banner ad Startup UIN

Kisah Bunda Helvy Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra

Yang nulis on di Artikel, Event Internal Kampus, Featured, News, UIN Jakarta | Okt 22, 2017 | 0 Komentar

Helvy Tiana Rosa adalah salah seorang penulis sastra terbaik Indonesia. Beliau telah menerbitkan tidak kurang dari 50 buku, mendapat 40 penghargaan tingkat nasional di bidang penulisan dan pemberdayaan masyarakat. Beliau hadir pada hari Senin, 16 Oktober 2017 di Aula Fakultas Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Beliau hadir sebagai salah satu narasumber dalam Seminar Nasional, Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra. Dalam seminar tersebut, Bunda Helvy -sapaan akrab beliau- menceritakan awal komitmennya untuk menuliskan karya sastra dengan nuansa keislaman. “Saya memiliki komitmen untuk menulis karya dengan nuansa keislaman, walau dengan pengetahuan keislaman yang masih sangat terbatas, pada umur 18 tahun saat memutuskan untuk hijrah dan menggunakan hijab,” tutur Bunda Helvy.

 

Kisah Bunda Helvy Tiana Rosa Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra

 

Sebenarnya, Bunda Helvy sudah menulis sejak usia kelas 3 SD. Karya-karyanya tersebut dimuat di berbagai koran dan majalah. “Namun pada masa-masa itu, karya-karya saya belum mencerminkan nilai-nilai keislaman,” ungkapnya. Bunda juga menambahkan, “Tingkat peradaban sebuah bangsa, ditentukan dari seberapa banyak pembaca dan penulis yang ada.”

Karya religi Bunda Helvy lahir dari analisis beliau terhadap kebutuhan ummat. Ia juga ingin karyanya menjadi sarana untuk menyampaikan pengetahuan keislaman yang beliau dapatkan. “Misalnya, saya mengetahui tentang Alif. Saya ingin menyampaikan ilmu itu, maka saya menulis karya,” ujarnya. Tak jarang, Bunda juga melihat bagaimana sastrawan-sastrawan lain menuliskan nuansa keislaman dalam karya-karya mereka. Seperti Buya Hamka, Taufik Ismail, Mohammad Diponegoro, dan lain-lainnya.

 

Kisah Bunda Helvy Tiana Rosa Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra

 

Bunda Helvy memiliki motivasi kuat dalam menulis karya sastra religi. Beliau ingin karya-karyanya menjadi salah satu perantara umat dalam menjemput hidayah. “Orang mendapat hidayah atau tidak, memang urusan Allah. Tapi saya ingin, bagaimana dengan karya saya, dapat menjadi salah satu yang mengantarkan orang dalam menjemput hidayah. Alangkah bahagianya jika bisa menjadi perantara hidayah,” ungkap penulis kelahiran Medan 2 April 1970 ini.

Sebagai contoh, karya beliau “Ketika Mas Gagah Pergi.” KMGP, adalah cerita remaja yang pada awalnya dibuat sebagai tugas akhir Bunda Helvy pada tahun 1992. Kemudian, KMGP terbit pertama kali sebagai buku pada tahun 1997 (dan terus dicetak hingga kini). “Alhamdulillah, KMGP dapat menjadi perantara hidaya bagi banyak orang,” ujarnya.

Bunda menceritakan bagaimana dirinya dikirimi surat oleh para pembaca KMGP. Beberapa tertulis, “Mbak Helvy, saya merasa mendapatkan hidayah sejak membaca KMGP. Saya memutuskan untuk berhijab.” Kemudian ada pula yang tertulis “Alhamdulillah, setelah orang tua saya membaca KMGP, beliau mengizinkan saya untuk berhijab,” dan “Alhamdulillah setelah membaca KMGP, abang saya ikut berhijrah seperti Mas Gagah.”

Bunda mengatakan bahwa banyak sekali nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita gubah menjadi sebuah karya sastra. “Narasi-narasi kecil seperti senyum dan membuang sampah pada tempatnya; hal-hal sederhana seperti itu, jangan diabaikan. Banyak kisah-kisah kecil yang mampu menginspirasi banyak orang.” Beliau juga mengaku mendapat motivasi dari dosennya semasa kuliah. “Dosen saya bilang, ‘Kamu menulis dengan cara yang berbeda. Kamu menulis cerita pendek dengan benang keislaman yang tebal. Dan kamu perempuan,'” ujarnya.

Ada cerita lain lagi, saat beliau rutin menulis di blognya seputar parenting yang berawal dari kehidupan rumah tangga sehari-hari. Rupanya para pembaca blog, ingin tulisan-tulisan tersebut dibukukan. Hingga akhirnya dibukukan dengan judul ‘Catatan Pernikahan.’ “Hingga kemudian, banyak yang mengirimi saya email dengan pesan, ‘Mbak Helvy, terima kasih sudah menyelematkan pernikahan kami.'” ungkap dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ ini.

 

Kisah Bunda Helvy Tiana Rosa Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra

 

Bunda Helvy ingin karya sastranya bukan hanya menjadi jejaknya di dunia, tapi juga lentera di akhirat. “Saya tak akan memasukan hal-hal mudharat di dalam karya saya yang mengatasnamanakan seni,” tegasnya. Beliau juga mengatakan ingin melakukan amar makruf nahi munkar melalui karya sastra.

Dalam menulis karya sastra, Bunda mengaku selalu menggunakan kacamata anak muda. Bunda juga menyampaikan ada 3 hal, supaya kita tidak menulis dengan menggurui. “Pertama, tulis dari hati. Apa yang berasal dari hati, akan sampai ke hati,” ujarnya. Bunda melanjutkan bahwa hal kedua adalah menulis menggunakan ilmu. Jangan sampai kita menulis apa yang tidak kita kuasai atau pahami ilmunya. “Ketiga, lihat kebutuhan ummat,” terang Bunda.

 

Kisah Bunda Helvy Tiana Rosa Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra

 

Dr. Siti Amsariah, M.Ag, narasumber kedua dalam agenda Seminar Nasional ini, menyampaikan bahwa sastra adalah refleksi pengarang terhadap realitas. Sastra Religius, adalah ekspresi keimanan terhadap inti ajaran agama. “Apa yang dilakukan Bunda Helvy, adalah ekspresi keimanan beliau. Itulah dakwah. Menjadi Dai tanpa perlu menjadi Ustadzah,” ujarnya.

Karena sastra adalah refleksi pengarang terhadap realitas, karenanya ia menjadi sebuah dokumen sosial. “Karya sastra dapat menjadi rujukan cerminan masyarakat, karena ia berbasis pada fakta kehidupan,” terang dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Jakarta ini. Sebagaimana karya-karya Bunda Helvy yang mencakup hubungan suami-istri, hubungan orang tua dengan anaknya, dan semisalnya.

Bu Aam, sapaan akrab beliau, mengatakan bahwa ada 2 misi sastra. “Pertama, sastra untuk sastra (seni) dan kedua, sastra untuk kemanusiaan,” ujarnya. ‘Sastra untuk sastra (seni)’, berarti pengarang tidak memedulikan bagaimana isi dari karyanya. Apakah ternyata mengandung unsur-unsur yang kurang etis atau semisalnya. Ia akan tetap membuatnya dengan tujuan sebagai seni.

 

Kisah Bunda Helvy Tiana Rosa Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra

 

Beliau mengajak kepada para peserta seminar untuk mengikuti jejak Bunda Helvy, “Adik-adik tulislah ekspresi kalian terhadap realitas, dan sisipkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.” Nilai-nilai kemanusiaan (sebagaimana misi sastra yang kedua), juga mencakup nilai-nilai religi. “Mari membuat jejak, dan jadikan ia sebagai bagian dari amal kita,” ajak beliau.

Dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama Fakultas Dirasat Islamiyah, Dr. Cahya Buana, MA, seminar nasional “Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra” menjadi bagian dari rangkaian agenda HAMASAH (Harakah Musabaqah al Lughah al Arabiyyah). Diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa FDI, HAMASAH diikuti oleh peserta dari pesantren se-Jabodetabek dan mahasiswa univ se-Indonesia.

 

Kisah Bunda Helvy Tiana Rosa Membumikan Nilai-Nilai Islam Melalui Karya Sastra

 

Dr. Cahya Buana mengatakan bahwa tema seminar nasional ini dipilih sebagai respon atas keprihatinan terhadap generasi muda yang terlihat luntur kecintaannya kepada karya sastra religi. “Semoga dengan diselenggarakannya seminar ini, mampu memotivasi generasi muda untuk mencintai karya sastra religi,” ungkapnya. Selain diisi dengan pemaparan oleh Bunda Helvy dan Bu Aam, seminar ini juga dimeriahkan dengan penampilan seni islami.

 

 

Sumber Foto: Arsip HAMASAH 2017

Tags: , , , , , , ,

About the Author

Tentang azfiz:
バグジャー ⭐ ヌグラーハー || Selalu CERIA dan Penuh SEMANGAT! • Sobat Pena Al Qolam • Voluteer No Tobacco Community • Pembaharu Muda Gerakan Muda FCTC

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: