banner ad Startup UIN

KAMPUSKU, KAMPUS ANDA, KAMPUS KITA

Yang nulis on di Mahasiswa | Nov 25, 2014 | 0 Komentar

Judul tersebut disadur dan dianeksasi dari sebuah buku yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab disapa Gus Dur dengan judul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Seorang cendikiawan Muslim terkemuka dan Ulama Besar bagi seluruh ummat karena faham pluralismenya yang kental serta merupakan mantan Presiden ke-4 Republik Indonesia. Lebih tepatnya, buku ini merupakan kumpulan essai yang beliau tulis, dan judul buku tersebut juga diambil dari salah satu artikel beliau yang menarik para pembaca.

Lantas, apa korelasinya dengan Kampus?

Bukankah Islam memiliki aspek yang lebih luas daripada kampus?

Dalam catatannya , Soe Hok Gie pernah menulis :

“ Kampus adalah gambaran kecil Negeri ini..”

Ya, civitas kampus terdiri dari berbagai suku, bahasa, ideologi bahkan Negara. Semua melebur dalam lingkup yang kini kita pijak. Memperjuangkan semua keyakinan dan keinginan yang berbeda-beda. Namun, semua itu harus kembali pada satu muara, yaitu untuk apa mereka berjuang. Pertanyaan ini menarik dibahas. Terlebih melihat realitas klasifikasi intern kampus yang seakan terkotak-kotakan oleh idealisme yang berbeda.

Dalam tulisannya, Gus Dur merepresentatifkan Islamku, sebagai pola pandang atas pengalaman tentang ke-khas-an Islam yang begitu memukau dirinya. Membuatnya semakin cinta akan keindahan khazanah tersebut. Namun hanya mampu ditangkap oleh dirinya, dan sekaligus kesamaan pengalaman dengan orang lain yang menangkap hal tersebut sebagai sebuah keindahan. Dalam kampus, setiap mahasiswa pun memiliki gambaran tersendiri. Baik mengenai hal yang menurutnya menarik ataupun tidak, yang dianggapnya baik maupun sebaliknya. Semua didasarkan oleh sejauh mana ia mengenal kampusnya. Karenanya, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan satu personal, hanya karena ia melakukan hal yang menurut kita tidaklah sesuai dengan pemikiran kita. Karena cara pandang atas konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi, antara satu mahasiswa dengan yang lainnya pastilah berbeda. Dan rasa pandangan inilah yang menjadi Kampusku.

Ketidaksiapan atas perbedaan cenderung membuat kita semakin fanatis. Ibarat kanvas yang tidak memiliki warna lain, membuat lukisan yang terbuat hanya memiliki satu warna. Demikian halnya kampus, lika-liku kampus hendaklah menjadi sebuah lukisan yang indah untuk dipandang. Warna-warni goresan kanvas sejatinya haruslah sepadan. Tidak cenderung terhadap kesepihakan. Dan dengan perbedaan itulah, yang hendaknya membuat toleransi yang kokoh antar berbagai pihak. Dengan tidak mengemukakan satu golongan merasa lebih baik dari yang lain, bahkan cenderung memaksakan. Allah telah berfirman:

“ Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan”. (Q.S. al-Maidah/5:48).

Dengan demikian, perbedaan dalam konsep pemahaman antar mahasiswa patut difahami sebagai sebuah keindahan. Perbedaan pola pandang inilah yang apabila tidak difahami bersama menjadi Kampus anda.

Hendak dibawa kemana bahtera kemajuan kampus bisa ditentukan oleh sejauh mana kita menentukan nahkoda. Memilih suatu pilihan adalah sunnatullah. Semua yang kita hadapi dan rasakan juga merupakan hal yang sebelumnya kita pilih. Kalaupun tidak kita memilihnya, pastilah itu merupakan pilihan Sang Maha Kuasa. Karena memilih adalah mutlak. Dan tidak memilih pun adalah suatu pilihan.

Memang tidak ada jaminan untuk bisa ‘mensejahterakan’ mahasiswa apabila yang terpilih menjadi bagian dari sang pemegang kendali. Namun, menjadi bagian dari demokrasi kampus merupakan hal yang dipandang penting. Terlepas dari apapun background kita, persatuan haruslah dijunjung tinggi. Karena perjalanan bukan hanya disini saja. kedepannya, masih banyak sekali yang harus dikerjakan. Keharmonisan haruslah dipertahankan, walaupun seandainya belum ditakdirkan untuk mengabdi pada sektor ini.

Kesulitan untuk menemukan Kampus Kita bisa ditemukan titik temunya, apabila semua mau dan siap menerima perbedaan dan berjiwa besar ketika Tuhan belum berkehendak atas niat tulusnya. Membuka pintu toleransi dengan menggaet semua pihak, dan menyatakan diri hanya merasa menjadi Abdi bagi seluruh golongan.

“Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah “the happy selected few” yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus juga menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya.”. –GIE-

Selamat berdemokrasi !

bilik-suara-470x312

Tags: , , , , ,

About the Author

Tentang Iyan:
Bercerita dalam rasa, berjuang dengan asa, berkata melalui tinta..

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: