banner ad Startup UIN

Aku Update, Maka Aku Ada

Yang nulis on di Pojok Motivasi | Jun 20, 2015 | 0 Komentar
Aku Update, Maka Aku Ada

cheaterbaturaja.blogspot.com

Sebuah Kajian Hubungan Cinta di Era Kemajuan Teknologi

Cinta di era kemajuan teknologi, bukan prostitusi online ya, tentu tidak aneh bagi kita para pengguna media sosial. Di mana kita bisa dipertemukan dengan ‘orang asing’ yang belum pernah kita temui, atau teknologi mempertemukan dengan orang yang pernah hadir di masa lalu, bahkan teknologi bisa semakin mempererat hubungan yang dahulu pernah dekat namun pisahkan oleh jarak. Kita tidak bisa menafikannya, tampak maya memang, namun nyata!

Mungkin hal itu tidak terjadi langsung pada diri kita, tapi coba lihatlah orang-orang di sekitar kita yang sebenarnya butuh perhatian lebih. Bagaimana ia bisa dibuat sinting, padahal ia hanya menatap layar optik berukuran kurang dari 7 inch. Sinting, iya sinting.

Dosen memberikan kuliah Aljabar Abstrak 2 saja tak digubris, ketika ada notification masuk di ponselnya. Padahal mata kuliahnya susah, tapi wajahnya terlihat sumringah, sesekali ia juga tersenyum sambil menatap keluar jendela. Gila? Tentu tidak, dia hanya sedang tergila-gila.

Bagaimana prosesnya? Di sini mari kita coba kaji.

Pertama dalam sebuah hubungan pasti diawali dengan perkenalan

gbheld

 

 

 

 

 

 

Apapun itu baik teman, pacar bahkan relasi bisnis akan dimulai dari perkenalan. Ada beberapa cara perkenalan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi yaitu:

  • Via sms, telepon, chatting (wa/bbm/line)

Perkenalan yang diawali dengan sms atau telepon biasanya tidak langsung mengarah soal asmara. Menghubungi orang asing pertama kali melalui sms atau telepon saya pikir jauh lebih sopan, meski terlihat kaku. Ada tujuan yang jelas dan tidak bermaksud modus. Entah apa teorinya, namun chatting menurut saya baru bisa dilakukan bila kita sudah mengetahui siapa yang akan kita hubungi.

Apalagi aplikasi chatting di zaman sekarang sudah semakin maju. Misalnya saja whatsapp dan bbm, yang bisa menampilkan foto penggunanya, status, emoji, mengirimkan gambar, pesan suara, bahkan bisa untuk menelpon. Terlebih dengan line, yang kini bisa melakukan video call. Menurut saya, lagi-lagi menurut saya hal ini menimbulkan banyak interprestasi.

  • Via media sosial facebook, twitter, path, instagram

Jauh di mata dekat di medsos”

Nah beda lagi jika berkenalan melalui situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, path, instagram. Di sini, orang biasanya sudah selangkah lebih maju dari sms, telepon, atau chatting. Media sosial bisa lebih ekspresif lagi ketimbang chatting. Dari update status, upload foto atau video,  memberikan komentar, sharing (artikel, video klip, film) serta update lokasi yang memberikan informasi tentang keberadaan penggunanya.

Ada sebuah istilah ‘Don’t judge people from sosial media updates’. Hmm, direnungkan sekali lagi apa itu benar? Bisa jadi memang benar, tapi ada juga yang tindak-tanduk seseorang tetap sama seperti saat ditemui di kehidupan nyata. Jadi bisa saja ‘Judge people from sosial media updates’, intip dulu seperti apa isi media sosialnya kemudian baru melancarkan aksi untuk mengenalnya.

  • Via aplikasi kencan
altinesia.com

altinesia.com

Ya, via aplikasi kencan tentu sudah tahu arah dan tujuannya. Ada 5 aplikasi kencan yang amat populer dirangkum oleh detik.com yaitu Tinder, OkCupid, Plenty of Fish, Down dan BeeTalk.  Berbeda dengan sms, telepon, chatting atau media sosial di mana keintiman terjadi dengan lebih natural. Jujur saya awam soal aplikasi kencan, meski beberapa teman sudah ada yang mencoba, tapi saya tidak tertarik.

Nah dari aplikasi kencan ini juga bisa berlanjut ke tahap berikutnya. Misalnya mau chatting atau melalui media sosial juga bisa. Toh semacam Tinder juga terhubung ke facebook. Kalau sudah klop, terserah dah ke pelaminan juga hayuk!

  • Via grup komunitas

Via grup komunitas bisa berbagai macam grup ya, contohnya Komunitas Gay Tangerang Selatan. Grup semacam ini banyak sekali, saya punya pengalaman buruk dan semoga bisa jadi pelajaran.

Ketika itu saya masih SMA dan baru memiliki akun facebook. Datang tetangga usianya kepala tiga dan agak kemayu, singkat cerita saya ajari dia membuat dan menggunakan facebook. Sesekali dia numpang online di rumah, tapi lupa logout. Awalnya saya curiga dengan friendlistnya yang tiba-tiba banyak dan sebagian besar laki-laki. Saya lihat dia bergabung dengan grup itu dan banyak grup lain semacamnya.     

Kemudian saya membuka isi grup itu. Oh my, dari situ saya paham dengan istilah ‘top’, ‘bottom’, atau ‘fleksibel’. Biasanya mereka mengenalkan nama, usia, bisa top/bottom/keduanya, alamat tempat tinggal dan dengan siapa dia tinggal. Paham lah, untuk apa informasi terakhir ini ditunjukkan.

Saya menyesal telah mengajarinya facebook, kini ia telah menjadi ODHA. Mungkin tinggal menunggu waktu saja. Tapi saya tidak pernah menyesal untuk terus mengajar, malah ini menjadi semangat untuk membayar penyesalan saya.

Kedua terjalinnya relasi, PDKT atau semacamnya

5 pendekatan

Ya, ini biasanya imbas dari hal-hal di atas, yang berujung pada kelaparan kebaperan. Bagaimana tidak, apapun yang dilakukan melalui sekadar sms, chatting, atau segala aktifitas di media sosial bisa jadi sebuah ekpresi yang ingin ditunjukan dari perasaan itu sendiri. ‘Aku update, maka aku ada’.

Gejalanya mungkin ya sinting itu tadi, cengar-cengir memandang kaca optik. Menatap bulan, padahal bentuknya ya gitu-gitu aja. Berlanjut ke susah tidur. Tapi kenapa ya orang jatuh cinta bisa susah tidur?

Ini alasannya, kau tahu bahwa kau sedang jatuh cinta jika kau tidak ingin tidur karena pada akhirnya kenyataan lebih baik daripada mimpimu. (Dr Seuss). Oh ngono tho?

Kembali ke ‘Aku update, maka aku ada’ seperti sebuah kalimat yang amat populer Cogito orgo sum artinya adalah ‘Aku berpikir, maka aku ada’. Kalimat itu dikemukakan oleh Rene Descartes, seorang filsuf sekaligus matematikawan asal Prancis. ‘Aku berfikir karena aku ada’, adalah sebuah konsep rasionalisme serta pengertian ‘rasionalitas’.  Meski banyak perdebatan, sesuatu yang masuk akal dulu baru dikatakan ada, atau apakah aku berpikir dulu baru aku ada, atau aku ada dulu baru aku berpikir.

Sedangkan ‘Aku update, maka aku ada’ juga memiliki banyak tafsir, ya tentu tergantung niatan dari yang mengupdatenya. Bisa aja ‘Aku update, maka aku ada yang ingin ditunjukan’ atau ‘Aku update, maka aku ada yang ingin disampaikan’ atau ‘Aku update, maka aku ada perasaan’.

Berbagai hal bisa ditunjukan melalui akun media sosial, entah itu hanya sekadar ungkapan, atau memang benar-benar ingin disampaikan. Mulai dari status, foto, meme, artikel, lagu, bahkan film. Bisa dengan menautkan nama sesorang yang dituju, atau tidak pun tak masalah. Asal bisa dirasakan dengan hati.

Ketiga memutuskan untuk kopi darat

dok pribadi

dok pribadi

Ya, kopi darat memang sudah ada sejak lama. Istilah ini diperuntukan bagi kamu yang belum pernah bertemu sebelumnya, namun telah lama melakukan interaksi secara virtual. Yakinlah, jika sebelum bertemu tapi sudah ada hati, pasti kelakuan mu akan aneh. Sebenarnya yang ingin ditunjukan adalah hal yang sewajarnya, sifat yang bisa dikenali melalui media sosial juga. Tapi apa daya, malah jadi canggung, malu. Cinta yang seperti ini saya lebih suka menyebutnya ‘Dari hati, turun ke mata’.

Tapi hati-hati juga, banyak kisah hilangnya seorang gadis karena dijemput teman yang baru ia kenal melalui facebook.

Keempat melanjutkan hubungan

Setelah melalukan kopi darat, biasanya di situlah penentu apakah hubungan akan dilanjutkan atau tidak. Terserah saja. Bila ada kecocokan dan tidak terhalang oleh jarak, mungkin intensitas bertemunya bisa semakin sering. Tapi kalau jauh, ya berlanjut lagi hubungannya melalui teknologi. Pun tak ada salahnya.

“From stranger, become together.”

Dikutip dari academia.edu sebuah artikel berjudul Hati Kaca Optik: Cinta, Romantika, dan Keintiman di Era Media Baru. Tulisan karya Dian Arymami ini menunjukan bahwa dinamika budaya dan pola komunikasi mutakhir telah menggeser bentuk-bentuk relasi manusia, tak terkecuali relasi cinta, keintiman dan romantika.

Jack Goody (1998) dalam bab Love, Lust and Literacy melihat kaitan erat antara romantisme dan budaya tulis, sebagai ciri setiap masyarakat yang mengenal huruf. Pemikiran yang kian diperkuat oleh perkembangan teknologi komunikasi lewat internet dan handphone seperti e-mail.

Kelima hubungan melalui media sosial bisa menyebabkan multitafsir

Namun, hubungan seperti ini juga tidak terlepas dari konflik. Misalnya saja balik lagi apa yang diupdate bisa saja menimbulkan banyak pertanyaan, “Ini untuk aku atau ada yang lain sih?”

Atau bisa juga, ketika sedang bercanda dengan teman-teman yang lawan jenis misalnya. ‘Hei mantan abang ojek.’ Di kira orang tersebut adalah mantannya. Coba tanyakan saja secara personal, daripada malah mengurangi selera makan, nanti kurus lagi. 😛

Rentannya, nyeees banget.

Keenam membayang-bayangi pikiran

liawingsih.com

liawingsih.com

Bayangan orang yang spesial itu pasti akan selalu hadir di setiap aktifitas. Mengganggu memang, meski sudah memiliki banyak kegiatan. Belum lagi masalah multitafsir yang ditimbulkan. Menyebabkan prasangka-prasangka yang buruk, padahal “Aku mah apa atuh,” belum tentu jodohnya. Ngga ada sertifikat Hak Milik apalagi Hak Guna #lah dikira rumah?

Sehingga ada baiknya memilih untuk kembali belajar dengan sungguh-sungguh, mengerjakan skripsi, menambah keahlian lain dan menggapai mimpi-mimpi yang belum tercapai. Terlebih jika kamu anak pertama, bebannya akan semakin berat tentu tidak mudah memutuskan segala sesuatunya. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Kalau nanti jodoh pun akan dipertemukan, dengan wujud yang Inshaa’ Allah jauh lebih baik dari yang kamu kenal hari ini dan sebelumnya. Tapi kalau tidak, pasti sudah disiapkan yang lebih baik oleh-Nya. Santai saja.

Praktisi

Referensi:

http://www.academia.edu/4632446/Hati_Kaca_Optik_Cinta_Romantika_dan_Keintiman_di_Era_Media_Baru

Tags: , , ,

About the Author

Tentang Dewi Maryam:
Akun twitternya @dewimarmar, lagi meneruskan sisa-sisa perjuangan sebagai mahasiswa tingkat akhir.

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top