banner ad Startup UIN

Carut Marut Dinasti Politik

Yang nulis on di Politik | Mar 6, 2014 | 0 Komentar

Karikatur-Politik-Dinasti

sumber: matanews.com

“Politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih jauh dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rasulullah S.A.W”. (Ibnu Aqil)

Jika  berbicara tentang kata “politik” maka tidak akan pernah habis untuk kita membahasnya. Terasa begitu istimewa kata ini ditelinga kita bahkan panca indera kita lainnya.  Ya, kata “politik” mungkin tak bisa kita hapuskan dalam keseharian kita, karena kehidupan kita berjalan berdampingan dengan sepenggal kata ini. Politik sudah ada sejak nenek moyang kita ada, runtuhnya khalifah Islampun salah satu karya besar dari politik itu sendiri, tak heran jika kata “politik” begitu popular dan familiar hingga kini. Pergantian kepemerintahan bangsa pun tak luput dari unsur politik, hancurnya rezim orde lama disusul hadirnya orde baru, dan lahirnya reformasi juga tak luput dari begitu kuatnya politik mengakar dalam tubuh Ibu Pertiwi.

Lalu timbul saat ini kata “dinasti politik” di Tanah Air. Dinasti politik seakan cambukan bagi rakyat kita ditengah limpahan bencana dan musibah yang serempaak di seluruh wilayah nusantara. Setelah mulai menjamurnya para selebritis maju menjadi petarung dalam turnamen politik. Krisis moral mungkin tepat diungkapkan akan situasi dimana para pejabat masih sungkan memakan uang rakyat. Tak wajar lagi, kini mereka dibantu oleh sanak keluarga dan kerabat dekat guna meraup keuntungan demi keuntungan, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Itulah mungkin asumsi masyarakat luas tentang lahirnya sebuah dinasti politik. Tentunya dengan kehadirannya menambah semakin banyak kajian, pembahasan, hingga perdebatan yang dilahirkan oleh si “dinasti politik’ ini. Bahkan mungkin menambah sempurnanya penyakit bangsa ini.

Politik berasal dari bahasa Yunani yaitu polis yang berarti Negara kota. Secara etimologi kata politik masih berhubungan erat dengan kata politis yang berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik.  Menurut Prof. Miriam Budiardjo, politik adalah bermacam-macam keegiatan yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan dan pelaksanaan tujuan itu. Politik membuat konsep-konsep pokok tentang Negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision marking), kebijaksanaan (policy of beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).

Demokrasi Indonesia memulai babak baru dan membukukan sejarah nan mengagumkan dengan lahirnya sebuah dinasti kekuasaan. Dinasti mewah dengan koleksi mobil yang mempesona, dinasti hebat yang terdiri dari keluarga dan kerabat.  Itulah dinasti sang Ratu, Gubernur Wanita Pertama di Indonesia. Mungkin banyak kasus dinasti politik yang dibangun dalam tubuh partai politik di Indonesia, tapi mengapa politik dinasti Banten mengitu heboh dan meriah? Mungkin karena media begitu intens menampilkan beritanya. Patut dibanggakan pula peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menangani dan mempermasalahi kasus ini.

Pakar komunikasi politik Tjipta Lesmana berpendapat dinasti politik secara teoritis sah-sah saja, asal saja memiliki kemampuan dan kecakapan dalam memimpin. Tapi praktiknya, dinasti politik di Indonesia justeru bersifat jahat.”Di Indonesia, dinasti kerajaan ini sangat jahat. Dampaknya luar biasa buruk. Mereka bisa main sana sini. Bukan hanya main politik, yang lebih jahat lagi main bisnis,” ujar Tjipta kepada wartawan di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Rabu (16/10/2013)[1].

Tjipta mencontohkan, fenomena mutakhir dinasti politik Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah yang terungkap lewat media massa bahwa keluarganya ikut menjalankan begitu banyak proyek yang jumlahnya 175 dengan nilai hampir Rp 2 triliun. “Itu dikuasai semua oleh mereka. Langsung atau tidak langsung, ini memang sangat buruk. Dinasti politik, lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya. Maka saya sangat setuju itu harus dilarang. Caranya harus dalam bentuk peraturan perundang-undangan,” kata Tjipta.

Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) bekerjasama dengan Lembaga survey asal Wangshinton DC, IFES diperoleh data masyarakat memiliki prespektif buruk terhadap politisi dinasti yang dibangun keluarga tertentu.  Sebesar 30 persen responden yang kontra akan hadirnya dinasti politik mengungkapkan bahwa skema politik tidak baik bagi bangsa yang menganut demokratis. Lalu 26 persen responden khawatir adanya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terjadi, dan sebanyak 13 persen lainnya menyatakan hanya mementingkan kepentingan sendiri dibanding kepentingan rakyatnya. Dan itulah tren dewasa ini dimana politisi baru dari satu keluarga maju untuk meraih posisi di panggung politik.[2]

Menurut pengamat politik Kartono Wibowo yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Riset Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) dalam arikel yang dimuat Majalah Gatra menyimpulkan , bahwa dinasti politik ialah demokrasi super pasar bebas sehingga melahirkan demokrasi “wani piro” dan dampak lain dari sistem ini hilangnya nilai budaya-budaya bangsa, seperti malu atau tepo saliro, musyawarah mufakat, dan gotong royong.

Dan mungkin akan panjang lagi argumen-argumen dari para pakar politik yang tercatat mengenai peran dinasti politik ini. Begitulah politik selalu melahirkan gejolak dimana-mana dan berakibat hebat bagi banyak manusia. Layaknya sebuah pisau, dia bermanfaat bagi ibu rumah tangga untuk memasak, dan buruk jika dalam genggaman para perampok. Tinggal bagaimana manusia itu memakai alat “politik” itu sendiri. Ingin berbuat baik atau berlaku munafik. Pelajaran yang kita peroleh dari mahakarya dinasti politik ini yakni, harus adanya undang-undang tentunya yang mengatur agar tidak ada lagi keluarga maupun kerabat yang berpolitisi secara bersamaan. Karena kita lihat begitu banyak dampak negatifnya dibangdingkan dengan dampak positif.

Perkara politik tak akan habis sampai disini, karena tak akan mampu kita membumihanguskan kata politik dari muka bumi ini. Layaknya air yang terus mengalir dari hulu menuju hilir itulah politik. Politik selalu menyuguhkan drama yang penuh intrik, menyajikan problematika penuh kritik, mungkin pula membudayakan  kesedihan dan kedzhaliman yang mengusik, lahir dari aktor kondang diatas panggung partai yang penuh polemik. Tapi tak selalu politik terasa negatif. Masih dapat kita jumpai tokoh politisi yang begitu inspiratif, memiliki visi nan inovatif, menjabat dengan bijaksana dan arif. Mungkin rakyat memanggilnya manusia setengah dewa. Tidak salah memang, karena manusia kini kian jauh dari esensinya  sendiri sebagai manusia.

“Panggung politik akan selalu ada. Dan orang-orang akan selalu meramaikannya. Ceritanya terkadang membosankan terkadang menyenangkan. Kisahnya terkadang baik, terkadang buruk. Aktifitasnya terkadang menguntungkan terkadang merugikan. Pengaruhnya terkadang menguasai segalanya, terkadang segalanya menguasainya. Itulah politik, dan apapun itu kami hanya berharap yang terbaik”

 

 


[1] http://www.tribunnews.com/nasional/2013/10/16/pengamat-dinasti-politik-indonesia-jahat

[2] Sumber:Kompas.com

Tags: , , ,

About the Author

Tentang Fadhiel Van Rese:
I am is @fadhiel_vr. Just Un-Special One. Part of @uinjakarta @racanauinjkt @umatmuhammadcom & @dkcjees. -- BE what you want to BE --

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: