banner ad Startup UIN

Individu Sebagai Representasi Kelompok (Kasus LDK)

Yang nulis on di Artikel, Mahasiswa, Sosial | Jul 22, 2017 | 0 Komentar

Ketika kita maju ke atau berada pada muka publik dalam kehidupan nyata maupun sosial media. Perlu diingat bahwa dalam worldspace dan cyberspace ini kita tidak hanya dilihat sebagai individu, namun, kita juga merupakan representasi dari organisasi yang kita ikuti. Alias, manusia di luar sana juga akan melihat latar belakang kita saat kita berperilaku di dua dunia tersebut. Terus kenapa ya? 

 

Individu Sebagai Representasi Kelompok

 

Begini, berarti apa-apa yang kita lakukan, baik atau buruk, yang kena imbas bukan hanya pribadi kita, namun nama organisasi pun juga (bisa juga seperti nama keluarga, kampus,  sekolah kita dahulu, intinya kelompok-kelompok formal-informal primer-sekunder). Misal, sudah menjadi stereotip bagi mereka yang bukan anggota LDK (Lembaga Dakwah Kampus) mengenai image keshalihan anak LDK – meski kita semua tahu bahwa itu bukan sesuatu yang bisa digeneralisasi – bahkan ikut LDK justru ingin shalih dan terjaga keshalihannya.

Di satu sisi, seorang anak LDK yang shalih adalah berita biasa untuk mereka. Di lain sisi, mereka akan bertanya-tanya ketika melihat sesuatu yang menyimpang dari stereotip mereka yang mestinya tidak dilakukan oleh anak LDK di dunia nyata maupun maya.

Dalam Kode Etik LDK –yang in syaa Allah berlandaskan Qur’an dan hadits– pada bab ‘Adab Interaksi Ikhwan-Akhwat’ sudah tertulis jelas. Dan meski mereka orang luar tidak mengetahui kode etik itu, mereka tahu bahwa penyimpangan itu tidak seharusnya kita lakukan sebagai anak LDK (ya yang mestinya adab-adab itu pun dilakukan oleh semua muslim termasuk mereka)

Nah, adab-adab tersebut mestinya juga digunakan di cyberspace. Mending, apabila perilaku/ kegiatan yang menurut kita biasa saja atau tidak ada potensi menyimpang atau kita anggap lumrah atau dengan label kegiatan islami karena pakai bahasa arab (padahal ya ada sesuatunya) hanya kita lakukan di dunia nyata.

Untung rugi kita yang simpan, tak perlu ada benda hidup mati lain yang jadi saksi melainkan Allah sendiri saksinya juga menjadi hakim dari potensi pahala atau dosa dan para malaikat-Nya yang mencatat.

Tapi, bagaimana jika hal tersebut kita abadikan dalam sebuah potret, lalu kita taruh pada akun sosial media kita, tidak sekedar berlalu seperti halnya perilaku dalam nyatanya ruang waktu. Namun dia tetap ada dan tersimpan dalam mayanya dunia satu itu. Kemudian para followers kita, juga selain mereka yang pikirannya sudah terkonstruk atau bahkan kawan kita satu LDK melihatnya.

Satu mata, disampaikan pada mata lain, terus entah berhenti di mata mana. Mulut dan pikiran juga ikut menafsirkan sendiri potret dan caption kita. Berlagak intel “break the code”. Mereka tahu apa yang kita lakukan, kemana, dengan siapa, berlatar belakang apa, dari organisasi mana. Padahal, itu adalah sebuah pilihan. Yang mestinya hanya Allah, malaikat dan hitungan jari manusia yang tahu. Tapi kita malah memilih membuat makhluk seantero jagat maya berbasis jagat nyata tahu.

So, konstruksi pikiran mereka tentang anak LDK akan tergores. Kecewa? Beberapa mengatakan iya, bahkan topik tersebut menjadi santapan malam mereka. Sudah  bukan sekedar prasangka. Why? Karena anak LDK adalah contoh, representasi dari organisasi dan agamanya. Walau manusia memang tidak luput dari kesalahan–dan anak LDK juga termasuk manusia. Banyak yang orang harapkan dari anak LDK meski hanya berperilaku baik. Dan meski itu hanya segelintir kelalaian dari berjuta kebaikan. Tetap saja, setitik tinta merah pada selembar kertas putih akan lebih menarik untuk diperhatikan.

Ikhwah fillah. Jangan mau didalangi nafsu, kalahkan deh untuk menghilangkan mudharat dan mendatangkan maslahat.  Apabila kita menjaga diri kita di worldspace apalagi cyberspace, kita juga membantu menjaga hati, lisan, serta pikiran saudara-saudara kita di luar sana.

Kita tidak menyuguhkan diri kita sendiri untuk menjadi santapan malam mereka atau mungkin makan siang mereka bersama kawan-kawannya. Nama kita sebagai invidivu terjaga, nama organisasi pun terjaga, dan yang paling penting Islam dengan kita sebagai representasinya terjaga. Terus semua ini kita lakukan karena Allah semata. 

Then, apakah LDK perlu membuat Cyberethic? Apa Qur’an dan Sunnah belum cukup? Bukankah Allah selalu melihatmu? Bersamamu? Malaikat juga mencatat bukan?

 

Amiradhana Salsabila | 22 Juli 2017

Tags: , , , ,

About the Author

Tentang ldksyahid:
Lembaga Dakwah Kampus Syahid | Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta | 28 Mei 1996 | #KitaAdalahSaudara

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: