banner ad Startup UIN

Berpolitik dan Bernegara ala Kiai Wahab Chasbullah

Yang nulis on di Politik | Jun 16, 2015 | 0 Komentar

1426481988“Banyak pemimpin NU di daerah-daerah dan juga pusat yang tidak yakin akan kekuatan NU, mereka lebih meyakini kekuatan golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang menghembuskan propaganda agar tidak yakin dengan kekuatan yang dimilikinya.”

“Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati mereka oleh propaganda luar biasa yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam, tetapi hanya gelugu alias batang kelapa sebagai meriam tiruan. Pemimpin NU yang tidak mengerti itu tidak sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU ragu akan kekuatan sendiri.”

Itulah Kredo Pergerakan KH. Abdul Wahab Chasbullah yang diutarakan di Jakarta pada tahun 1950, sembilan tahun sebelum Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta. Dengan kredo tersebut, nahdliyin dan nahkodanya (pemimpin) tergugah dan terbelalak akan kekuatan organisasinya. Terlepas dari hal itu, Mbah Wahab bukan sekadar nahkoda pemikir, tapi juga penggerak, baik dalam mengabdi kepada umat, bangsa, dan negaranya. Ketokohan dan jiwa kepahlawanannya terlihat dengan perjuangan yang tak kenal henti dalam membimbing umat dan melawan penjajahan oleh kolonial Belanda dan Jepang.

Dengan pemikiran dan gerakan Mbah Wahab yang hanya lulusan pesantren, namun ilmu yang dimilikinya sangat komprehensif, buku ini berusaha mengumpulkan tulisan Kiai Wahab yang tersebar di berbagai media massa dan buku, serta catatan muktamar dan sidang Konstituante. Sebagai tokoh besar yang memberikan motivasi dan inspirasi bangsanya, Kiai Wahab Chasbullah pantas untuk diperkenalkan karya tulis pemikirannya serta menunjukan kembali kiprah dan proses dalam membangun organisasi dan memperjuangkan bangsa ini.

Sepulang dari Mekkah tahun 1914, Mbah Wahab tidak hanya mengasuh pesantrennya Tambakberas Jombang, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional karena tidak tega melihat kondisi bangsanya yang mengalami kemerosotan hidup dan penderitaan yang mendalam, kurang memperoleh pendidikan, mengalami kemiskinan dan keterbelakangan yang diakibatkan oleh penindasan dan pengisapan yang dilakukan oleh penjajah Belanda. Melihat kondisi tersebut, Mbah Wahab bersama kaum muda lain mendirikan organisasi pergerakan yang dinamakan Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan). Selanjutnya untuk mencermati perkembangan dunia yang semakin kompleks, maka bersama tokoh pergerakan nasional, Dr. Soetomo, pada tahun 1918, Kiai Wahab mendirikan Tashwirul Afkar (Gerakan Pemikiran) untuk mendinamisir pemikiran masalah kebangsaan. Organisasi-organisasi tersebut bersifat non-kooperatif dengan penjajah Belanda sehingga tidak mendapatkan santunan dana. Sebab itu untuk memperkuat pendanaan gerakannya tersebut, Mbah Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (Gerakan Saudagar) pada tahun 1918 juga sebagai pusat penggalangan dana bagi perkembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia.

Gerakan Kiai Wahab tidak hanya sampai di situ, ketika membentuk organisasi ulama-ulama pesantren bernama Komite Hijaz untuk merespon makam Nabi Muhammad saw hendak dibongkar oleh penguasa baru Hijaz, Raja Abdul Aziz Ibn Saud serta mazhab Imam empat Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tidak boleh diajarkan dan diamalkan di Tanah Suci. Usaha ini ditanggapi positif oleh raja sehingga makam Nabi tidak jadi dibongkar, serta ulama-ulama bermazhab empat dibiarkan hidup, walau tidak boleh mengajar dan memimpin Haramain. Mengapa Kiai Wahab begitu cepat diterima Raja Saud dibanding kelompok modernis? Selain Kiai Wahab telah tinggal lama di Arab, dia juga semua seluk-beluk suku, dan tokoh kuncinya, mengenal para ulama dan pangeran di sana, termasuk mengenal para jagoan yang ada. Koneksi itulah yang digunakan untuk menerobos, melakukan lobi sehingga mampu menenemui sang raja dan dikabulkan beberapa usulannya.

Aktivitas keagamaan, sosial, maupun politik Kiai Wahab adalah untuk menegakkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang telah dirintis selama berabad-abad oleh Wali Songo dan para ulama sesudahnya. Dia bukan hanya penerus, tetapi juga mempunyai pertalian darah dengan para penyebar Islam di Tanah Jawa itu. Bahkan Kiai Wahab secara praktis dan ideologis adalah sebagai penerus perjuangan Pangeran Diponegoro. Karena itu ia selalu memakai sorban yang ia sebut sendiri sebagai Sorban Diponegoro sebagai simbol perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan.

Menonjolnya peran Wahab Chasbullah ini berkat kematangannya dalam menempa dirinya sebagai ulama pergerakan. Jadi bukan sekadar sholeh secara vertikal, tapi juga sholeh secara horisontal atau sosial. Sehingga seorang ‘alim dapat bermanfaat di semua lini kehidupan masyarakat. Secara geneologi keilmuannya, semula ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, kemudian ke Pesantren Tawangsari Surabaya, lalu melanjutkan lagi ke Pesantren Bangkalan Madura, kemudian ke Pesantren Mojosari Nganjuk, dan menyempatkan diri nyantri di Tebuireng Jombang. Setelah merasa cukup ilmunya, ia meneruskan belajar ke Mekkah untuk belajar pada ulama terkemuka dari dunia Islam, termasuk para ulama Jawa yang ada di sana, seperti Syekh Mahfudz Termas, Syekh Ahmad Chotib al-Minangkabawi, juga Syekh Sya’id al-Yamani, serta ulama terkemuka lainnya. Selain belajar agama saat di Mekkah, ia juga mempelajari perkembangan politik nasional dan internasional bersama aktivis di seluruh dunia.

Dari karya-karya dan pemikirannya, selama ini Kiai Wahab dikenal hanya sebagai Kiai politisi, padahal sesungguhnya ia adalah seorang ulama tauhid dan juga fikih yang sangat mendalam dan luas pengetahuannya. Oleh karena itu, ia dapat dengan mudah menerapkan prinsip-prinsip fikih dalam kehidupan modern secara progresif, termasuk dalam bidang siyasah (politik). Kitab yang ditulisnya Sendi Aqoid dan Fikih Ahlussunnah Wal Jamaah menunjukan kedalaman penguasaannya di bidang ilmu dasar tersebut.

Kehidupan Kiai Wahab juga lekat dengan kekejaman kolonialis Belanda terhadap bangsa Indonesia. Pernah suatu ketika umat Islam dilarang untuk mengadakan pertemuan maupun perkumpulan di Mesjid-mesjid seperti yang sering dilakukan. Mbah Wahab tidak berpangku tangan atau mengirim surat keringanan. Dengan sikap kepemimpinannya, ia menemui langsung Gubernur Jenderal di Batavia. Para kolonial yang kejam, semua disapa dengan keramahan sehingga sang kolonialis pun larut dalam serba bisa dan terpaksa menerima dengan penuh keramahan dalam menghdapai Kiai yang supel itu. Akhirnya, pembekuan dapat dicairkan kemudian umat Islam pun diizinkan kembali mengadakan dakwah atau perkumpulan di dalam Mesjid.

Pasca penjajahan, muncullah gerakan makar atas kedaulatan pemerintah RI oleh gerakan komunis dan ekstrimis yang tidak mengakui kepemipinan presiden Soekarno. Kartosuwiryo mengklaim diri sebagai Amirul Mukminin sebagai tandingan pemerintah RI di bawah Soekarno. Maka NU dibawah pimpinan Kiai Wahab menugaskan Kiai Masykur, Menteri Agama saat itu untuk mengkoordinasi para ulama Indonesia sejak tahun 1952 menyelanggarakan beberapa kali pertemuan se-Indonesia guna mengatasi dualisme kepemimpinan Islam itu. Akhirnya para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah yang dipelopori NU menegaskan dengan memilih Bung Karno sebagai pemerintah yang sah sebagai waliyul amri pada tahun 1954.

Itulah beberapa gerakan politik, sosial, dan agama dalam frame Ahlussunnah Wal Jamaah yang dilakukan oleh Kiai Wahab yang terangkum dari beberapa pemikirannya dalam buku ini. Selain itu, sebagai pencetus gerakan Nahdlatut Tujjar, Kiai Wahab juga concern dalam persoalan ekonomi bangsa sehingga tujuan politik untuk menyejahterakan rakyat dapat tercapai seluruhnya.

Buku setebal 230 halaman (66 pendahuluan + 64 isi) ini terdiri dari 7 bagian. Di bagian akhir, khusus memaparkan berbagai pernyataan Kiai Wahab di bidang politik, ekonomi, keagamaan, dan kenegaraan. Buku ini menjadi bagian penting dan menjadi bahan utama dalam proses persidangan gelar pahlawan untuk Sang Peggerak. Alhamdulillah tahun 2014 warga Nahdliyin patut bangga KH Wahab Chasbullah telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

 

Judul: Kaidah Berpolitik & Bernegara
Penulis: KH. Abdul Wahab Casbullah
Penyunting: Abdul Mun’im DZ
Penerbit: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Cetakan: I, Feb 2014
Tebal: lxvi (66) + 164 halaman
ISBN: 978-979-1662-5-1
Harga: Rp. 55.000,-
Peresensi: Fathoni, penulis lepas dan mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta

Dapatkan diskon 15% dengan hubungi kontak di bawah ini

SMS/WhatsApp: 0878-8090-7454

BBM: 5188F964

Tags: , ,

About the Author

Tentang Waki Ats Tsaqofi:
Jurnalis, Penulis, dan Penerjemah lepas serta Pegiat Kajian Islam Nusantara. Web Pribadi: www.waki14.com

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: