banner ad Startup UIN

Dari Seorang Guru yang Muridnya Terpengaruh Arap Influence

Yang nulis on di Artikel, Sosial, Umum | Agu 2, 2017 | 0 Komentar

Dari: Seorang Guru yang Muridnya Terpengaruh Arap Influence.

Kepada: Reza Arap, Youtuber, dan semua yang membaca ini.

 

Sebelumnya saya mau bilang thanks sama lo Rap, dan om Dedy yang udah coba angkat topik yang bener-bener “butuh” untuk dibahas, yaitu masalah ngomong kasar seperti anj*ng dan sebagainya, dan big thanks buat ka Manji yang udah buka  perspektif baru dalam topik ini.

 

Guru Murid Arap 01

 

Well, ketika saya coba nonton vlog nya om dedy sama  Arap, saya ngerasa appreciate banget. Karena udah coba buka celah dalam keresahan-keresahan para orang tua dan pendidik. Tetapi, saat saya nonton itu, ada sedikit perasaan di sudut hati saya yang ngomong “tapi kan…” dan bantahan-bantahan lainnya. Disitu saya pengen coba kasih perspektif baru ke Arap dan om Dedy bahwa “mendidik gak semudah itu loh”, akhirnya alhamdulillah keresahan saya sudah diwakilkan oleh ka Manji, dan mungkin sedikit saya tambahin.

 

Jadi ya, saya ngajar di salah satu SD yang murid-muridnya lagi maruk-maruknya main facebook, nonton youtube, dsb (iya, pertama kali saya ngajar, bahkan mereka pada minta nama FB saya). Oke, saya masih anggap wajar ketika mereka sibuk ber alay ria di facebook, mengirim pesan ke saya berkali-kali, dan sibuk minta konfirmasi pertemanan setiap hari. Saya juga memaklumi, ketika mereka bahkan hafal beberapa lagu di chart Billboard (saya belum ngecek lagi, mungkin sekarang mereka udah tau lagu Despacito). Tapi yang bikin saya jungkir balik, ketika mereka bahkan dengan santainya mengacungkan jari tengah ke saya sambil bernyanyi “f*ck pencitraan, nakal tapi tampan” dan ngomong jorok didepan muka saya. Kebayang gak sih rap, kalau lu jadi guru baik-baik terus digituin sama murid sendiri. Ketika saya tanya “kamu tahu gak itu artinya apa?” mereka menggeleng. Mereka gak tahu.

 

Yang membuat saya khawatir, saya gak tahu sudah berapa lama anak-anak ini membiasakan diri mereka ngomong begitu. Sebulan kah? dua bulan? atau lebih?

 

Kenapa disini saya mengkhawatirkan itu?

iya, karena pengucapan-pengucapan itu kemungkinan besar bisa menjadi KEBIASAAN, dan tahu kan, KEBIASAAN itu akan susah dihilangkan. Seperti adik sepupu saya yang susah menghilangkan kebiasaan mengemut jempol ketika tidur.

 

kemudian lu bilang disini orang tua yang harus pintar-pintar ngedidik anak?

well ga ada yang salah dengan statement itu sih. Bahkan anak yang keluarga dan lingkungannya baik aja bisa menjadi jahat jika dalam didikan yang salah. Tapi balik lagi ke pendapat ka Manji “gimana kalau anak tersebut gak punya orang tua? atau orang tuanya gaptek? atau dengan alasan-alasan lain?”.

 

Guru Murid Arap 02

 

Disini saya coba gambarkan lingkungan sekolah dan lingkungan rumah murid-murid saya (yang gak begitu jauh dari sekolah). Gak seperti yang ka Manji bilang, bahwa lingkungannya lebih pelosok atau orangtuanya lebih udik. Engga. Sekolah tempat saya mengajar berada di daerah kota dengan perkampungan yang sedikit kumuh dan padat. Orang tua nya? saya yakin mereka tahu youtube dan sebagainya. Tapi yang memprihatinkan, banyak dari mereka yang orang tuanya sudah bercerai sehingga kurang perhatian (ya, orangtua mereka gak seperhatian om Dedy. Bahkan beberapa dari mereka benci sama ibu/bapak mereka) atau kurang mampu, sehingga sibuk cari uang dan sepertinya hanya bisa memperhatikan anak-anaknya barang 5-6 jam setelah pulang kerja, atau bahkan anak-anak yang sudah diawasi dan dibatasi oleh orangtuanya, namun bersikeras untuk melawan seperti pergi ke warnet diam-diam tanpa orangtuanya tau. Sebagai tambahan, mereka kebanyakan mennontonnya dari warnet, bukan gadget sendiri.

 

Orang tuanya gak akan mungkin bisa mengawasi mereka 24 jam. Apalagi kami, hanya guru yang cuma 4,5 jam bersama mereka disekolah (mungkin sebentar lagi 7 jam, mengingat K13 bakal dilaksanakan). Kami turut memberikan pengertian kok pada mereka, bahwa mereka harus bisa mengambil yang baik dan membuang yang buruknya. Tapi ketika kelakuan itu sudah menjadi trend dan kebiasaan, diluar jam sekolah ya tetap saja mereka akan melakukannya tanpa sepengetahuan kami.

 

Rap, pendidikan itu bukan hanya tugas orang tua dan guru, namun juga semua orang-orang terdidik di negeri ini. Tidak, saya tidak menyalahkan para KREATOR. Tapi setidaknya, cobalah melekatkann sedikit pertanggungjawaban pendidikan di hati kalian. Saya gak ngelarang lu ngomong gitu. Tapi coba untuk tidak menjadikannya sebagai kebiasaan di depan publik. Anak-anak tuh gak akan bisa cuma dibilangin “ambil yang baiknya, buang yang jeleknya ya”. Engga. Mereka lebih bisa berubah karena contoh daripada perintah. Ibarat orang tua nyuruh anaknya belajar, tapi emaknya malah nonton serial India, gak merhatiin anaknya ngerti pelajarannya atau kagak. Miris kan? 🙁

 

Pemerintah sudah semangat menggalakkan pendidikan moral bagi anak-anak bangsa. Kenapa tidak coba didukung? Kalau lu bilang gak cuma lu yang begitu tapi juga banyak kreator lain, setidaknya jadilah kreator yang berbeda. Setidaknya jangan menambah beban pemerintah dalam menyukseskan pendidikan moral. Ditambah lagi, kata-kata kak Manji itu bener. Lu udah jadi role model. Lu udah bener-bener mempengaruhi mereka.

 

Okay, saya juga anak muda yang gak alim-alim banget kok. Masih kuliah. Kadang ada saat dimana saya juga ngomong yang gak sopan di lingkaran pertemanan saya. Tapi mengerti situasi dan kondisi jadi sesuatu yang penting untuk kita terapkan. Berekspresi boleh, tapi diimbangi dengan etika. Gimana? cocok kam rasa?

 

Udah deh. Segini aja. Maaf jadi terkesan curcol. Tapi harapan saya, semoga ini bisa jadi pertimbangan buat kita semua, apalagi Arap (syukur2 tulisan ini dibaca dia. wkwk) dan juga ditambah sedikit pelajaran bahwa “ketika lo nuntuk hak, terutama berekspresi, ada yang juga harus lo pertanggung jawabkan”.

 

*P.s:

saya ingin menambahi sedikit, terkait banyaknya respon dan komentar serta masukan dalam tulisan ini. Tapi yang ingin saya tekankan, tulisan ini saya sampaikan sebagai media untuk berpikir lebih dalam, lebih bijak bahkan kalau bisa kita mencari sama-sama solusinya. Jadi tolong, jangan ada yg menghujat orang yang kita maksudkan disini dengan kata-kata yang kurang pantas di kolom komentar, seperti golok, smpah, dsb. Saya lebih apresiasi teman-teman yanng kontra namun bisa menyampaikan opini dengan santun. Jika kita tidak setuju kemudian menghina, sama saja kita lebih rendah dari orang yang dihina. Yuk, jadilah netizen yang cerdas dan santun dalam ber speak up!

 

Penulis: Andini Aprilia Wibowo, UIN Sumatera Utara

Tags: , , ,

About the Author

Tentang azfiz:
バグジャー ⭐ ヌグラーハー || Selalu CERIA dan Penuh SEMANGAT! • Sobat Pena Al Qolam • Voluteer No Tobacco Community • Pembaharu Muda Gerakan Muda FCTC

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: