banner ad Startup UIN

‘Aad dan Mukjizat Al-qur’an

Yang nulis on di Jasmerah | Des 17, 2014 | 0 Komentar

Iram Of The Pillars

 

Kaum ‘Aad Adalah Bangsa Ad-lantis (Atlantis)

Seorang Raja besar pernah hidup dan membawa pengaruh besar terhadap peradaban terdahulu, dia disebut ‘Shedd Ad Ben Ad’ atau ‘Shed Ad bin Ad’. Dia penduduk pertama negara Arab yang dikenal dengan sebutan ‘Adites’ berasal dari nenek moyang mereka yang disebut kaum Ad, cucu Ham.

Adites mungkin adalah manusia Atlantis atau ‘Ad-lantis‘. Menurut Lenormant dan Chevallier dalam bukunya ‘Ancient History of the East’ disebutkan bahwa mereka telah dibentuk oleh seorang raja, kaum Ad diduga berasal dari timur laut. Dia menikahi seribu wanita, memiliki empat ribu anak dan hidup selama 1200 tahun. Setelah kematiannya, anaknya Shadid dan Shedad memerintah berturut-turut di kerajaan Adites. Pada saat kedua turunan Ad memimpin seribu suku yang masing-masing terdiri dari beberapa ribu pria, maka terjadi penaklukan besar dikaitkan dengan penundukan Shedad. Semua orang-orang Saudi dan Irak migrasi dari Kanaan, mereka berdiri di Suriah dan invasi Mesir juga dikaitkan dengan ekspedisi Shedad.

Shedad telah membangun istana yang dihiasi dengan kolam yang luar biasa dan dikelilingi oleh taman yang megah, sebuah istana yang disebut Irem. Istana itu dibangun Shedad dan disebutkan telah meniru keindahan surga di langit. Dengan kata lain, seorang Raja besar dan kuat di zaman kuno, memuja matahari, menaklukkan ras dan sebagai bangsa yang pertama kali menyerbu Arab. Mereka adalah bangsa Ad-lantis, dimana Raja-nya mencoba untuk membuat sebuah istana dan taman Eden.

Adites diingat orang Arab sebagai ras besar dan beradab, digambarkan sebagai laki-laki bertubuh raksasa, kekuatan ras-nya mampu memindahkan blok besar batu. Ras mereka merupakan arsitek dan pembangun, mengangkat monumen kekuasaan, sehingga orang-orang Arab saat ini masih ada yang menyebut sisa reruntuhan situs sebagai ‘Bangunan Adites’.

Bangsa Adites pertama telah punah akibat banjir besar dan diteruskan oleh ras Adite kedua. Mungkin mereka telah lolos dari banjir besar Nuh, dimana pusat kekuasaan selanjutnya berada di Sheba dan bertahan selama seribu tahun. Adites digambarkan pada monumen Mesir sebagai ras merah, kuil besar mereka adalah piramida Mesir. Bangunan mereka memiliki serambi bertiang dengan kolom berselubung berhiaskan emas atau perak. Pada ornamen dan kerangka pintu diletakkan piring emas dengan batu mulia.

Adites menyembah Dewa orang-orang Fenisia tapi ada sedikit perubahan, agama mereka mengutamakan matahari dimana awalnya agama tanpa gambar, tanpa penyembahan berhala, dan tanpa imamat. Mereka menyembah matahari dari puncak piramida Mesir dan percaya pada keabadian jiwa. Ada kemiripan tradisi ini dengan budaya Atlantis, Kekaisaran Etiopia yang pada  awal sejarah menguasai dari Kaukasus hingga ke Samudera Hindia, dari pantai Mediterania hingga ke Sungai Gangga, mereka merupakan Kekaisaran dari Dionysos yang juga sama dengan Kerajaan Ad-lantis.

Bahasa kaum yaitu El Eldritis, bahasa lisan paling lembut dan manis yang masih digunakan sampai hari ini dikalangan orang Arab Mahrah di Timur Saudi.

Kebinasaan Kaum Ad pada masa Nabi Hud AS

Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong(lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal diantara mereka. (QS. Al-Haaqqah: 6-8)

Kaum lain yang dihancurkan dan disebutkan dalam berbagai surat dalam Al-Qur’an adalah kaum ‘Ad yang disebutkan setelah kaum Nuh. Nabi Hud yang diutus untuk kaum ‘Ad memerintahkan kepada kaumnya , sebagaimana yang telah dikerjakan oleh para nabi, untuk beriman kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dan mematuhinya ( Hud) sebagai Nabi pada waktu itu. Orang-orang menanggapinya dengan rasa permusuhan terhadap Hud. Mereka menuduhnya sebagai orang yang kurangajar, penuh dengan kebohongan dan berusaha untuh mengubah sistem yang telah berlangsung sejak para pendahulu mereka.

Dalam Surat Hud semua hal yang terjadi antara Hud dengan kaumnya diceritakan secara detail :

Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Hud. Ia berkata;”Hai kaumku,sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?. Dan (dia berkata);”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” Kaum ‘Ad berkata;”Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perbuatanmu, dan kami tidak akan sekali-kali mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab; ‘seungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawwakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku diatas jalan yang lurus.” Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhamku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) ari azab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menantang(kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Hud itu.( QS Hud 50-60).

Surat lain yang menyebutkan tentang kaum ‘Ad adalah surat Asy- Syu’araa’. Dalam surat ini ditekankan sifat-sifat dari kaum ‘Ad. Menurut surat ini kaum ‘Ad adalah “orang-orang yang membangun tanda-tanda/monumen disetiap tempat yang tinggi” pan para anggota sukunya “membangun gedung-gedung yang indah dengan harapan mereka akan hidup didalamnya (selamanya)”. Disamping itu, mereka mengerjakan kerusakan/kejahatan dan berkelakuan brutal. Ketika Hud memperingatkan kaumnya, mereka mengomentari kata-katanya sebagai “kebiasaan kuno”. Mereka sangat yakin bahwa tidak ada hal yang akan terjadi terhadap mereka;

Kaum Hud telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka ;Mengapa kamu tidak bertaqwa. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul; keperccayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (didunia?). Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan bengis. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, ssungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. Mereka menjawab ;”Adalah sama saja bagi kami, adakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan di”azab”. Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.(QS Asy Syu’araa’ 123-140).

Kaumnya yang menunjukan permusuhan kepada Hud dan memberontak/melawan Allah, nyata-nyata dibinasakan. Badai pasir yang mengerikan membinasakan kaum ‘Ad sebagaimana mereka “tidak pernah mengira”.

Iram, Surga dunia yang dibinasakan


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ (6) إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ (7) الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلاد (8)

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. (QS. Al Fajr 6-8)

Ibnu Abi Hatim berkata, Ayahku bercerita kepadaku dari Abu Shalih sekretarisnya Abu Laits dari Muawiyah bin Shalih dari seorang perawi yang bersumber dari Miqdam dari Nabi SAW, sesungguhnya beliau menuturkan Irama Dzatil Imad, kemudian beliau berkata: Di antara mereka terdapat seorang laki-laki mendatangi batu besar yang sanggup ia pikul lalu melemparkannya kepada orang hidup yang menyebabkan kematian mereka.

Kemudian Ibnu Abi Hatim melanjutkan, bercerita kepada kami Ali bin Al Husain dari Abu Thahir dari Anas bin Iyad dari Tsaur bin Zaid ad-Daili, ia berkata: Aku membaca kitab – lalu ia menyebutkan namanya (dan didalamnya tertulis)- “Aku adalah Syaddad bin Ad, aku adalah orang yang mendirikan Imad, aku yang memperkuatnya dengan dzira’ku sekali pandang, aku yang memendam harta tambang sedalam tujuh dzira yang tidak akan bisa dikeluarkan kecuali oleh umatnya Muhammad SAW. (Tafsir Ibnu Katsir [8]: 295, Tafsir Al Lubab li Ibni Adil [16]: 333) 

Di dalam tafsir tentang apa yang datang tentang kaum ‘Aad dalam al-Qur’an, sejumlah ulama ahli tafsir, ahli Geografi, ahli sejarah dan ahli nasab (silsilah keturunan) muslim seperti ath-Thabari, as-Suyuthi, al-Qozwaini, al-Hamdani, Yaqut al-Hamawi dan al-Mas’udi bersemangat untuk mengungkap tentang hakekat mereka. Mereka (para ulama di atas) menyebutkan bahwa kaum ‘Aad termasuk al-Arab al-Baa’idah (Arab yang telah musnah). Dan mereka (al-Arab al-Baa’idah) dianggap mencakup banyak kaum yang telah musnah ratusan tahun sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara mereka kaum ‘Aad, Tsamud, al-Wabar, dan selain mereka masih banyak lagi.

Dan mereka (para ulama di atas) mengetahui dari ayat-ayat al-Qur’an bahwa tempat tinggal kaum ‘Aad adalah di Ah-Qaaf jamak dari kata Haqf yang berarti pasir yang miring. Dia adalah salah satu daerah bagian dari ar-Rab’u al-Khali dengan Hadhramaut di sebelah selatannya, ar-Rab’u al-Khali di selatannya dan dengan Oman di sebelah timurnya, dan dia sekarang adalah dareh Zhaafar. Sebagaimana mereka juga mengetahui bahwa Nabi mereka adalah Hud ’alaihissalam, dan bahwasanya setelah binasanya orang-orang kafir dari kaumnya, Hud’alaihissalam tinggal di bumi Hadhramaut sampai beliau meninggal, dan beliau dikebumikan di dekat Wadi Barhut arah timur dari kota Tarim.

Penemuan Arkeologi dan Keajaiban Al-Qur’an

Lawrence of Arabia, beliau adalah orientalis yang bertanggungjawab menghasut pemimpin tanah arab untuk memberontak kepada kerajaan Turki Othmaniyyah sekitar tahun 1916-1918. Disebabkan hasutan dan dokongan daripada Lawrence of Arabia tersebut, tanah arab akhirnya bebas daripada menjadi jajahan Turki Othmaniyyah dan King Saud diangkat menjadi pemimpin besar tanah arab. Kerajaan baru yang ditubuhkan dikenali sebagai Arab Saudi. Dan kerajaan Arab Saudi kekal memerintah tanah arab sehingga ke hari ini. Lawrence of Arabia yang juga seorang Leftenan Kolonel tentera Diraja Britain meninggal dunia pada 19 Mei 1935 akibat kemalangan jalan raya. Ketika itu beliau berumur 45 tahun.

Meskipun Lawrence of Arabia boleh dikatakan musuh di dalam selimut kepada umat Islam, namun jasanya kepada penemuan kota Iram yang dikatakan sebagai kota kaum A’ad tidak boleh disangkal. Beliau adalah insan pertama daripada Eropah yang sangat berminat dengan ‘Lost City’ Iram. Beliau yang hidup dengan cara orang Badwi dan kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Arab dengan fasih membuatkan cerita mengenai kemusnahan tamadun kaum ’Aad mudah sampai ke telinganya. Karena sangat berminat dengan kisah kaum ‘Aad dan kotanya yang memiliki tiang-tiang yang besar, Lawrence of Arabia telah mengelarnya dengan gelaran ‘Atlantis of the Sands’. Seperti kota Atlantis, kota Iram juga kelihatan mustahil untuk ditemui.

Lokasi Kota Iram

Sebenarnya, apa yang ditulis oleh Lawrence of Arabia mengenai kota Iram yang digelar beliau sebagai ‘the Atlantis of the Sands’ telah menarik minat beberapa ahli arkeologi daripada Eropah kemudian harinya. Mereka adalah Nicholas ClappGeorge HedgesDr. Juris Zarins dan Ranulph Fiennes.

Pada akhir tahun 80-an dan awal 90-an, keempat individu ini telah berusaha untuk mencari satu tamadun yang musnah sepertimana yang disifatkan dalam al-Quran. Rujukan utama keempat-empat mereka adalah berdasarkan al-Quranul karim dan cerita-cerita lisan daripada masyarakat Badwi.

Dr. Zarins yang bertindak sebagai ketua arkeologi dalam pencarian tersebut telah bersama-sama Nicholas Clapp dan George Hedges meminta NASA merakamkan gambar sekitar tempat yang dimaksudkan mempunyai potensi untuk dikaitkan dengan kota purba Iram yang telah musnah. Gambar tersebut telah dirakamkan menggunakan satelit NASA, SPOT (Satellite Pour I’Observation de la Terre). Rekaman tersebut mengejutkan mereka apabila ia jelas memaparkan laluan unta dan sebuah runtuhan kota purba yang kelihatan mengelilingi sebuah ‘runtuhan’ oasis. Laluan perdagangan dan runtuhan kota purba tersebut tidak mampu dilihat jelas pada mata kasar. Gambar tersebut telah direkamkan di Rub’al Khali, Oman yang terletak di selatan Semenanjung Arab.

Pada 1992. Daripada hasil penemuan arkeologi, mereka sepakat bahwa itu adalah kota Iram yang musnah seperti yang dimaksudkan dalam al-Quran. Berdasarkan penelitian, diduga tempat ini berdiri sekitar 6,000 SM. Menurut mereka lagi, kota yang ditemui itu adalah salah satu kota yang dimiliki oleh kaum ’Aad dan banyak lagi yang tenggelam dalam ‘lautan’ pasir.

Terdapat beberapa persamaan hasil penemuan arkeologi dengan ayat-ayat Allah SWT yang menceritakan kisah kaum ‘Aad dan nabi Hud as. Antaranya adalah berkenaan dengan tiang-tiang yang sangat tinggi yang mana tidak pernah dibuat oleh siapa pun sebelumnya.

  1. Tiang-Tiang Tinggi

Dalam al-Quran ada menyebut tentang kota Iram yang disifatkan mempunyai tiang-tiang yang tinggi.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ’Aad?. (iaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.

(Surah al-Fajr ayat 6-8)

Firman Allah swt telah dapat dibuktikan melalui hasil penemuan arkeologi pada 1992. Clapp yakin bahwa kota purba yang ditemui adalah Iram berdasarkan kepada tapak-tapak tiang yang berbentuk segiempat sama.

  1. Membina Benteng-Benteng

Kaum ‘Aad juga diriwayatkan membuat benteng-benteng. Ini diceritakan Allah dalam surah as-Syu’araa’ ayat 128 sampai 130.

Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main. Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyeksa, maka kamu menyeksa sebagai orang- orang kejam dan bengis.

(Surah as-Syu’araa’ ayat 128-130)

Seperti perihal tiang-tiang yang tinggi yang dibina oleh kaum A’ad, mereka juga turut membina benteng yang diperkirakan mempunyai tinggi lebih daripada 2 meter. Jika mengikut rekod arkeologi, benteng ini dibuat 6,000 SM dibuat oleh kaum ‘Aad bertepatan dengan apa yang Allah SWT kalamkan dalam Surah al-Fajr ayat 8.

  1. Terdapat Kebun-Kebun Dan Mata Air

Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak. Dan kebun-kebun dan mata air.

(Surah as-Syu’araa’ ayat 133-134)

Mengenai kebun-kebun dan mata air, ini dapat dibuktikan melalui penemuan oasis di tengah-tengah kota Iram. Penemuan oasis merupakan titik pertama sebelum penemuan Kota purba Iram. Mata air merupakan sumber utama kepada kemajuan kota Iram satu ketika dahulu. Kaum ‘Aad dikatakan mencari nafkah dengan mengembala binatang ternak dan juga berdagang.

  1. Dimusnahkan Oleh Angin Kencang 

Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.

(Surah adz-Dzaariyaat ayat 41-42)

Dalam ayat Allah dalam surah adz-Dzaariyaat ini, angin kencang telah membinasakan kaum ’Aad yang sombong. Angin tersebut telah membinasakan seluruh masyarakat kaum ‘Aad yang kufur terhadap Allah SWT. Hasil arkeologi membuktikan bahawa runtuhan kota Iram bagaikan serbuk dan ini bertepatan benar dengan apa yang dimaksudkan Allah SWT dalam ayat 42 surah adz-Dzaariyaat.

Begitulah sebuah kisah tentang kaum ‘Aad, yang tinggal disebuah kota bernama Iram. Menyembah matahari, dan mendustakan Nabi Hud as. Yang karena kesombongannya itu, kaum ini dimusnahkan oleh Allah SWT, melalui angin kencang selama satu minggu, sehingga merobohkan seluruh bangunan dan tiang-tiang tinggi yang menghias kotanya. Semuanya ini telah diterdapat dalam Al-Qur’an, semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi para pecinta sejarah dan Al-qur’an.

Maha Suci Allah dengan segala firmannya, wallahu a’lam bi showab.

Tags: , , ,

About the Author

Tentang BambangN:


rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: