banner ad Startup UIN

Agama Bukan Hanya Simbol

Yang nulis on di Artikel, Mahasiswa, Pojok Motivasi, Sosial | Mar 18, 2017 | 0 Komentar

Belakangan ini saya benar-benar mendapat pelajaran atas apa yang saya alami. Ada pepatah mengatakan bahwa jangan pernah menilai sebuah buku hanya dari sampulnya. Begitu pun pada manusia. Tak sedikit orang-orang mengatakan bahwa jangan menilai seorang manusia dari tampilan luarnya saja.

 

Agama Bukan Hanya Simbol

 

Saya mengira bahwa penampilan seseorang merupakan objek yang pertama kali menjadi penilaian terhadap jati diri seseorang. Akan tetapi menurut saya, cara penilaian seperti itu menjadi salah jika dijadikan acuan atas kepribadiannya secara keseluruhan. Sebab, seakan-akan manusia yang tak berpenampilan agamis seperti tidak memiliki sisi baik, dan manusia yang berpenampilan agamis seperti manusia yang mendapat jaminan surga.

Saya mengakui bahwa orang yang berpenampilan baik (agamis) seperti berjilbab yang sesuai dengan syariat atapun tidak isbal dalam mengenakan celana merupakan tuntunan agama yang sangat baik jika dilakukan. Saya pun mengakui bahwa penampilan tersebut jauh lebih baik dibanding penampilan yang berlawanan. Seperti tidak berjilbab ataupun isbal bagi lelaki.

Namun, akhir-akhir ini saya mendapat pelajaran yang begitu menampar hati. Bagaimana saya justru mendapati mereka yang berpenampilan tidak agamis, bahkan menurut saya sudah tidak karuan, akan tetapi justru mereka memiliki hablumminannas atau hubungan kepada manusia yang lebih baik. Ada seseorang yang menurut saya penampilannya tidak agamis, namun saat bertamu ke rumahnya, saya mendapat sambutan yang begitu hangat serta disuguhkan dengan sebotol air mineral. Ada pula ketika saya bertamu kepada seseorang yang berpenampilan begitu agamis, akan tetapi saya merasa bahwa mereka jauh dari sikap memuliakan tamu. Jangankan disediakan minum, disuruh masuk pun tidak. Hal ini saya alami ketika saya menjalani survey ke rumah-rumah warga.

Tidak berhenti sampai disana. Saya juga beberapa waktu belakangan mengalami bahwa mereka yang berpenampilan tidak agamis sangat ringan tangannya dalam membantu orang lain, memudahkan urusan orang lain, tidak menyulitkan orang lain. Akan tetapi, justru mereka yang berpenampilan agamis tangannya seperti berat untuk membantu orang lain. Mereka tega melihat saudaranya mengalami kesulitan hingga diliputi kesedihan. Bagaimana seseorang yang tidak berpenampilan agamis namun memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, dan justru yang berpenampilan agamis jauh dari jiwa kemanusiaan.

Memang hal ini tidak bisa dipukul rata. Pasti banyak pula orang-orang berpenampilan agamis yang perilakunya sesuai dengan ajaran agama. Pasti banyak pula orang-orang berpenampilan agamis yang memiliki jiwa kemausiaan yang tinggi. Pasti banyak pula orang-orang berpenampilan agamis yang mengerti adab memperlakukan tamu.

Saya juga mengerti bahwa manakala kita menemukan seseorang berpenampilan agamis namun dalam perilakunya masih ditemukan banyak kekurangan, maka jangan pernah menyalahkan penampilannya. Akan tetapi, yang menjadi pelajaran bagi saya adalah bahwa terkadang kita ini hanya bangga terhadap simbol-simbol agama, namun kita lupa untuk menjalankan syariatnya. Kita itu hanya bangga terhadap simbol-simbol agama, namun dalam hablumminannas atau hubungan kepada manusianya, hubungan bermasyarakatnya, kita masih sangat buruk.

Tidak-kah dalam ber-hablumminannas terdapat banyak pahala yang bisa dipetik? Tidakkah dalam ber-habluminannas dapat kita temukan jalan-jalan menuju pintu-pintu surga? Maka semestinya dalam beragama, kita jangan hanya fokus kepada hablumminallah namun meninggalkan hablumminannas. Kita jangan hanya fokus beribadah namun tidak bermasyarakat.

Bukankah akan lebih baik jika berpenampilan agamis, namun juga baik dalam berhubungan dengan manusia? Bukankah akan lebih baik jika berpenampilan agamis, namun juga pintar dalam menyenangkan hati sesama muslim? Bukankah akan lebih baik jika berpenampilan agamis, namun juga ringan dalam membantu saudara kita?

 

Abdul Rahman Hanif | 18 Maret 2017

Tags: , , , , ,

About the Author

Tentang ldksyahid:
Lembaga Dakwah Kampus Syahid | Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta | 28 Mei 1996 | #KitaAdalahSaudara

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: