banner ad Startup UIN

KONSORSIUM ISLAM DAN KEBANGSAAN

Yang nulis on di Event Internal Kampus | Jun 20, 2015 | 0 Komentar

   KONSORSIUM ISLAM DAN KEBANGSAAN

“Cetak Biru Organisasi Kemahasiswaan Islam demi Menyongsong Indonesia yang Adil dan Berkeadaban”

DSC_1050

Hai, kali ini saya akan membahas tentang acara yang diselenggarakan oleh DEMA FISIP UIN Jakarta yaitu “Konsorsium Islam dan Kebangsaan” pada senin 15 Juni 2015. Konsorsium itu apa sih?. Seharusnya kita tahu sebagai akademisi yakan?. Yup, konsorsium adalah mengumpulkan suatu konsep yang matang untuk kepentingan bersama hingga menghasilakan suatu hal atau power yang luar biasa.

Mau bahas apa sih? Dari judul pasti udah ngerti ya. Nah, ya pastinya bahas tentang Islam dan negara dari sudut pandang ketua empat organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia. Wah, yang hadir siapanya yaa??? Tentunya para ketua dari masing-masing organisasi dan pastinya ada keynote speaker yaitu Prof.Dr. Nasaruddin Umar M.A

Yuklah dibahas apa aja sih yang mereka bicarakan – sabar ya sabar lagi bulan puasa nih ngerjainya jadi biar ada basa-basi dikit. #gaknyambung–. Sambutan demi sambutan pun diberikan dari mulai ketua plaksana lalu ketua DEMA. Pembicara pertama ialah Rektor UIN Jakarta yang diwakilkan oleh WAREK Prof. Yusron Razak. Pembicara kedua ialah perwakilan dari pemkot Tangsel bpk Salaman yang mewakilkan ibu Hj. Airin Rachmi Diani. Beliau memberi pesan kepada mahasiswa bahwa “Pedulilah pada lingkungan, Jangan hanya kuliah”

CHhiiskUEAAw-Uf.jpg large

Pembicara selanjutnya adalah Wakil Menteri Agama RI 2011-2014 yaitu Prof.Dr. Nasaruddin Umar M.A dalam pandangan beliau terkait Islam dan kebangsaan yaitu “Kita dapat mempunyai pemikiran yang berbeda tetapi tetap mempunyai satu tujuan yang sama”. Beliau memberikan contoh guru besar UIN Jakarta –siapa hayo?– .

Ya, siapa lagi kalau bukan beliau yang namaya dijadikan auditorium terbesar di UIN Jakarta ialah bapak Harun Nasution dan satu lagi yaitu bapak Muhammad Quraish Shihab. Beliau menyatakan bahwa teologi Harun Nasution yang lebih condong kearah barat –ya beliau kan sekolahnya emang disana– dan konsep dari Muhammad Quraish Shihab yang lebih condong ke arah timur –ini apa lagi beliau kan sekolah di Al Azhar– sangat berbeda jauh. Jika kita baca tulisan beliau-beliau, seperti saling menyindir dan sangat bertentangan satu sama lain dari setiap opini yang mereka punya.

Pada kenyataanya mereka hanya bertentangan dalam hal tersebut sedangkan dalam kehidupan sehari-hari mereka adalah teman yang sangat akrab. –jadi mau kaya mereka heheh–. Prof.Dr. Nasaruddin Umar M.A juga menyatakan tentang masyarakat Indonesia yang terjebak dengan paradigma bahwa Indonesia adalah negara yang kecil, padahal Indonesia adalah negara yang sangat luar biasa besar.

Prof.Dr. Nasaruddin Umar M.A mengatakan bahwa Indonesia di dunia dapat disejajarkan dengan Jepang dan China karena perkembangan ekonomi. Indonesia adalah negara paling aman, paling makmur, dan mempunyai pemikiran yang sangat produktif. –bener banget, coba bayangin deh ada berapa provinsi di Indonesia? Ada berapa banyak suku yang berbeda? Ada berapa banyak agama yang berbeda? Ada berapa banyak bahasa daerah? Tapi kita semua bisa jadi satu dengan bahasa Indonesia dan ideologi pancasila, keren kan?? –.

Beliau juga sangat menyayangkan pada mahasiswa Indonesia pada saat ini dimana semangat juang yang mulai terus menurun padahal kesempatan yang mereka punya terbuka sangat lebar. Mahasiswa pada saat ini juga hanya mengandalkan suara padahal gerakan suara kurang berdampak seperti tulisan. Perlu kita ingat yang dibutuhkan adalah mengembalikan keinginan untuk menulis, berani untuk salah, dan say no to pretensi. Dan kata terakhir dari beliau yaitu secerdas apapun mahasiswa dan sekeritis apapun mahasiswa jangan lupakan ibadah.

CHhlE3vUkAEQYBB.jpg large

Berlanjut ke acara berikutnya adalah acara utama, yaitu konsorsium Islam dan kebangsaan dari empat ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Pertama dibuka oleh penyampaian konsep dari ketua PP KAMMI yaitu bapak Andriyani, beliau menyatakan bahwa jika kita bicara tentang Islam di Indonesia maka kita membicarakan Nasionalisme dan patriotisme.

Kita dapat lihat dalam sejarah dimana Islam mempunyai peran penting dalam kemerdekaan. Beliau juga menyampaikan bahwa seharusnya mahasiswa Islam menjadi yang terdepan untuk membela negara, juga bahwa politik aliran pada saat ini sudah tidak relevan. Kita harus menghadapi tantangan-tantangan salah satunya yaitu bonus demografi dan teritorial yang semakin menyempit. Menurut beliau yang penting dalam menghadapi itu adalah tentang seberapa besar kontribusi nyata pada negara, pemuda dan leadership yang baik.

Konsep kedua disampaikan oleh ketua pengurus besar HMI yang diwakilkan oleh Arif Maulana selaku Kabid PA PB HMI. Beliau menyatakan bahwa Islam dan nasional adalah dua hal yang berbeda yang dipertemukan menjadi satu titik temu yaitu pancasila. Nilai-nilai pancasila tidak bertentangan dengan nilai islam. Islam dan Kebangsaan dianggap oleh Cak Nur sebagai common platfrom sehingga tidak ada perdebatan lagi mengenai Islam dan Kebangsaan. Gerakan-geratkan perdebatan teologi mengenai kekafiran yang inilah mengancam dari esensi kerukunan umat beragama. Lalu bila kita membicarakan keadilan maka kita harus mengetahui, bahwa keadilan adalah konsekuensi dari perilaku masyarakat. Yang paling penting dalam hidup ini adalah kita harus memanusiakan manusia.

Konsep selanjutnya yaitu yang ketiga diutarakan oleh ketua pengurus besar PMII yang diwakilkan oleh Ahmad Ramzi –beliau alumni UIN Jakarta loh fakultas Dirasat. Benaran deh kalau gak salah berarti benar hehe–. Beliau menyampaikan yang paling bertanggung jawab dalam urusan keagamaan masyarakat adalah mahasiswa dari universitas islam, namun sayangnya banyak mahasiswa islam yang bergerak di organisasi Islam hanya fokus pada urusan politik.

Beliau menyatakan bahwa secara “idealis” empat organisasi Islam terbesar di Indonesia bukan hanya berperan untuk memperbaiki Indonesia dari sisi politik. Beliau juga mengutarakan bahwa empat organisasi ini melewati jalan yang berbeda, namun kearah yang sama. Yang dipertanyakan saat ini bukanlah apa tujuan kita, tapi jalan apa yang kita pilih untuk menuju tujuan tersebut. Menurut beliau salah satunya adalah memperbaiki Indonesia dengan jalan yang baik yakni memperbaiki akhlak.

Pembicara terakhir ialah ketua pengurus besar IMM yaitu . Menurut beliau pemuda saat ini terlalu terbawa oleh arus globalisasi. Ada lima tipe mahasiswa saat ini: 1. Mahasiswa yang agamais; 2. Mahasiswa akademisi; 3. Mahasiswa romantis; 4. Mahasiswa hedonnis; 5. Mahasiswa organisatoris. Saat ini adalah bagaimana kita bisa menjadi mahasiswa tipe 1,2, —boleh sedikit—3, —boleh sedikit— 4 dan 5, karena mahasiswa itu harus seimbang.Kita sebagai Mahasiswa/i Islam di Universitas Islam harus bertanggung jawab atas kejayaan Islam dimasa depan. Pada saat ini realitasnya mahasiswa, cendikiawan, dan lainnya hanya diam. Padahal setiap pemutar roda negara diawali dari tokoh-tokoh muslim selama ini.

CHh1huPUsAAcFSH.jpg large

Acara ini ditutup dengan penandatanganan itikad baik membangun bangsa oleh empat organisasi islam. Kemudian pemberian pelakat dan sesi foto bersama. Semoga dengan adanya acara dan tulisan ini dapat membuka mata dan pikiran kita. Jangan sampai kita terjebak dengan simbol dan paradoks yang ada saat ini. Dalam mengintrerpretasikan pancasila, islam di Indonesia, nasionalisme, dan patriotisme kita harus benar-benar memperhatikan esensi dan nilai yang terkandung bukan hanya sekedar simbol.

CHiPyqYUMAAH-sx.jpg large

CHiQv2EUAAADJcv.jpg large

Tags: ,

About the Author

Tentang mayang.purnama:
Seorang manusia biasa yang ditakdirkan menjadi orang biasa.

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top