banner ad Startup UIN

Curahan Hati Mahasiswi Bercadar

Yang nulis on di General, News, Sosial, UIN Jakarta | Nov 2, 2017 | 0 Komentar

Penggunaan cadar akhir-akhir ini begitu menghiasi pemandangan di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Suatu ketika saya berkunjung ke Fakultas Adab dan Humaniora, di setiap lantainya saya mendapati kehadiran sosok mahasiswa bercadar. Ketika berkunjung ke Masjid Fathullah, juga terlihat banyak mahasiswa bercadar.

Tren tersebut membuat saya tergerak untuk berbincang dengan para mahasiswa bercadar tersebut. Saya pun mengontak teman-teman yang bercadar, dan mengutarakan maksud saya. Dari penelusuran, jumlah mahasiswa bercadar di UIN Jakarta berkisar 25 orang.

Banyak stereotipe-stereotipe yang dilekatkan kepada mahasiswi bercadar. Ada yang mencap sebagai teroris, radikal, kaku, dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit yang menjuluki mereka Ninja Kampus dengan konotasi negatif. Maka saya tertarik untuk mengetahui opini dari teman-teman pengguna cadar di UIN Jakarta.

 

Alasan Menggunakan Cadar

Dalam melakukan sebuah hal, tentu didasari oleh alasan. Dari beberapa mahasiswa bercadar, ternyata alasannya bermacam-macam. Seperti Desi (FAH) misalnya, dia mengenakan cadar karena pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan. “Saya ingin menjauhkan diri dari fitnah dan juga menjauhkan orang lain dari fitnah,” katanya.

Begitu juga dengan Munawarah (FPsi), dahulu ia sering digoda karena parasnya. Ia tidak rela diperlakukan seperti itu. Kisah Rifa (FAH) lain lagi. Ia pernah mengalami kasus penipuan materi. Kemudian orang tuanya pun mendukung ia untuk bercadar.

Ada juga teman-teman yang mengenakan cadar dengan motivasi ingin menjaga. Seperti Amira (FIDIK), ia merasa dirinya sangat ekspresif. Setelah mengetahui dalil sunah dan wajib terkait cadar, ingin mengenakannya untuk bisa menahan diri. “Saya juga ingin memberikan yang terbaik untuk ayah yang sudah tiada,” ujarnya.

Sama juga dengan Millatie (FU). Ia menggunakan cadar setelah mempelajari kitab Tafsir Al-Qurtubi. Ia juga ingin bercadar menjadi salah satu perantara untuk menjaga hafalan dan akhlaknya.

Mereka semua memiliki alasan untuk bercadar. Tidak sekedar ikut-ikutan. Alasan-alasan tersebut pun sangat bisa dimaklumi.

 

Pengalaman Teman-Teman Bercadar

Tidak sedikit teman-teman yang mendapat perlakuan kurang baik karena mereka memakai cadar. Seperti yang terjadi di salah satu fakultas. Teman kita sudah mendapatkan persetujuan untuk mendapatkan beasiswa dari pihak Dekanat. “Namun saat menuju Tata Usaha Fakultas untuk mengurus surat pernyataan sedang tidak menerima beasiswa, ia malah dimarah-marahi dan tidak dibuatkan suratnya,” akunya.

Terjadi juga pengalaman dikeluarkan dari kelas karena memakai cadar. Millatie menulis di blognya, bahwa ia pernah dikeluarkan, sambil dituduh macam-macam. Padahal semua tuduhan itu terbantahkan dengan fakta yang ada. Sayangnya, tidak ada dialog antara dosen dengan dirinya terlebih dahulu. Dosen itu hanya langsung menyuruhnya keluar begitu saja.

Namun di balik kisah sedih tersebut, banyak juga kisah yang menggembirakan. Saat Millatie dikeluarkan dari kelas, tak disangka, teman-temannya mengirimkan pesan melalui chat. Pesan-pesan itu berisi dukungan baginya untuk semangat, bersabar dan tetap pada pendiriannya. “Aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali ucapan terima kasih pada mereka. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan,” tulisnya di blog.

Mengapa Millatie menurut begitu saja saat dosen menyuruhnya keluar dari kelas? Bahkan tidak membantah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya? Ia menjawab, “Posisi paling baik saat dicela / dicaci adalah diam.” Bahkan, ketika diam saat dicela itu, teman-temannya yang malah mengambil tindakan untuk mendukungnya.

Cerita indah lain dialami oleh Amira saat ia melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. “Awalnya teman-teman kelompok takut sama aku, tapi kemudian mereka seneng sama aku,” katanya. Diakuinya, banyak orang yang penasaran dan bertanya saat ia bercadar. Dengan senang hati pun ia menjelaskan kepada orang-orang tersebut. “Sebagai orang bercadar, kita juga harus bersahabat dengan orang-orang,” ujarnya.

Kemudian, berkat gayannya yang tetap gaul dan asyik, anak-anak di desa KKN-nya malah senang dengan Amira. Anak-anak selalu riuh saat menyambut kedatangan dirinya di kelas. “Alhamdulillah, mereka malah suka dengan gaya saya dan jadi nempel banget sama saya,” kata Amira.

 

Curahan Hati Mahasiswi Bercadar

 

 

Harapan untuk Kebaikan

Alangkah bijaksananya saat sebelum memutuskan sesuatu, kita berdialog terlebih dahulu. Karena dengan begitu, kita bisa mengetahui apa alasan teman-teman melakukan sesuatu. Seringkali, kita terlalu cepat menyimpulkan tanpa terlebih dahulu mengetahui alasannya. Lebih baik bertanya langsung mengenai hal-hal yang belum kita ketahui.

Teman-teman yang bercadar berharap agar tidak ada lagi diskriminasi. Di Kode Etik Mahasiswa, tercantum bahwa mahasiswi harus berhijab sampai menutupi dada, menggunakan atasan yang longgar (tidak ketat), lengan panjang hingga mencapai pergelangan tangan. Kemudian menggunakan bawahan rok atau celana panjang longgar sampai menutupi pergelangan kaki, bahkan direkomendasikan menggunakan warna gelap (tidak transparan).

“Tapi kita lihat banyak yang masih menyalahi aturan tersebut, namun tidak dipermasalahkan. Kenapa yang menggunakan cadar malah dipermasalahkan? Kita gak ada yang ikut aliran radikal, ISIS, atau sejenisnya. Aktivitas perkuliahan apapun, kami tidak merasa terganggu dengan menggunakan cadar,” kata mereka.

 

Yups. Itulah curahan hati dari teman-teman yang menggunakan cadar. Semoga kita bisa lebih bijak dan lebih memahami mereka ya. Have a nice day ^_^

 

NB. Katanya kemarin UIN Jakarta memecat dosen yang bercadar? Apakah benar? Baca klarifikasinya dari Pak Edy A Effendi di sini dan juga ada berita dari Kumparan di sini.

Tags: , , , , ,

About the Author

Tentang azfiz:
バグジャー ⭐ ヌグラーハー || Selalu CERIA dan Penuh SEMANGAT! • Sobat Pena Al Qolam • Voluteer No Tobacco Community • Pembaharu Muda Gerakan Muda FCTC

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: