banner ad Startup UIN

Jangan Ciptakan Generasi ‘Emas’!

Yang nulis on di General, Kuliah, Mahasiswa, Pojok Motivasi, Sosial | Nov 7, 2017 | 0 Komentar

Aku ingin mengajak teman-teman untuk percaya kepada diri sendiri. Mengapa? Jelas karena itulah modal utama seorang guru. Lalu, sebagai seorang guru, kenapa aku menyatakan “Jangan Ciptakan Generasi Emas”? Apa maksudnya?

Judul ini diambil dari peribahasa, “Diam adalah emas.” Sebagaimana kita ketahui, tuntutan Kurikulum 2013 saat ini adalah melibatkan aktivitas siswa yang dominan, bukan diam. Jika kita sebagai calon guru tidak percaya terhadap diri sendiri, bagaimana mungkin peserta didik kita nanti menjadi generasi yang terbiasa untuk bertanya? Jangankan untuk bertanya, mengangkat tangan saja akan terasa berat. Menurut Bapak Burhanudin Milama, M. Pd (Ketua Program Studi Pendidikan Kimia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), untuk membuat berhasil peserta didik, maka biasakan mereka untuk bertanya.

 

 

Kita ambil contoh, mata pelajaran Kimia. Mapel satu ini kerap dianggap sebagai masalah bagi peserta didik. Ya, mereka menganggap mapel ini adalah sesuatu yang menakutkan dan tidak menyenangkan. Pada dasarnya, mapel Kimia mencakup dua mapel mendasar, yaitu Matematika dan Kimia itu sendiri. Padahal, mempelajari Kimia bisa sangat mudah dan menyenangkan apabila guru mampu memberikan penjelasan yang aplikatif bagi lingkungan sekitar.

Contoh aplikasi teori Kimia dalam kehidupan adalah pada saat musim salju. Walau mungkin gak pernah ngerasain langsung, tapi pernah kan, lihat salju di televisi? Saat salju turun, kendaraan sulit melewati jalan. Biasanya petugas keamanan akan menaburkan garam (NaCl) atau urea. Apa gunanya? Penambahan garam akan mengakibatkan titik beku air menurun, sehingga petugas dapat dengan mudah menyingkirkan salju di jalanan. Hal ini sesuai dengan sifat koligatif larutan, yaitu jika kadar zat terlarut (dalam hal ini garam) dalam larutan (larutan garam-air) bertambah, maka larutan akan menjadi lebih sulit membeku.

Nah, dalam mapel Kimia, guru diharapkan dapat mengaplikasikan pendekatan saintifik. Hal ini berkaitan dengan aktivitas proses belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa. Proses tahapannya adalah: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Pendekatan saintifik menekankan pada aktivitas murid, sedangkan guru hanya menjadi fasilitator dan mediator.

Pada pendekatan ini, guru membiarkan peserta didik mengamati kejadian yang terjadi di alam, misalnya dengan menampilkan video atau gambar-gambar. Lalu setelah mengamati, peserta didik dituntut untuk bertanya. Nah, pada langkah kedua inilah suatu pendekatan saintifik dimulai. Karena, tanpa adanya pertanyaan yang dilontarkan peserta didik, mereka tidak akan mau mencoba. Pun mereka jadi tidak dapat mengkomunikasikan hasil menalarnya. Maka hal itu akan menyebabkan tidak terjadinya aktvitas belajar.

Apa penyebab peserta didik menjadi “generasi emas” alias tidak mau bertanya? Hati-hati, jawabannya bisa saja disebabkan oleh gurunya sendiri. Misalnya ketika guru takut menghadapi peserta didik yang mau bertanya. Padahal, tidak perlu takut menjawab. Dalam pendekatam saintifik, pertanyaan yang peserta diajukan akan dijawab oleh peserta didik itu sendiri.

Lantas, kalau ada kasus peserta didik bertanya, namun mereka tidak bisa menemukan jawabannya dan kita sebagai guru pun belum menguasai materi tersebut, atau lupa dan memerlukan waktu untuk membuka buku-buku lama atau harus search di mbah Google, bagaimana? Jangan khawatir! Jujur saja kepada peserta didik! “Maaf ya anak-anak, ibu lupa sama jawabannya. Nanti ibu carikan lagi jawabannya dan ini menjadi tugas kalian juga ya. Pada pertemuan selanjutnya, mari kita pecahkan bersama.” Itu yang harus disampaikan oleh kita sebagai guru.

Jangan sampai saat kita tidak mampu menjawab pertanyaan, malah berkata, “Maaf, ibu tidak bisa menjawab.” tok. Apalagi sampai mengada-ngada menjawab agar tidak dipandang rendah di mata peserta didik. Sungguh jangan sampai. Dari kejadian ini, sebenarnya guru memberikan pelajaran tentang kejujuran dan menumbuhkan sikap ingin tahu pada peserta didik. Jadi guru harus ‘stay cool’ ya!

 

Jangan Ciptakan Generasi Emas

 

Menjadi seorang pendidik, tidak boleh mengebiri peserta didik untuk bertanya. Mereka memiliki hak untuk bertanya.

Pak Burhan memberikan sebuah pertanyaan, “Pemikiran kritis itu pemberian atau hasil dari latihan?”

Berpikir kritis, maksudnya adalah aktif bertanya. Ia adalah pemberian dari Allah dan perlu adanya latihan. Karena suatu pemberian yang Allah berikan tidak akan menjadi apa-apa jika tidak dilatih. Maka dari itu, seorang guru harus bisa memotivasi peserta didik untuk mau bertanya. Dengan menghargai peserta didik yang bertanya, maka mereka akan senang untuk bertanya. Jangan malah melarang mereka bertanya.

Ketika peserta didik bertanya, berikan tepuk tangan dan berikan pujian terhadap pertanyaannya. Itu adalah salah satu cara untuk menumbuhkan semangat sehingga peserta tidak lagi merasa takut untuk bertanya (Ya, walau pun pertanyaannya di luar konteks materi alias gak nyambung). Hargai mereka! Kalau sudah dipancing untuk bertanya tetapi tidak ada yang memulai untuk bertanya, guru bisa menggunakan teknik menuliskan pertanyaan di kertas kecil. Dari situ mereka dilatih untuk percaya diri secara perlahan.

Pahamilah bahwa mereka bertanya bukan karena tidak tahu, tetapi menunjukan bahwa mereka tahu. Pertanyaan digunakan untuk untuk menguji pengetahuannya. Bertanya adalah kunci pendekatan saintifik. Setelah peserta didik sudah berhasil bertanya, mereka akan dapat melanjutkan proses mencoba, lalu menalar, dan yang terakhir mengomunikasikan; sehingga generasi penerus kita ini akan mendapatkan pengetahuan baru yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tags: , , , , , ,

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: