banner ad Startup UIN

Menjadi Guru yang Inspiratif? Gimana Caranya?

Yang nulis on di Mahasiswa | Nov 2, 2017 | 0 Komentar

Assalamualaikum. Halo pendidik hebat, apa kabar? Semoga kalian tetap semangat menuntut ilmu dalam memperbaiki diri untuk menjadi pribadi inspiratif ya.

Oya, ngomongin soal inspiratif, aku mau cerita nih kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Pengembangan Organisasi dan Keilmuan (POK) Komisariat Dakwah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (Komda FITK) yang bekerja sama dengan Departemen Agama Isam Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kimia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Rabu, 26 Oktober 2017 di Ruang 6.15, FITK.

 

Menjadi Guru yang Inspiratif? Gimana Caranya?

 

Mengangkat tema “To be Inspiring Teacher”, panitia menghadirkan sosok inspiratif yang telah mencetak jejak-jejak kontribusi di pelosok negeri, yaitu ka Andi Angger Sutawijaya. Beliau adalah Steering Committe Gerakan Banten Mengajar dan Penggerak Pendidikan Dompet Dhuafa. Sosok muda inspiratif ini hadir dengan cerita pengalaman yang menggugah sehingga memberikan banyak hal positif kepada kami.

Menjadi orang yang bermanfaat dalam mengembangkan pendidikan itu penting. Pendidikan adalah salah satu cita-cita bangsa Indonesia, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. So, kali ini aku akan menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh ka Angger .

Ka Angger beserta kawan-kawannya pergi ke salah satu pulau perbatasan, yaitu pulau Sebatik. Pulau kecil yang dibagi menjadi dua bagian; Malaysia dan Indonesia. Perekonomian masyarakat Indonesia di sana sangat memprihatinkan apalagi untuk orang tua yang membiayai anak-anaknya sekolah. Masyarakat di sana mayoritas berprofesi sebagai buruh karet di pulau bagian milik Malaysia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka harus membeli sembako di koperasi milik Malaysia. Jika mereka ketahuan membeli kebutuhan hidup di Indonesia, maka gaji yang tidak seberapa itu akan dipotong sejumlah uang yang dibayar untuk membeli kebutuhan mereka.

Sekolah yang berada di sana hanya terdapat di pulau bagian Malaysia yang biayanya sangat mahal dan tidak sebanding dengan pendapatan buruh karet. Setiap tahunnya warga harus membayar biaya sebesar 3,5 juta dan tiap bulannya membayar 300 ribu rupiah.

 

Menjadi Guru yang Inspiratif? Gimana Caranya?

 

Melihat betapa memprihatinkannya kondisi pendidikan di pulau Sebatik, Ka Angger dan kawan-kawan relawan membangun sekolah di perbatasan agar mudah terjangkau oleh anak-anak buruh karet di Malaysia yang merupakan penduduk Indonesia.

Setelah beberapa lama sekolah itu berdiri, Ka Angger dan kawan-kawan relawan mengunjungi sekolah tersebut kembali. “Ada priceless moment yang aku rasakan saat itu. Sesuatu yang mahal harganya yang tidak bisa dibayar oleh berapapun besarnya uang rupiah,” kata ka Angger.

Ada apa? Apa yang terjadi dengan sekolah itu? Sekolahnya alhamdulillah baik-baik saja. Di sana, ka Angger ditemui oleh salah satu orang tua murid yang menangis dan dia mengatakan, “Terima kasih bang Angger, saya senang karena anak saya selalu mengingatkan saya untuk shalat.”

Ka Angger menyampaikan, dalam perjalanan hidup ini, sebelum mencapai tujuan akhir (akhirat), harus ada pemberhentian-pemberhentian. Dan, pemberhentian itu harus bermanfaat. Beliau menceritakan salah satu titik pemberhentiannya adalah ingin membuat “universitas terapung.” Pulau Tidore adalah tempat pertama merancang mimpi indahnya.

“Indonesia memiliki 17 pulau, sebab itulah aku ingin membangun universitas terapung. Biasanya universitas berada di perkotaan, dan potret hari ini, yang merasakan kuliah di Indonesia hanya 11 persen. Dan sayangnya hanya 5 persen dari mereka  yang pulang menggerakkan desa,” Ucap ka Angger.

Ka Angger mengatakan bahwa permasalahan pendidikan Indonesia bukan hanya soal akses pedalaman, tetapi Indonesia butuh guru yang berintegritas;  yaitu guru yang tidak pernah membawa permasalahan hidup, yang kedatangannya membawa perubahan, guru yang tidak berhenti belajar, guru yang sadar betul masa depan ada dipundaknya sehingga sadar untuk menjadi The Inspiring Teacher. “Datangnya perubahan mungkin bukan dari aku, tetapi harus datang dari anak didikku” jelas ka Angger penuh semangat.

Aku merasa setiap orang dalam ruangan itu tersihir dengan setiap rangkaian kata yang mengkisahkan pengalaman dan  asupan-asupan bermanfaat. Apa lagi buat temen-temen yang mayortas adalah anak Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Karena, tidak semua anak keguruan ternyata punya keinginan untuk menjadi guru dengan alasan beragam. “Jadi guru pilihan terakhir setelah coba ke banyak fakultas,” Apa ada yang kaya begini? Ada! Hahaha. Beberapa orang juga berfikir kalau guru itu gajinya kecil. Jadi guru ya begitu-begitu aja; membosankan!

Tapi tahukah? Guru merupakan profesi yang mulia. Bukan seberapa besar gaji yang akan didapatkan. Bukan bagaimana nantinya akan menjadi PNS. Profesi guru sejatinya diemban oleh setiap orang. Mendidik generasi yang lebih baik.

Mendidik itu berasal dari hati, demi melahirkan generasi-generasi cerdas dan kokoh. Kawan-kawan tau istilah amal jariyah kan? Amal jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah meninggal dunia. Amalan tersebut terus menghasilkan pahala yang terus mengalir kepadanya.

Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, tentang tiga amalan jariyah adalah: sedekah jariyah,  ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya. Nah, profesi guru dan mendidik adalah profesi yang mencakup sangat utuh tentang amalan jariyah, dan menjadi suatu kebaikan yang dimulai saat kita sudah berada di titik terakhir hidup kita.

 

Menjadi Guru yang Inspiratif? Gimana Caranya?

 

Masih mau ogah-ogahan jadi pendidik? Tentu tidak donk! Yuk jadi pendidik yang inspiratif! Jangan jadi pendidik yang tergerus zaman sehingga jadi guru yang males-malesan. Di luar sana banyak anak-anak yang berharap dapat mengenyam pendidikan. Ini bukan tugas siapa yang berkuasa, tetapi tugas bagi mereka yang punya hati nurani, “Karena mereka butuh kalian!” tutup ka Angger.

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: