banner ad Startup UIN

Bukankah Kita adalah Saudara?

Yang nulis on di Artikel, Sosial, UIN Jakarta | Nov 8, 2017 | 0 Komentar

Indonesia adalah negara dengan populasi masyarakat muslim terbesar di dunia. Masyarakat Indonesia juga dikenal ramah dan santun serta amat menjaga kerukunan dengan toleransi. Toleransi tersebut telah terbangun sejak lama. Mulai dari toleransi beragama, suku, dan ras. Sehingga, satu sama lain sudah terasa seperti saudara sendiri.

 

Kita Adalah Saudara

 

Namun, semakin hari Indonesia mulai diberikan berbagai macam cobaan yang berat. Bermula dari penjajahan dengan fisik serta eksploitasi kekayaan alam secara masif hingga penjajahan melalui pemikiran yang dapat menghilangkan jati diri bangsa.

Upaya-upaya tersebut sejatinya ditujukan kepada umat Islam dengan paham-paham yang sangat berbahaya seperti liberalisme, sekulerisme, pluralisme dan yang lainnya. Bahkan MUI sendiri sampai mengeluarkan fatwa tentang sesatnya ketiga paham tersebut. MUI mengatakan dalam fatwanya pada tahun 2005 bahwa “Paham Sekularisme, Pluralisme (Agama), dan Liberalisme bertentangan dengan Islam dan haram bagi umat Islam untuk memeluknya.”

Maraknya penggunaan media sosial di Indonesia juga membantu menyuburkan budaya westernisasi. Melalui media, budaya dan paham apapun dapat diakses dengan mudah. Dampak negatif dari media sosial itu membuat budaya seperti LGBT, dan paham seperti syiah dan komunisme semakin menunjukan ‘taringnya’ ke khalayak publik. Mereka memosisikan diri sebagai ‘kaum yang tertindas’ akibat diskriminasi. Memutarbalikan fakta dan kenyataan bahwa mereka adalah kaum yang ‘berpenyakit’ dan juga sesat.

Saya tidak akan membahas paham-paham tersebut, karena sudah banyak ulama, ustadz, dan dai yang membuat tulisan-tulisan tentang bahayanya. Selain dari paham tersebut yang membahayakan, umat Islam justru juga sedang ‘diserang’ oleh umat Islam itu sendiri dengan paham yang mengatakan bahwa “Kamilah pengikut generasi Salafus Shalih. Ayo kembali kepada Alquran dan Hadits sesuai dengan pemahaman para Salafus Shalih dengan mengikuti Manhaj Salaf.”

Pasti akan ada yang bertanya, “Lalu ada apa dengan mereka yang mengatakan seperti itu? Bukankah hal itu benar?’ Ya, sekilas pernyataan tersebut memang benar. Namun, dari klaim yang mengatakan ‘kamilah pengikut generasi Salafus Shalih’ itu yang menyebabkan adanya kekeliruan dalam memandang umat Islam yang berada di luar kelompoknya. Mereka mengatakan bahwa mereka ini bukanlah sebuah kelompok, namun secara tidak langsung mereka itu telah berkelompok atas nama pengikut salaf yang dikenal sebagai ‘salafiy’.

Pada akhirnya, muncul istilah-istilah baru seperti ‘ustadz sunnah’, ‘kajian sunnah’, ‘sekolah sunnah’ dan lain-lain. Mereka menganggap siapapun yang berbeda pemahaman dengan asatidzah (ustadz-ustadz) mereka, adalah sesat, syubhat, bahkan ahlul bid’ah. Mereka pun memiliki istilah-istilah tersendiri dalam memandang umat Islam, saudara mereka sendiri, yang bergabung dengan ormas Islam tertentu dengan sebutan seperti ‘harokiyyun’, ‘hizbiyyun’, dan ‘sururiyyun’.

Nyatanya, salah satu ‘ulama kontemporer rujukan mereka sendiri, yaitu Syaikh Albani mengatakan, “Organisasi apapun yang dibangun dengan asas Islam yang shahih, yang hukum-hukumnya diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah sesuai apa yang dipahami oleh salafus shalih, maka organisasi apapun yang dibangun dengan asas ini tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Dan tidak ada alasan menuduhnya dengan hizbiyyah.” Perkataan tersebut termaktub dalam Silsilah Huda wan Nuur, no. 290.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan dalam As-Sunnah 1/373, no. 513, “Mengeluarkan seseorang dari sunnah itu adalah berat.” Bahkan saya sendiri pun tak luput dari celaan mereka dengan istilah-istilah khas mereka.

Hal yang aneh ialah, jika salah satu ustadz mereka dikritik atau jelas-jelas keliru, mereka pun diam tanpa kata. Seakan kebenaran hanya ada pada mereka dan asatidzah favorit mereka. Selain daripadanya adalah menyimpang.

Mereka menuduh orang lain sebagai hizbiyyun (orang-orang fanatik kelompok), namun secara tidak sadar sudah terperangkap dengan perkataan mereka sendiri dan terjebak dalam sikap ta’ashub (fanatik tokoh dan golongan). Banyak sekali fakta di lapangan dengan kasus-kasus seperti yang selain saya sebutkan diatas.

Menurut saya, pemikiran seperti itu harus diwaspadai. Karena jika memiliki pemikiran tersebut, akan banyak menyakiti hati saudara kita dengan tuduhan yang tidak berdasar dan dapat menyebabkan perpecahan di kalangan umat.

Hal lain yang perlu digarisbawahi ialah, tidak semua mereka yang mengaku salafiy memiliki paham yang demikian. Masih ada saudara-saudara kita yang mengaku salafiy namun bersikap moderat terhadap saudaranya sendiri yang masih dalam satu ikatan iman. Walaupun jumlah mereka tidak sebanyak ‘mereka’ yang merasa paling mengikuti sunnah.

Pada intinya, janganlah kita salah memilih musuh-musuh kita. Jangan mau terperdaya oleh hasutan dan adu domba orang-orang kafir dan munafik agar kita terpecah belah. Jika ada perbedaan diantara sesama muslim, itu adalah hal yang wajar namun bukan berarti kita harus bertikai.

Syaikh Hasan al-Banna berkata, “Pada perkara yang kita sepakati, mari kita bekerja-sama. Dan pada perkara yang kita memiliki perbedaan, mari kita berlapang dada.”

Selagi kita masih berpedoman pada hal yang sama, memiliki rukun iman yang sama, dan terikat dalam syahadat yang sama, maka jangan bermudah-mudah untuk menuduh dan mencaci saudaramu dalam Islam. Marilah kita bersatu dalam akidah, toleransi dalam khilafiyyah, berjama’ah dalam ibadah, dan bekerjasama dalam dakwah.

Bukankah kita adalah saudara?

Tags: , , , , , ,

About the Author

Tentang Ferizco97:


rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: