banner ad Startup UIN

Tahukah Kamu? Inilah Peran Psikologi Islam dalam Merajut Kebhinekaan

Apa sih Psikologi Islam itu? Adakah hubungannya dengan Kebhinekaan Indonesia?

Yuk simak secuil ilmu yang didapat dari event Seminar Nasional bertemakan “Peran Psikologi Islam dalam Merajut Kebhinekaan” 1 Oktober 2017 lalu di Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung!

Dewan Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung mengambil tema demikian dilatarbelakangi oleh keretakan-keretakan yang terjadi di Indonesia. Disinyalir, hal itu berasal dari konflik kebhinekaan di Indonesia sendiri. Diharapkan dengan adanya diskusi ini, kita sebagai Agent of Change dapat menemukan solusi terbaik dalam merajut kebhinekaan.

Indonesia terdiri dari 300 etnik, 700 bahasa daerah, 6 agama resmi & puluhan aliran kepercayaan yang menjadikannya disebut Bhineka Tunggal Ika. Namun pada dewasa ini, kita sering menuduh bahwa kebhinekaan inilah sumber konflik perpecahan yang terjadi di Indonesia. Tahukah kamu, ternyata presepsi ini salah besar! Menurut para narasumber, konflik kebhinekaan ini berasal dari diri kita sendiri. Manusia yang memiliki paham, perilaku dan sifat yang berbeda-beda.

Menurut Dr. Ichsan Malik, dalam diri manusia terdapat 4 sumber konflik, yaitu Identitas Individual & Kolektif, Kecenderungan Eksklusif, In-group Favoritism (merasa bahwa kelompok kita yang terbaik), dan Stereotipe (prasangka terhadap sesuatu).

Dari sisi psikologi pada manusia inilah konflik bermunculan. Reaksi yang sering kita pilih dalam menghadapi masalah dari konflik tersebut biasanya dengan lari untuk menghindari masalah. Sebenarnya, ada 3 tipe reaksi seseorang saat berhadapan dengan sebuah masalah, yaitu (1) Agresif atau menghadapi suatu permasalahan dengan mengeluh, marah-marah tanpa berpikir atau bertindak menemukan solusinya, kemudian dengan (2) Lari atau menghindari suatu permasalahan, dan yang terakhir adalah cara yang paling elegan dan yang seharusnya kita ambil yaitu dengan (3) menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Namun, bagaimana cara agar kita sebagai generasi muda dapat mengubah kebiasaan lari dari masalah? Beliau mengingatkan kita bahwa ketika masalah karena konflik muncul, ada 3 yang harus menjadi tujuan dalam mencapai perdamaian, yakni:

  1. Forgiveness, memaafkan masa lalu. “Tidak perlu untuk melupakan masa lalu dan jangan dendam terhadap masa lalu. Masa lalu adalah sejarah,” ujar Dr. Ichsan Malik. Beliu juga menguti perkataan Ir. Soekarno, “Jas Merah”, jangan melupakan sejarah. Maka penting untuk mengingat masa lalu agar menjadi pelajaran hidup. “Berdamailah dengan masa lalu,” kata Doktor Psikologi Perdamaian itu.
  2. Justice. Peradilan untuk para provokator.
  3. We-ness. Dalam dunia Psikologi berarti kekitaan. Masyarakat pada umumnya akrab menyebutnya sebagai “togetherness” atau kebersamaan. Elemen “we-ness” sendiri diantaranya yaitu memori kolektif, harapan, rasa percaya, empati dan identitas bersama.

 

Peran Psikologi Islam dalam Merajut Kebhinekaan

 

Narasumber kita yang ke-2 adalah Drs. H Erry Ridwan Latief, M.Ag. Beliau berpendapat bahwa konflik yang sering muncul itu sebagian besar selalu menyinggung soal agama. Mengapa? “Karena Indonesia terdiri dari beragam agama dan kepercayaan sebagai bagian dari kebhinekaan ini,” ujar Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kab. Bandung ini.

Konflik ini disinyalir akibat dari hoax di mana-mana. Apalagi, saat ini media sosial menjadi medium utama penyebaran berbagai informasi yang terkadang kita tidak pernah menyaring benar atau salahnya pemberitaan tersebut. “Seperti contohnya penuduhan bahwa ada kelompok Islam yang ingin memecah atau merubah Pancasila. Dewasa ini hal tersebut menjadi perbincangan hangat dan sangat viral di media,” ujar beliau.

Dr. Agus Abdul Rahman M. Psi., Dekan Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengatakan bahwa ilmu psikologi terbagi menjadi dua, ilmu Psikologi Modern dan Psikologi Islam. “Psikologi modern menggunakan ilmu empiris dan Psikologi Islam berlandaskan kepada Al Quran dan Al Hadits,” ujar beliau.

Dikatakannya bahwa saat ini guna merajut kebhinekaan itu kita perlu untuk saling memahami realitas perilaku dan proses mental manusia dengan penelitian terhadap Al Quran dan Al Hadits. “Jangan hanya bertumpu pada Psikologi secara keilmuan saja, yang kadang tidak menyokong pada sikap seharusnya terhadap suatu konflik. Al Quran dan Al Hadits (Sunnah) memuat banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan manusia yang sebenarnya. Karena kalamullah adalah sebenar-benarnya yang paling memahami manusia, termasuk dalam menyikapi kebhinekaan,” ujar Dewan Pertimbangan Asosiasi Psikologi Islam (API) ini.

Menanggapi keberagaman dalam agama, beliau menyatakan bahwa dari sisi Psikologi Islam, menurut Al Quran tidak ada keterpaksaan dalam beragama. “Hal itu tercantum di surat Al Baqarah ayat 256, surat Yunus ayat 99, surat Al Hujurat ayat 13 dan surat Al Mukminun ayat 53,” ujar Dr. Agus Abdul Rahman M. Psi.

Manusia pada dasarnya berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Kita menjadi bhineka karena berbagai aspek, seperti status sosial dan sebagainya. Psikologi Islam tidak memandang kebhinekaan secara demikian. Perbedaan kita hanyalah dalam urusan taqwa kepada Allah SWT.

 

Kutipan Favorit:

“Hati bisa berbicara sehingga ada ‘Kata Hati.’ Hati juga bisa melihat sehingga disebut ‘Mata Hati.’ Jika hati sudah mati, maka jangan berbicara tentang Kebinekaan.”

“Kita tidak bermakna apa-apa. Tapi ketika kita bercita-cita ingin dihargai oleh Allah, maka cita-cita itulah yang menjadi pangkal pokok untuk kebersamaan mencapai kebhinekaan di negara kita, Indonesia.”

 

Sebagai generasi muda dan sebagai agen perubahan, yuk kita rajut kebhinekaan melalui diri kita sendiri dengan landasan nilai-nilai Islam di dalamnya.

Tags: , , , , ,

About the Author

Tentang tasya augustiya:
Namaku Tasya Augustiya, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Psikologi dari Fakultas Psikologi, Angkatan 2017.

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: