banner ad Startup UIN

Ada Apa dengan Sepak Bola Indonesia

Yang nulis on di Artikel, Mahasiswa, Olahraga | Mei 31, 2015 | 0 Komentar

PSSI Vs Menpora makin panasPerebutan “kekuasaan” antara PSSI dan KPSI pada tahun 2012 sampai awal tahun 2013 telah berakhir dengan KPSI yang menjadi pemenangnya pada saat itu. Selama dua tahun periode berjalan sejak tahun islah (perdamaian) tersebut, bisa dikatakan bahwa yang menjadi ketuanya adalah Bapak La Nyalla. Karena beliau lah yang paling sering ngomong dan berkoar akan membawa sepakbola Indonesia lebih maju lagi. Lho, Pak Djohar yang menjadi Ketua Umum kemana tuh? Entahlah, yang jelas pasca rujuk tersebut, Pak Djohar terlihat tambah kalem, tambah pendiam dan lebih sering bermain dibelakang layar. Saking jauh nya dibelakang layar, membuat orang-orang mungkin pada lupa bahwa beliau adalah Ketum PSSI dan bukannya La Nyalla.

Kali ini di tahun 2015, api asmara kembali berkobar di persepakbolaan kita. Pelakunya bukan lagi KPSI jilid 2, tetapi antara Menpora dengan PSSI pimpinan La Nyalla. Sikap Menpora membekukan segala aktifitas PSSI adalah langkah yang sangat tepat dan sudah saatnya bersikap demikian. Mereka menganggap bahwa sepak terjang PSSI selama ini, terutama pasca islah di tahun 2013 tidak menunjukkan progress yang positif terhadap sepakbola Indonesia.

Kinerja PSSI

Pasca KPSI mengakusisi PSSI pada tahun 2013, begitu banyak janji manis yang coba dilemparkan kepada masyarakat pecinta bola di Indonesia. ISL musim 2013/2014 yang menjadi awal penyatuan liga, setelah sempat terbagi dengan kehadiran IPL waktu itu cukup menjadi perhatian serius masyarakat. Nah, apakah PSSI sudah benar menjalankan roda kompetisi di tahun 2013/2014 yang telah menghadirkan Persib sebagai juaranya? Kalau saya pribadi jawabanya adalah tidak. Kenapa bisa demikian? Ada beberapa indikasi yang bisa menjadi pembenaran jawaban itu.

Pertama, PSSI tidak fair. Duo finalis IPL 2014 Persepar Palangkaraya dan Pro Duta tersingkir dari proses verifikasi. Alasanya tidak memenuhi inilah, itulah dan bla bla bla lainnya. Pada kenyatannya, saat musim berjalan apakah klub yang diloloskan PSSI dari verifikasi tersebut sudah betul-betul layak? Omong kosong, kita tidak usah lihat klub “kecil”, cukup tengok Persija dan Arema yang selama ini jadi salah satu dan salah dua icon klub mapan ISL, dua klub tersebut malah menunggak gaji para pemain mereka. Bahkan kisah pemain sepakbola asing pengikut ISL pun tidak digaji. Para pemain banyak klub dari seluruh divisi Utama, Divisi I, Divisi II mengalami masalah karena tidak digaji oleh klub pemberi kerja buat mereka. Bahkan kisah pemain sepakbola asing meninggal dunia dengan kondisi tidak dibayar pun ada di Indonesia. Semua itu tidak pernah dilaporkan ke FIFA. PSSI berkilah, menurut Djamal Aziz, klub adalah PT alias perseroan terbatas, perusahaan, artinya PSSI tidak bertanggung jawab terhadap urusan penggajian oleh klub. Apakah ini tidak terpantau sama PSSI ataukah kalau terpantau namun dibiarkan begitu saja dengan alasan ini dan itu. Whats wrong dengan PSSI?

Kedua, pada saat kompetisi berjalan, penundaan jadwal kompetisi sering kali terjadi. Ada yang terjadi karena menyesuaikan schedule dengan Timnas-lah atau dengan alasan ini dan itu lainnya. Kalau alasan yang dikemukan betul-betul disebabkan force majeur, its ok. Tapi alasan penundaan dengan alasan kepentingan Timnas biar tidak mepet persiapan atau biar lebih maksimal, adalah alasan yang menunjukkan ketidak becusan dan keprofesionalan PSSI dan PT. Liga dalam mengelola kompetisi sepakbola di Indonesia. Ingat PT. Liga bukanlah anak baru di ISL, mereka sudah berkali-kali mengelola Liga, namun hasil pengelolaan mereka tidak lebih seperti EO yang baru dibentuk. Apakah AFC atau FIFA baru mengeluarkan jadwal dan agenda mereka dalam waktu mepet, sehingga PSSI dan PT. Liga merasa kesulitan mengatur jadwal? Tidak. Dua organisasi tersebut sudah jauh hari memiliki agenda dan jadwal mereka dan seharusnya PSSI hanya tinggal menyinkronkan nya saja. Tapi kenyataannya? Nol besar.

Satau-satunya prestasi yang mungkin akan sangat dibanggakan oleh PSSI terutama pasca islah ini adalah prestasi yang diraih oleh Timnas U19 asuhan Indra Syafri ketika meraih jura AFF U19 2013 dan lolos keputaran final piala Asia 2014. Tapi sayangnya masyarakat sepakbola Indonesia tidaklah bodoh. Mereka sudah tahu bahwa sebelum KPSI ada, Timnas U19 bersama Indra Syafri sudah terbentuk. Jadi 100% Timnas U19 tersebut bukanlah bentukan Baginda La Nyalla. Lain dari itu apakah ada prestasi lain? Nothing.

Timnas Sea Games Cuma meraih perak, dan itu sudah biasa terjadi sejak terakhir kali meraih emas di Sea Games Manila tahun 1991.Timnas U23 yang turun diajang Asian Games pun hancur dipermak oleh Thailand. Timnas senior yang diisi para bintang ISL pun harus keok di ajang piala AFF, padahal sudah dilatih oleh pelatih kebanggan mereka yang dengan berbagai cara dipaksakan untuk melatih kembali Timnas senior. Siapa lagi kalau bukan Opa Riedle.

PR Menpora

Per 30 Mei 2015 Indonesia resmi dikenakan sanksi oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Kompetisi antarklub sepak bola di Tanah Air masih dapat terus bergulir meski PSSI telah diberi sanksi. Beberapa PR yang harus segera diperhatikan oleh Menpora dalam proses ini adalah :

  1. Nasib Persipura di ajang AFC juga perlu diperhatikan oleh Menpora dan harus bersedia mengeluarkan ganti rugi terutama dalam bentuk materi yang selama ini telah mereka keluarkan untuk ikut kompetisi. Meski tentu saja, ganti rugi materil tersebut belum sebanding dengan kerugian fisik, fikiran dan daya juang pemain yang terasa sia-sia selama ini, setidaknya Menpora harus bisa meluangkan waktu esktra untuk Persipura agar bisa memahami situasi yang terjadi di sepakbola Indonesia.
  2. Dengan jatuhnya sanksi FIFA, otomatis timnas tidak akan lagi bisa berlaga di laga resmi/non resmi internasional. Maka Menpora juga harus segera memikirkan dan memutuskan apakah perlu segera membentuk PSSI yang baru atau PSSI La Nyalla diberi kesempatan lagi namun harus dengan perjanjian hitam diatas putih.

Mari kita tunggu dalam waktu dekat ini, apa yang akan terjadi di sepakbola Indonesia, sambil berharap Menpora beserta jajarannya benar-benar serius dan benar-benar bijak mengatasi problem yang terjadi di PSSI saat ini. Jangan sampai, Menpora ditungangi oleh pihak tertentu sehingga bukannya membawa sepakbola Indonesia tambah baik, tapi malah menghancurkannya.

Ayo Menpora, jika Anda berbuat benar yakinlah banyak masyarakat yang akan mendukung keputusan Anda, tapi jika ternyata Anda malah menyimpan udang di balik batu, maka jangan heran masyarakat sepakbola indonesia pun akan dengan sangat ikhlas mengkritik dan mencaci anda.

Bravo sepakbola Inodonesia !!!

About the Author

Tentang Waki Ats Tsaqofi:
Jurnalis, Penulis, dan Penerjemah lepas serta Pegiat Kajian Islam Nusantara. Web Pribadi: www.waki14.com

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: