banner ad Startup UIN

Diskusi Kesehatan: Difteri bersama KAMMI Tangsel

Yang nulis on di Kesehatan, Mahasiswa, News, Pojok UKM & Organisasi | Des 30, 2017 | 0 Komentar

Difteri. Akhir 2017 ini, penyakit tersebut hampir menjadi perbincangan semua orang. Jelas saja, karena sampai bulan Desember 2017, 28 Provinsi di Indonesia mendapat status Kejadian Luar Biasa Difteri. Sekitar 600 orang jatuh sakit dan 38 orang meninggal diakibatkan oleh Difteri.

Sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pun sempat dikejutkan dengan kabar bahwa ada salah seorang mahasiswa yang meninggal karena Difteri. Awalnya, saya mendapatkan kabar ini dari salah satu teman di UKM HIQMA. Ia mengupdate status mengenai meninggalnya salah satu anggota UKM HIQMA. Disampaikan olehnya, mahasiswa tersebut meninggal karena penyakit tersebut.

Kejadian itu segera menyedot perhatian sivitas akademika. Apalagi setelah akun media sosial @uincommunity menyebarkan kabar itu (dengan tujuan agar banyak yang mendoakan almarhumah dan sekaligus edukasi terkait Difteri). Banyak teman-teman saya yang bertanya-tanya soal detail kejadian tersebut, hingga urusan di mana bisa melakukan vaksinasi.

Beberapa hari kemudian, beredar laporan kronologi yang disampaikan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui UPT Puskesmas Ciputat Timur. Dalam berkas tersebut, dikabarkan bahwa almarhumah pada bulan November sempat mengikuti kegiatan dari fakultasnya ke Yogyakarta meski dalam keadaan kurang sehat. Kemudian pada 1 Desember, almarhumah pulang ke rumahnya di Serang.

9 Desember, almarhumah didiagnosa “Suspek Difteri”. Ia segera mendapat perawatan di ruang isolasi RSDP Serang selama 13 hari. Kemudian pindah ke ruang perawatan biasa, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 24 Desember 2017.

Setelah kabar meninggalnya almarhumah tersebar, UPT Puskesmas Ciputat Timur melakukan penyelidikan di tempat tinggal almarhumah selama di Ciputat Timur dan di Serang. Memang tidak ditemukan kontak dengan tanda gejala yang mengarah suspek Difteri, namun tetap dilakukan terapi Profilaksis Erithromicyn dan Vaksinasi Td untuk teman-teman almarhumah di asramanya.

Pada tanggal 26 Desember 2017, diberitakan bahwa hasil laboratorium almarhumah negatif Difteri. Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Suhara Manulang berdasar laporan dari Litbangkes Kemenkes.

Menanggapi kasus ini pula, Lokus Kesehatan KAMMI Daerah Tangerang Selatan menggelar Bincang Kesehatan seputar Difteri. Diskusi ini berlangsung pada hari Jumat, 29 Desember 2017 di Taman Landmark UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dipimin oleh Miftahul Jannah Salwah Ummah S.Ked., diskusi ini diikuti oleh mahasiswa UIN Jakarta dari berbagai fakultas.

 

Diskusi Kesehatan Difteri bersama KAMMI Tangsel 02

 

 

Dalam Diskusi Kesehatan ini, Kak Miftahul Jannah menjelaskan sejarah awal munculnya ditemukannya penyakit Difteri. Ternyata, penyakit ini sudah ditemukan sejak abad 5 sebelum masehi. Penyakit ini bersifat akut dan disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Lebih lanjut, Koordinator Forum Mahasiswa Dokter Muslim 2014-2015 ini juga menjelaskan terkait proses infeksi bakteri, gejala yang ditimbulkan, proses penularan, hingga penanganannya.

Kak Miftahul Jannah juga menyampaikan bahwa angka mortalitas bagi penderita Difteri usia anak di bawah 5 tahun adalah sebesar 5-10 persen. Sedangkan bagi orang tua di atas 40 tahun, angka mortalitasnya mencapai 20 persen. “Makanya, ketika ada yang suspek, segera diisolasi, diberi antibiotik dan antitoksin agar infeksi bakterinya tidak sampai sempat merusak jaringan tubuh,” jelas kakak berkacamata ini.

 

Diskusi Kesehatan Difteri bersama KAMMI Tangsel 01

 

Pada akhir diskusi, Kak Miftahul Jannah menyampaikan kritiknya kepada orang-orang yang menolak vaksin. Ia mengatakan bahwa dahulu memang gak banyak penyakit-penyakit berbahaya. Tapi di zaman now itu banyak. Makanya zaman now butuh vaksin. “Kelompok antivaksin harus paham bahwa penyakit ini menyebabkan kematian; dan vaksin Difteri mampu menurunkan angka kejadian dengan sangat drastis,” tegasnya.

 

So, bagi teman-teman UINers silakan lakukan vaksinasi booster untuk mencegah Difteri, ya. Kamu bisa datang ke Puskesmas, Rumah Sakit, dan fasilitas kesehatan lainnya, ya!

Tags: , , , , , , , , , ,

About the Author

Tentang azfiz:
バグジャー ⭐ ヌグラーハー || Selalu CERIA dan Penuh SEMANGAT! • Sobat Pena Al Qolam • Voluteer No Tobacco Community • Pembaharu Muda Gerakan Muda FCTC

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: