harusnya program-program ini dapat disosialisasikan lebih gencar lagi hingga ke tingkat nasional. Untuk memancing semangat warga, pemerintah nasional harusnya mulai menggalakkan program ini bahkan jika perlu dilombakan secara nasional agar semarak. Akan sangat menarik jika pemerintah mengadakan lomba Bank Sampah Nasional atau lomba Merdeka dari Sampah Nasional. Dengan begitu, semua warga akan secara aktif terlibat dalam upaya nyata pengurangan sampah. Sampah tak lagi menjadi penyebab banjir, justru menjadi sumber tambahan penghasilan. Kerugian milyaran rupiah serta korban meninggal akibat bencana banjir ini benar-benar menjadi desakan bagi kita semua untuk bergerak dan melakukan sesuatu yang dapat dimulai dari diri sendiri. Membiasakan diri sayang kepada lingkungan memang sulit, namun bukan hal mustahil. Masalah lingkungan tidak dapat dinomorduakan karena tanpa lingkungan yang nyaman, aktivitas ekonomi akan lumpuh dan menjalar kepada masalah-masalah sosial lainnya. Hidup pun menjadi lebih sehat bebas dari sampah. Alam senang, hati pun riang.

Mahasiswa UNESA belajar mengolah sampah di Bank Sampah

Mahasiswa UNESA belajar mengolah sampah di Bank Sampah

 

 

Kader Lingkungan dan hasil karya olahan dari sampah yang dipamerkan saat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup

Kader Lingkungan dan hasil karya olahan dari sampah yang dipamerkan saat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup

Tags: , , , ,

About the Author

Tentang farahchaliq:


rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top