banner ad Startup UIN

Semua yang di-edit dari sejarah Perang Dunia Bab 6/12

Yang nulis on di Jasmerah | Mar 2, 2014 | 0 Komentar

MITOS RENCANA PEMBUNUHAN MASSAL YAHUDI

Pada Agustus 1933, Reich Economich Ministry (Kementrian Ekonomi Jerman) dibawah Hjalmar Schacht, menanda-tangani nota kerja-sama bilateral antara Jerman Third Reich dengan Jewish Agency (organisasi embrio cikal bakal pembentukan pemerintahan negara Israel Raya di Palestina). Jewish Agency yang diwakili oleh Chaim Arlosoroff, berhasil membuat kesepakatan kerja-sama yang dikenal dengan sebutan “MOU Haavara” yang dalam bahasa Ibrani berarti “Relokasi”.(20)

Reich Economic Ministry juga membentuk perusahaan kerja-sama bilateral dengan Tel Aviv yang dinamakan INTRIA (International Trade & Investment Agency), yang digunakan sebagai “Escrow Account” (rekening penampung) bagi jaringan pengusaha Yahudi Eropa untuk menyalurkan sumbangannya kepada warga Jerman turunan Yahudi agar mau emigrasi ke Palestina. Selama beroperasi, INTRIA mencatat penyaluran sumbangan sebesar US$900.000 dari pengusaha Yahudi kaya Eropa ke Palestina.”(21)

Selama 26 September sampai dengan 9 Oktober 1934, surat kabar propaganda Nazi “Der Angriff” menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “Ein Nazi Fahrt Nach Palastina”, yang menceritakan pengalaman Leopold von Mildenstein, seorang perwira Sicherheitsdienst (SD), Kepolisian Negara Jerman dibawah SS, yang tinggal di Palestina selama 6 bulan. Dalam artikel ini, von Mildenstein menceritakan kekagumannya kepada koloni Yahudi di Palestina, dan memuji prestasi dan semangat para emigrant Yahudi dari Eropa yang kini tinggal disana. Joseph Goebbels, Perdana Menteri Jerman, sampai memberikan penghargaan berupa medali kepada von Mildenstein, dalam jasanya melancarkan upaya emigrasi yahudi-Jerman ke Palestina.(22)

Reinhard Heydrich, pimpinan tertinggi SD, menulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam surat kabar “Das Schwarze” terbitan 15 Mei 1935, “Waktunya tidak terlalu lama sebelum Palestina akan menerima putra-putranya yang telah hilang selama ribuan tahun. Harapan dan itikad baik kami akan selalu menyertai mereka.”(23) Dukungan GESTAPO kepada program emigrasi Yahudi-Jerman ke Palestina ini juga diungkapkan oleh Dr. Hans Friedenthal, ketua Federasi Zionis Jerman / Zionistische Vereinigung fur Deutschland (ZVfD) pada sebuah artikel di harian “Judische Rundschau” pada bulan yang sama, “komunitas Yahudi-Jerman telah mendapat semua yang mereka butuhkan dari GESTAPO untuk apapun yang berhubungan dengan persiapan emigrasi ke Palestina.”(24)

Pada 9-10 November 1938, terjadi kerusuhan di hampir seluruh wilayah Jerman, berupa aksi perusakan, pembakaran toko-toko dan tempat ibadah Yahudi, yang dipicu oleh pembunuhan Duta Besar Jerman di Paris, Ernst von Rath oleh seorang Yahudi-Prancis muda bernama Herschel Grynszpan, yang membalas dendam perlakuan tidak adil terhadap keluarganya. Berdasarkan versi umum sejarah yang ditulis oleh sejarawan-sejarawan komersil dalam daftar gaji media mainstream, Malam yang dikenal dengan sebutan “Kristallnacht” (malam pecahan kaca), disebutkan 1099 Yahudi tewas, 30.000 yahudi dibawa ke Kamp Konsentrasi, 1.668 Sinagog dirusak, dan 200 dibakar, tapi tidak seperti itu kenyataannya. Peneliti dan sejarawan Ingrid Weckert melakukan penyelidikan komprehensif mengenai malam naas tersebut, dan menemukan banyak diskrepansi, rekayasa, bahkan kebohongan total dalam penulisan sejarah Kristallnacht.

Surat perintah No.174/38 diterbitkan oleh Rudolf Hess pada 10 November 1938, “Kepada seluruh Markas Gaulaiter (walikota) untuk segera mengambil tindakan. Mengulang Telex pada tanggal 10 November 1938). Atas perintah seluruh Jajaran Tinggi, memerintahkan: pembakaran tempat-tempat usaha Yahudi, dan sejenisnya tidak boleh terjadi dalam situasi dan kondisi apapun.” Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Weckert, dalam sebuah laporan “Situasi di Lapangan” yang diterbitkan Satgas Partai Nazi Sturm Abteilung (SA) disebutkan Komandan SA Viktor Lutze telah memerintahkan seluruh satgas SA untuk mencegah terjadinya perusakan harta benda milik warga Yahudi-Jerman oleh para demonstran Anti-Semit. Weckert juga menemukan sebuah telegram yang disimpan di Bundesarchiv (Pusat Arsip Jerman), yang diterbitkan oleh Heinrich Himmler sebagai Reischsfuhrer (Pimpinan Tertinggi SS) kepada Reinhard Heydrich pimpinan tertinggi SD (Kepolisian Negara Jerman), yang berisikan perintah untuk menghentikan aksi demonstrasi, dan membantu melindungi warga Yahudi-Jerman dari kekerasan.(25)

Pada akhir penyelidikan, Weckert memberikan jumlah 180 Sinagog terbakar, 7.500 jendela hancur, 36 yahudi tewas, 36 terluka, 20.000 Yahudi-Jerman diberikan perlindungan oleh Kepolisian SD, dan 174 penjarah ditangkap. Weckert yakin bahwa malam Kristallnacht diciptakan untuk mendorong warga Yahudi-Jerman untuk mau emigrasi ke Palestina.

Namun program relokasi warga Yahudi-Jerman baru benar-benar dilakukan secara efektif dan sistematis ketika tugas tersebut dibebankan kepada Obersturmbannfuhrer Adolf Eichmann, tangan kanan Reinhard Heydrich di Dinas Kepolisian SD. Pada tahun 1938, Eichmann mendirikan 32 kantor departemen “Die Enlosung der Juden Frage” (Solusi bagi pertanyaan Yahudi) di seluruh Jerman, Austria dan Bohemia/Moravia (Cekoslovakia). Dengan tugas yang diemban: adalah mensukseskan program emigrasi Yahudi-Jerman ke Palestina. Melalui kantor-kantor inilah, Eichmann mengkoordinir emigrasi warga Yahudi Eropa, dan mengirim mereka ke “tanah yang dijanjikan” melalui laut menggunakan kapal-kapal Jerman.(26)

Pengiriman yahudi ke Palestina oleh Eichmann dilakukan dari 1938 sampai masa akhir perang tahun 1944. Kapal-kapal tersebut berangkat dari pelabuhan Hamburg menuju Haifa dibawah pengawasan Dewan Rabbi Hamburg. Selama 1938-1939, tercatat sebanyak 10.000 orang yahudi dengan sukses diemigrasi dengan cara tersebut. Mulai Oktober 1941, kapal-kapal emigran Yahudi ke Palestina menempuh rute melalui Portugal dikawal oleh armada kapal perang Jerman, seiring dengan meningkatnya eskalasi perang antara Jerman dan Inggris. Tanggal 3 Agustus 1944 tercatat sebagai kloter terakhir dari kapal pengangkut emigran Yahudi ke Palestina, berangkat dari pelabuhan Constance, Bulgaria, sebelum Jerman kalah perang setahun kemudian.(27)

Reich Economic Ministry menyalurkan pengalihan kekayaan warga Yahudi dari Jerman ke Palestina sebesar 139,57 juta Reichsmark yang dikompensasi oleh pengiriman berbagai macam produk non-perang dari pabrik-pabrik di Palestina untuk membantu logistik Jerman selama masa perang. Departemen Solusi Masalah Yahudi Eichmann mencatat emigrasi sukses 70.000 warga yahudi dari wilayah Jerman, Austria & Cekoslovakia ke Palestina sepanjang tahun 1938 s/d 1944. Rabbi Agung Berlin, Dr. Isaak Goldstein menulis dalam memoirnya yang kemudian diterbitkan menjadi buku, “Kami berhutang untuk mengatakan kebenaran, bahwa lebih dari 30.000 Yahudi telah dikirim dengan izin Komando Tertinggi Jerman, menggunakan kapal-kapal, melalui Suriah, untuk memasuki Tanah Suci”(28)

SUMBER:
(20 & 24) “The Third Reich and the Palestine Question” (University of Texas), Francis Nicosia
(21) “The Transfer Agreement” (MacMillan, New York), Edwin Black
(22) “A Nazi Travels to Palestine” (History Today), Jacob Boas
(23) “Israel’s Langer Arm” (Govets, Frankfurt), Janusz Piekalkiewicz
(25) “Feuerzeichen: Die Reichskristallnacht” (Grabert) Inggrid Weckert
(26) “The Secret Roads” (Secker & Warburg, London), Jon and David Kimche
(27) “Zionism in the Age of the Dictators” (London’s Croom Helm), Lenni Brenner
(28) “Die Geschicte des Rabbi Goldstein in Berlin” (Heos Publisher, Paris), Goegette Goldstein-Laczko

Tags: ,

About the Author

Tentang mincol:
suka ngetweet seenaknya via @dimsumon. punya cita-cita kerja di NASA, lagi berdoa buat naik gaji biar cepet naik haji.

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: