banner ad Startup UIN

Yakin Usaha Sampai – Hati saya memilih HMI

Yang nulis on di Pojok UKM & Organisasi | Sep 5, 2015 | 0 Komentar

Belum genap satu bulan saya menjadi mahasiswa, jenuh dengan hanya berkutat pada dosen dan tugas sudah mulai terasa, bahkan meskipun dibantu dengan menghadiri berbagai seminar atau kuliah umum, tetap saja jenuh itu tidak hilang, belum lagi hanya mentok pulang ke kamar kost mengurusi pakaian kotor. Maka saya bertanya dalam hati, jika jenuh ini dibiarkan menjamur dan kegiatan monoton yang tidak produktif ini saya biarkan, hendak menjadi apa saya? karena pada nyatanya, merasa nyaman pada zona aman adalah ancaman untuk jiwa yang ingin berkembang dan maju.

Mungkin karena terlalu lama nyaman di dalam zona nyaman, saya banyak berspekulasi tetang bagaimana perkuliahan nanti? apakah akan padat seperti yang dikeluhkan kakak-kakak kelasku yang baru lulus dari SMA sebelumnya? atau malah lebih banyak waktu luangnya? Apakah organisasi diluar kampus bisa saya jalankan? Jika saya berorganisasi, bagaimana dengan kuliah saya sedangkan saya harus menjadi apa yang saya inginkan?

Sejak SMP hingga SMA (sebelum spekulasi tentang perkuliahan itu datang) saya tebiasa dengan organisasi, bukan hanya karena selain lahir di lingkungan organisatoris, melainkan menurut saya berorganisasi adalah suatu cara bagaimana saya bisa menjadi “saya” seutuhnya, karena di dalam organisasi saya belajar tentang bagaimana bersosialisasi dengan hati, makhluk, dan Sang Pencipta.

Namun, seperti yang saya sebutkan tadi, ketika masuk dan diterima di UIN Syarif Hidayatllah Jakarta jurusan Hubungan Internasional, pemikiran dan penggambaran akan tugas serta tuntutan kemampuan di bidang yang saya ambil sangat mempengaruhi hati saya untuk mengatakan tidak pada organisasi saat ini, karena akan mengganggu perkuliahan yang menurut saya lebih penting. Tetapi, penggambaran awal tentang tugas yang pasti akan menyita banyak waktu hingga sulit dalam beraktivitas diluar kampus ternyata terbantahkan hanya dalam waktu satu minggu setelah awal mulai perkuliahan.

Saya menemui beberapa senior dari berbagai organisasi intra maupun ekstra, mereka banyak bercerita tentang pengalamannya berorganisasi dan masih bisa mendapatkan nilai lebih daripada apa yang ia perkirakan, bahkan ada beberapa organisasi yang hampir seluruh anggotanya memiliki IPK tidak kurang dari 3,5. Tidak hanya tentang penilaian di kampus atau pengalaman organisasi, melainkan dengan terbentuknya karakter dan terbentuknya jaringan. Disini, salah satu organisasi yang bisa menjadikan anggotanya berintelektual tinggi, membentuk karakter, dan memperbanyak jaringan adalah Himpunan Mahasiswa Islam atau disingkat HMI.

Logo HMI - Himpunan Mahasiswa Islam

Semua organisasi pasti memiliki ciri khas masing-masing, tetapi yang membuat saya tertarik adalah orang-orang yang ada didalamnya serta orang-orang yang telah berhasil berproses didalamnya. Selain itu ada hal yang membuat saya yakin dengan pilihan saya ketika saya bercakap-cakap dengan seorang yang menurut saya cerdas dan bijaksana, “berorganisasilah dengan hati, maka kamu harus memilih organisasi tersebut sejak awal dengan hati, apapun pilihanmu, pastikan bukan sebuah paksaan atau doktrinasi, ketika kamu telah memilih, pastikan pilihanmu itu kamu jaga, kamu isi dengan segenap kemampuanmu, karena itu tanggung jawabmu”. Selain itu, saya membaca sekilas tentang sejarah beberapa organisasi sejenis yang ada, setelah mempertimbangkan, disitulah saya mengikuti hati saya memilih HMI, bukan karena organisasi lain tidak baik, tetapi hati saya tanpa paksaan dan tanpa doktrinasi memilih HMI.

Sejak awal penjelasan mungkin teman-teman ada yang berpendapat bahwa saya berorganisasi hanya untuk mengisi kekosongan dan menghilangkan kejenuhan saja. Tidak masalah berpendapat seperti itu karena saya akan mengiyakannya jika saja saya tidak memilih HMI sebagai organisasi pilihan saya, dan semakin mantap pilihan itu bahwa HMI dengan mulia memiliki ideologi (tidak merubah kedudukan Pancasila tentunya) yang berintikan Iman, Ilmu, dan Amal, dijabarkan melalui Nilai-Nilai Dasar Perjuangan atau disingkat NDP.

Pemikiran-pemikiran tentang nilai kepercayaan, nilai kemanusaan, dan 6 nilai lainnya semakin mengenalkan siapa saya dan apa sebenarnya tujuan saya hidup, serta yang terpenting adalah semakin menguatkan iman saya, menurut nilai-nilai yang dijabarkan di NDP itu, setelah kita memiliki iman (meskipun tidak sesempurna Nabi Muhammad SAW) kita dapat memiliki ilmu dengan baik dan akan dengan mudah mengamalkannya. Itulah ‘goal’ dari segala mimpi saya, pengamalan terhadap ilmu yang saya miliki, sesuai pula dengan doa yang selalu saya panjatkan selepas sholat yaitu bermanfaatnya apa yang saya dapat agar dapat menjadi manusia seutuhnya “rahmatan lil’alamin”.

Dengan ini, dengan kesungguhan hati saya bertekad ingin menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Tentunya keyakinan ini harus diusahakan agar sampai… YAKUSA!

(http://zahraforeva.blogspot.co.id/2014/09/yakin-usaha-sampai.html)

Tags: , , ,

About the Author

Tentang Zahra Yusuf:


rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: