banner ad Startup UIN

Secuap Kata Untuk Kebun Kita

Yang nulis on di Mahasiswa | Mei 19, 2014 | 0 Komentar

Ada satu hal yang membuat saya bertanya ketika melihat beberapa kicauan akun di media social dari beberapa bahkan hampir semua mahasiswa agribisnis UIN Jakarta. Satu topik dalam kicauan tersebut yaitu tentang kebun praktikum program studi Agribisnis. Memakai hastag #SaveKebunAgri, kicauan ini dimulai melalui kuliah twitter yang dilancarkan oleh akun official himpunan mahasiswa jurusan Agribisnis dan membuat beberapa akun pribadi pada media social yang sama turut bergabung dan menyuarakan aspirasi yang sama terkait hal tersebut. Suara-suara tersebut hampir semuanya berisi kekecewaan dan protes keras atas kebijakan yang dinilai tidak mencerminkan sebuah lembaga pendidikan.

Secuap Kata Untuk Kebun Kita

Mencoba mengamati apa yang terjadi, saya melihat bagaimana proses protes yang terlihat elegan ini berjalan. Dimulai dengan permasalahan bagaimana kebun praktikum yang selama ini menjadi tempat pembelajaran mahasiswa agribisnis diusik oleh pemberitaan tentang akan dibangunnya pusat studi kebudayaan Cina di atas lahan seluas kurang lebih 3000m2 tersebut. Diperkuat dengan dimulainya pemerataan lahan dengan menggunakan alat berat sejak seminggu lalu.

Sebenarnya, pemberitaan mengenai alih fungsi lahan praktikum menjadi lahan komersil ini sudah beberapa kali mencuat dari beberapa tahun lalu, seperti yang pernah diberitakan oleh tabloid INSTITUT edisi X Desember 2010 dan menjadi laporan utama dengan judul “Kebun Praktikum Agribisnis FST Lahan Komersial”. Dalam pemberitaan tersebut bahkan diceritakan lahan praktikum ini sebelumnya diminati oleh pertamina untuk dijadikan pom bensin dan juga oleh salah satu toko buku terkenal dalam pemanfaatannya. Lebih jauh lagi statement yang dikeluarkan oleh salah satu petinggi Universitas ini bahwa kebun tersebut kurang maksimal untuk praktik, lebih bagus untuk wilayah komersial sehingga memberikan kontribusi ke UIN.

Jika demikian benar maka saya mulai bertanya mengenai fungsi universitas, apakah sebagai lembaga pendidikan atau hanya lembaga komersil yang mencari keuntungan dengan mengabaikan fungsi lainnya. Tidak sampai disitu, saya juga sempat mempertanyakan jika memang kampus ini konsen dalam membangun sumber daya manusia lewat fungsi pendidikannya, maka seharusnya ketika ada pengalihan lahan pendidikan produktif menjadi lahan komersil tidak serta merta abai akan fungsi awalnya. Penekanan abai disini saya pertegas dengan ketidakpastian lahan pengganti untuk praktikum setelah lahan yang ada sudah hancur dan rata tanpa menyisakan apapun, bahkan tanaman yang seharusnya bisa dipanen bulan depan dari hasil praktikum.

Ketidakjelasan lahan pengganti ini sangat kentara ketika saya juga membaca kicauan balasan dari sang pimpinan kampus ini mengenai masalah kebun praktikum lewat akun media sosial. Pertama pada tanggal 09 mei pukul 06.06 AM WIB, pernyataan bahwa UIN punya tanah 40 ha di daerah Cikuya Tangerang yang bisa dimanfaatkan menjadi laboratorium Agribisnis. Kedua pada tanggal yang sama pukul 06.09 AM WIB, UIN menyediakan lahan seluas 20 ha di daerah tersebut untuk dijadikan laboratorium agribisnis dan meminta supaya dibuat studi kelayakannya. Ketiga masih pada tanggal yang sama pukul 10.36 AM WIB, tersedia tanah di Ciputat untuk dijadikan laboratorium Agribisnis dan beliau meminta jangan khawatir. Keempat juga masih pada tanggal yang sama pukul 10.47 AM WIB, pihak UIN sedang mencari tanah yang luas dengan harga terjangkau di sekitar Cinangka, untuk dijadikan kebun permanen.

Dari beberapa statement diatas saya kira ini sama sekali tidak mencerminkan adanya kesungguhan dalam pencarian solusi atas permaslahan. Inkonsistensi dalam setiap ucapan yang saling berurutan lebih memperlihatkan sebuah kepanikan akibat banyak tuntutan. Saya kira memang wajar jika ada kepanikan, karena memang mereka tidak mempunyai solusi yang konkrit dan pada sisi yang sama ketakutan jika terjadi hal-hal diluar dugaan yang dilakukan oleh mahasiswa agribisnis. Ketakutan seperti aksi demonstrasi dan pemblokiran acara peletakan batu pertama misalnya. Tapi perlu diketahui, mahasiswa agribisnis diajarkan dalam setiap training organisasi oleh himpunannya bagaimana berekspresi dengan elegan. Elegan dengan mengedepankan nilai-nilai musyawarah, namun jika hal itu tidak diindahkan maka hanya ada satu kata LAWAN!!!!.

Masih mengomentari kicauan dari sang Professor di atas, jujur saya sangat kecewa karena ketika kebun praktikum sudah diratakan mereka baru mencari lahan pengganti. Dari yang tidak logis karena jarak seperti di Cikuya, Tangerang. Saya membayangkan ketika mahasiswa agribisnis kuliah di Ciputat dan harus praktikum di Cikuya dengan jarak berkendara pribadi sekitar tiga jam atau naik kereta sekitar dua jam, dan ini tidak efektif serta terkesan kurang ajar. Juga ketika ditawarkan lahan didaerah Ciputat yang menurut beberapa sumber masih belum layak untuk dijadikan kebun praktikum dengan alasan luas lahan yang tidak memadai, tidak ada sumber air, listrik, saung tempat belajar dan lokasi penyimpanan alat-alat praktikum.

Sudahlah, saya kira tidak berguna juga menulis seperti ini ditengah janji audiensi yang diabaikan. Di tengah lembaga pendidikan yang ternyata tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena masih memikirkan keuntungan dari lahan Negara dan mengabaikan fungsi-fungsi lain yang tentunya esensial. Di tengah Universitas yang lebih mengedepankan popularitas. Ingat, jangan pernah berani mengusik mahasiswa pertanian, kami diam bukan berarti kami tidak melakukan apa-apa.

#SAVEKEBUNAGRI

@Jazilmustofa

Tags: , , , ,

About the Author

Tentang AhmadJazilil:


rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: