banner ad Startup UIN

Sejatinya Kita Bangsa Petani dan Pelaut

Yang nulis on di Ekonomi | Jan 28, 2015 | 0 Komentar

Jadi, Sementara kebanyakan media sibuk memberitakan konflik elit politik. Ternyatah media mainstream lupa memberitakan harga pangan dunia terus menerus naik. Kenapa Begitu? menurut data indeks harga pangan FAO di tahun 2000 hanya 91,1, sekarang berlipat jadi 209,8 (2013). Selain itu, lahan pertanian makin terbatas. Padahal, populasi manusia di dunia saat ini mencapai 7,125 miliar dan akan terus bertambah.

Studi yang dilakukan Rulli et al. (2013) di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa sekarang ini ada sekitar 0,7% hingga 1,75% lahan pertanian di muka bumi ini yang diperjualbelikan. Area tersebut kira-kira luasnya sama dengan luas Jerman ditambah dengan Perancis. Gedhe kann…

Kita harusnya tetaplah menjadi bangsa petani dan pelaut. Berdikari seperti harapan Marhaen, seorang petani dari Bandung yang pahamnya di adopsi Bung Karno. Paham yang mengidamkan Republik ini mampu berdiri diatas kakinya sendiri.. bahkan menjadi cahaya bagi negara di sekitarnya. Memanggul cangkul memang berat, menebar jaring memang lelah.. tapi harus ada yang melakukan..

Nenek Moyangku Seorang Pelaut, Kakekku Seorang Petani. Ini Laut, Ini Darat.

Jales Eva, Bhumi Eva, Jayamahe

 

Tags: , , , , ,

About the Author

Tentang Pandi Merdeka:
Laki-laki. Tinggal di Ciputat. Tiga perempat sarap. Sedang berusaha menemukan jawaban dari "Siapa saya?". Senang dengan, langit biru, Asap Rokok sambil minum Kopi kental, tertawa keras-keras. Teman yang menyenangkan dan menyebalkan, tergantung mood. Baginya, merekam adalah terapi sekaligus sarana pencarian jati diri. Jadi, jangan tertipu oleh tulisan. Sapa dia jika bertemu di jalan, karena dia akan menyapa balik. Sampai Bertemu di dunia nyata ^^

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: