banner ad Startup UIN

Apakah Semua Agama Benar?

Yang nulis on di Artikel | Jun 14, 2017 | 0 Komentar

Globalisasi menimbulkan berbagai macam efek untuk setiap hal. Karena itu, multidimesional pemikian manusia pun terpengaruhi oleh globalisasi. Begitupun juga dengan keadaan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan juga agama. Dan dalam abad millenium ini, perbedaan pandangan dalam setiap aspek tersebut adalah sebuah keniscayaan. Hingga munculah salah satu pandangan yang mengatakan bahwa semua agama adalah benar dan tidak ada agama yang paling benar sehingga haram hukumnya jika penganut agama tertentu mengklaim bahwa agamanya itulah agama yang paling benar.

Pemikiran yang menganggap semua agama itu benar telah lama masuk ke Indonesia dan beberapa negara mayoritas Islam lainnya. Tapi akhir-akhir ini pemikiran itu menjelma menjadi sebuah paham dan gerakan “baru” yang kehadirannya serasa begitu mendadak, tiba-tiba dan mengejutkan. Umat Islam seperti mendapat pekerjaan rumah baru dari luar rumahnya sendiri. Padahal ummat Islam dari dulu hingga kini telah terbiasa hidup ditengah kebhinekaan atau pluralitas agama dan menerimanya sebagai realitas sosial.

Istilah tersebut dikenal dengan nama ‘Pluralisme Agama’. Pluralisme Agama (Religious Pluralism) adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Sebagai ‘terminologi khusus’, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan. Misalnya disamakan dengan makna ‘toleransi’, ‘saling menghormati’ (mutual respect), dan sebagainya. Sebagai suatu paham (isme) yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada, istilah ‘Pluralisme Agama’ telah menjadi pembahasan yang panjang di kalangan para ilmuan dalam studi agama-agama (religious studies).[1]

Pluralisme Agama yang dibahas didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak. Sehingga, karena kerelativannya, maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain, atau mengklaim bahwa agamanya sendiri yang benar. Bahkan, menurut Charles Kimball, salah satu ciri agama yang jahat (evil) adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak (absolut truth claim) atas agamanya sendiri.[2]

Ketika semua agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan siapapun Dia, apapun nama dan sifat-Nya, maka munculah pemikiran bahwa untuk menuju Tuhan bisa dilakukan dengan cara apa saja. Syariat dipandang sebagai hal yang tidak penting, sekedar teknis atau cara menuju Tuhan (aspek esksoteris). Sedangkan yang penting adalah aspek batin (esoteris). Karena itu, cara ibadah kepada Tuhan dianggap sebagai masalah ‘teknis’, ‘soal cara’, yang secara eksoterik memang berbeda-beda. Tetapi substansi nya dianggap sama.

Namun ternyata, bukan hanya Islam yang direpotkan oleh paham Pluralisme Agama. Semua agama direpotkan oleh paham ini. Karena memang, setiap agama mempunyai ajaran dan klaim kebenaran masing-masing yang unik dan khas. Yang berbeda diantara yang satu dengan yang lainnya.

Menghadapi serbuan paham Pluralisme Agama ini, maka para tokoh agama-agama tidak tinggal diam. Seorang tokoh Katholik, Prof. Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa Pluralisme Agama sebagaimana yang diperjuangkan di kalangan Kristen oleh teolog-teolog seperti John Hick, Paul F. Knitter (Protestan), dan Raimundo Panikkar (Katholik), adalah paham yang menolak ekslusivisme kebenaran.[3] Paus Paulus Yohanes II, pada tahun 2000, mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’. Penjelasan ini, selain menolak paham Pluralisme Agama, juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus.[4]

Dalam Dokumen Keesaan Gereja-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (DKG-PGI) yang diputuskan dalam Sidang Raya XIV PGI di Wisma Kinasih, 29 November-5 Desember 2004, masalah Pluralisme Agama tidak dibahas secara eksplisit. Tetapi, dokumen ini menunjukan sikap ekslusivitas teologis kaum Protestan. Misalnya, bisa dilihat dalam Bab IV: Bersaksi dan Memberitakan Injil Kepada Segala Makhluk, yang menegaskan: Gereja Harus Memberitakan Injil Kepada Segala Makhluk.

Penjelasan-penjelasan  tentang  agama  Hindu  yang  dilakukan  oleh  berbagai kalangan  Pluralis  Agama,  tampaknya  membuat  kaum  Hindu  merasa  ‘gerah’  dan  tidak tenang.  Maka,  mereka  pun  melakukan  perlawanan,  dengan  membantah  pendapat-pendapat  kaum  Pluralis  Agama.  Salah  satu  buku  yang  secara  keras  membantah  paham Pluralisme Agama, adalah buku Semua Agama Tidak Sama, terbitan Media Hindu tahun 2006. Dalam  buku ini  paham Pluralisme Agama disebut  sebagai paham  ‘Universalisme Radikal’ yang intinya menyatakan, bahwa “semua agama adalah sama”. Buku ini diberi kata pengantar oleh Parisada Hindu Dharma, induk umat Hindu di Indonesia.  Editor  buku  ini,  Ngakan  Made  Madrasuta  menulis  kata  pengantarnya  dengan judul “Mengapa  Takut  Perbedaan?” Ngakan mengkritik  pandangan  yang  menyamakan semua  agama,  termasuk  yang  dipromosikan  oleh  sebagian  orang  Hindu  Pluralis  yang sering mengutip Bagawad Gita IV:11:   “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”    Padahal, jelas Ngakan: “Yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga yaitu Karma  Yoga,  Jnana  Yoga,  Bhakti  Yoga,  dan  Raja  Yoga.  Semua  yoga  ini  ada  dalam agama Hindu, dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan banyak jalan, bukan  hanya  satu  –  bagi  pemeluknya,  sesuai  dengan  kemampuan  dan kecenderungannya.”[5]

Majelis  Ulama  Indonesia, melalui  fatwanya pada  tanggal  29  Juli  2005  juga  telah menyatakan bahwa paham Pluralisme Agama bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluk paham ini. MUI mendefinisikan Pluralisme Agama sebagai suatu paham yang  mengajarkan  bahwa  semua  agama  adalah  sama  dan  karenanya  kebenaran  setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya  agamanya  saja  yang  benar  sedangkan  agama  yang  lain  salah.  Pluralisme  juga mengajarkan  bahwa  semua  pemeluk  agama  akan  masuk  dan  hidup  berdampingan  di surga. Dr. Anis Malik Thoha, pakar Pluralisme Agama, yang juga Mustasyar NU Cabang Istimewa  Malaysia,  mendukung  fatwa  MUI  tersebut  dan  menyimpulkan  bahwa Pluralisme Agama memang sebuah agama baru yang sangat destruktif terhadap Islam dan agama-agama lain.[6]

 

Apakah Semua Agama Benar

 

Jadi, dalam konsepsi Islam, sekedar meyakini dan mengatakan bahwa Allah memiliki anak saja sudah dikatakan kafir, apalagi jika mengatakan Allah itu memiliki tandingan yang setara dengan-Nya dan mengatakan semua sesembahan selain Allah itu sebagai suatu jalan yang benar. Jelas itu adalah paham yang sangat keliru dan menyesatkan.

Karena apabila dalam dunia ini memang memiliki berbagai macam agama dan aliran kepercayaan dan semuanya mengatakan bahwa agama dan aliran kepercayaannya lah yang benar, maka bukan berarti kebenaran itu milik semuanya hanya karena masing-masing dari mereka mengatakan bahwa merekalah yang benar. Seperti jika ada yang mengatakan tiga di tambah empat sama dengan lima, enam, tujuh, delapan atau sepuluh, bukan berarti semua jawaban itu benar hanya karena mereka mengklaim bahwa perhitungannya lah yang benar. Begitupun juga dalam beragama, kebenaran dalam segi pokok (akidah) adalah mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Pun agama juga memiliki ‘rumus’ (aturan syariat) dalam menjalankannya. Tidak bisa kita asal menggunakan rumus tersebut sesuai dengan selera kita.

Namun Islam sendiri adalah agama yang sangat toleran terhadap agama lain. Islam mengakui adanya pluralitas dalam beragama namun tidak dengan pluralisme. Konsep ‘tidak ada paksaan dalam memeluk agama’ dan ‘bagimu agamamu dan bagiku agamaku’ sudah sangat jelas dalam Al-Qur’an. Walaupun setiap umat muslim wajib menyampaikan kebenaran kepada orang-orang diluar Islam, bukan berarti mereka harus menggunakan paksaan untuk masuk kedalamnya.

Bukti-bukti kebenaran dan keagungan Islam pun sangat banyak. Dan dalam dunia sains juga telah membuktikan bahwa satu-satunya kitab suci yang sejalan dengan ilmu pengetahuan hanyalah kitab sucinya umat Islam (Al-Qur’an). Satu-satunya Tuhan yang ingin dikenal oleh hamba-Nya melalui sains hanyalah Allah melalui penciptaan langit dan bumi, fenomena alam, bahkan penciptaan binatang yang semuanya tercantum dalam Al-Qur’an. Dan Allah juga sudah sangat tegas mengatakan dalam Q.S Ali-Imran ayat 85 yang artinya ‘Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.’ Dan juga pada Q.S Ali-Imran ayat 19 yang artinya ‘sesungguhnya agama (yang dirihoi) disisi Allah hanyalah Islam.

PENULIS: Ferizco Khusyufi Setiawan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

[1] Adian Husaini, Pluralisme Agama: Musuh Agama Agama, (Jakarta: Dewan Dakwah Islam Indonesia, 2010), hal. 4

[2] Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, (New York: HarperSanFransisco, 2002)

[3] Frans Magnis Suseno, Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk, (Jakarta: Penerbit Obor, 2004), hal. 138-141.

[4] Dominus Jesus dikonsep dan semula ditandatangani oleh Kardinal Ratzinger – sekarang Paus Benedictus XVI – dan dikeluarkan pada 28 Agustus 2000

(http://www.vatican.va/roman-curia/congregations/cfaith/documents/re_cfaith_doc_20000806_dominus-jesus en.html, 5 Maret 2005)

[5]Ngakan Made Madrasuta (ed), Semua Agama Tidak Sama, (Media Hindu, 2006) hal. xxx

[6]Lihat, pengantar Dr. Anis Malik Thoha pada buku Adian Husaini, Pluralisme Agama: Haram (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2005). Disertasi Dr. Anis Malik Thoha tentang Pluralisme Agama di Universitas Islam Internasional Islamabad juga telah diterbitkan oleh GIP dengan judul ‘Tren Pluralisme Agama’. Edisi bahasa Arab buku ini mendapatkan penghargaan Faruqi Award oleh Internastional Islamic University Malaysia. Diskusi lebih jauh tentang Pluralisme Agama dalam Islam bisa dilihat di Majalah ISLAMIA edisi 3 dan 4.

About the Author

Tentang azfiz:
バグジャー ⭐ ヌグラーハー || Selalu CERIA dan Penuh SEMANGAT! • Sobat Pena Al Qolam • Voluteer No Tobacco Community • Pembaharu Muda Gerakan Muda FCTC

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: