banner ad Startup UIN

Mahasiswa UIN Bandung Ajak Masyarakat Kenali Skizofrenia Lebih Dekat

“KAMI BUKAN ORANG GILA!

JANGAN ABAIKAN KAMI!

JANGAN PASUNG KAMI!

KAMI MAMPU UNTUK SEMBUH!”

Mungkin itulah jeritan hari Orang Dengan Skizofrenia (ODS). Namun, tahukah kamu apa skizofrenia itu?

Skizofrenia adalah penyakit jiwa yang ditandai oleh ketidakacuhan, halusinasi, waham untuk menghukum, dan merasa berkuasa, tetapi daya pikir tidak berkurang. Ia merupakan penyakit jiwa yang berat. Namun, penyakit ini sering diabaikan. Tidak sedikit dari ODS yang dipasung karena dianggap aib bagi keluarga. Bahkan, ada pula yang dibiarkan berkeliaran di jalan sehingga masyarakat awam akrab menyebutnya sebagai Orang Gila.

Skizofrenia bisa disembuhkan. ODS berhak untuk hidup layak dan normal, bukan untuk dipasung atau dianggap sebagai kaum yang hina. Di sinilah peran mahasiswa sebagai kelompok akademisi untuk membuka mata masyarakat bahwa ODS butuh dukungan untuk bisa sembuh.

Maka, guna meningkatkan kepedulian bagi ODS, Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung mempersembahkan sebuah acara bertajuk SKIZOFRENIA sebagai rangkaian akhir dari PSYCHOLOGY FAIR 2017.

Rangkaian akhir ini ialah PSYCHOLOGY ART PERFORMANCE 2017. Sebelumnya, melalui PSYCHOLOGY FAIR 2017, Fakultas Psikologi telah menggelar Perlombaan Nasional, Pekan Olahraga Psikologi dan Seminar Nasional.

Dengan jargon ONE STEP FOR BRIGHT FUTURE, agenda ini terdiri dari 2 rangkaian acara, yaitu Talkshow Inspiratif dan Pementasan Teater. Ada 3 komunitas seni yang berkolaborasi: Psychodance (Komunitas Tari), Psychoir (Paduan Suara) dan Teater Karsa. Alhamdulillah, PSYCHOLOGY ART PERFORMANCE 2017 sukses digelar pada Sabtu, 23 Desember 2017.

 

 

Acara yang dihadiri oleh tidak hanya mahasiswa UIN Bandung namun juga kampus lain ini diawali dengan Talkshow Inspiratif tentang Skizofrenia. Hadir sebagai narasumber ialah Kang Gema Gumelar (Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia / KPSI) Simpul Bandung Raya. Beliau hadir ditemani oleh pasiennya sendiri yang merupakan ODS bernama Yan Mirwan.

Kang Gema menjelaskan bahwa skizofrenia tidak bisa disepelekan. 1 persen populasi dunia menderita skizofrenia. Setiap tahun muncul 2 juta kasus baru. Penyakit ini menyerang mereka yang berada dalam usia produktif, 15 – 35 tahun. Kang Gema juga memaparkan bahwa usia harapan hidup ODS 20 – 30 tahun lebih pendek dari orang sehat.

“Ini diakibatkan oleh tingginya tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh ODS. 25 persen ODS mencoba bunuh diri dan 10 persen di antaranya meninggal akibat percobaan tersebut,” papar Kang Gema.

Bukan hanya itu, ODS pun beresiko tinggi terkena penyakit pembuluh darah jantung. Hal ini disebabkan karena biasanya ODS lebih banyak makan tetapi tidak mau beraktivitas. Selain itu, banyak pula yang tergila-gila mengonsumsi rokok. Kebiasaan-kebiasaan itulah yang berkontribusi pada penyakit pembuluh darah jantung.

Oleh karenanya, mari kenali gejala-gejala awal skizofrenia. Yaitu:

  1. Waham. Adalah keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika. Seperti keyakinan bahwa ada yang akan membunuhnya, merasa dibicarakan oleh orang lain, merasa paling pintar atau paling kaya, dan lain-lain.
  2. Halusinasi. Adalah pengalaman indra tanpa adanya perangsang pada alat indra yang bersangkutan, misalnya mendengar suara tanpa ada sumber suara tersebut. ODS biasanya berhalusinasi bahwa ada suara-suara yang memerintah bahkan mengancamnya atau ada bayangan yang mengikuti setiap langkahnya.
  3. Pembicaran dan perilaku menjadi kacau.
  4. Tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.

Apa penyebab utama skizofrenia? Penyebab utamanya memang belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang diduga bisa menjadi penyebab seseorang menjadi ODS, seperti faktor genetik, fisik, psikis dan lingkungan.

Selanjutnya Kang Gema memaparkan sekelumit perjalanan skizofrenia dari fase yang sangat awal, atau disebut Prodroma. Pada fase ini penderita mulai mengalami depresi, cemas dan marah yang tidak stabil, muncul ide-ide aneh dan berkurangnya motivasi beserta keluhan fisik, seperti nafsu makan dan pola tidur sampai ke fase munculnya skizofrenia episode pertama. Jika pada fase paling awal kita tidak melakukan pengobatan sama sekali, maka hal ini beresiko pada episode-episode selanjutnya karena akan menghambat pengobatan ODS.

Masyarakat awam sering menganggap ODS berhubungan dengan mistis. Lantas melakukan pengobatan pada dukun atau paranormal. Akibatnya ODS semakin hari semakin berkembang lebih buruk. Melalui talkshow ini kita jadi mengetahui bahwa yang dibutuhkan ODS pada fase pertama adalah dukungan kita dan pertolongan medis.

“Hendaknya jika muncul gejala skizofrenia pada seseorang, kita langsung membawanya ke Rumah Sakit Jiwa. Pada tahap awal, pasien akan diberi pengobatan secara medis melalui obat-obatan. Selanjutnya, pasien akan mendapatkan pengobatan secara psikologis oleh psikolog, seperti wawancara dan terapi lainnya,” jelas Kang Gema.

Setelah penjelasan dari Kang Gema, tibalah giliran Kang Yan Mirwan menceritakan pengalamannya mengidap skizofrenia. Ia bercerita bahwa pada awalnya, ia selalu mendapat peringkat pertama di kelas dan menjadi siswa berprestasi di sekolahnya. Namun, ia harus menghadapi kenyataan gagal saat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Ia menjadi frustasi, banyak melamun dan sering mengamuk. Ia tak percaya bahwa dirinya gagal, sedangkan teman-temannya yang lain berhasil lolos. Inilah yang memicunya mengidap skizofrenia.

“Dulu banyak yang bilang kalau saya ini mirip Ariel NOAH. Saat itu saya merasa bahwa diri saya adalah Ariel. Saya juga pernah merasa diberi wahyu, serta mengaku sebagai Imam Mahdi dan masuk Surga,” ungkap Kang Yan.

Beruntung, banyak orang-orang di sekelilingnya yang peduli. Ia langsung ditangani oleh tim medis dan diberi pengobatan yang layak dibarengi rukiah. Luar biasanya, dalam masa 17 tahun ia mengidap skizofrenia, dirinya tetap bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang IT.

Setelah Talkshow selesai, acara dilanjutkan dengan Pementasan Teater. Pementasan teater yang merupakan kolaborasi antara Teater Karsa, Psychoir dan Psychodance ini mengisahkan sebuah keluarga harmonis yang tiba-tiba hancur disebabkan munculnya orang ketiga dalam rumah tangga dan perjuangan seorang anak dalam menyembuhkan ibunya yang menjadi ODS.

 

Mengenal Lebih Dekat Skizofrenia Bersama Psikologi UIN Bandung 2

 

Sang istri yang ditinggal oleh suaminya itu mengalami depresi berat sehingga mengidap skizofrenia. Gambaran kondisi ODS begitu jelas diperankan. Dimulai sejak muncul gejala awal hingga ketika ODS tersebut melakukan percobaan bunuh diri.

Perjuangan sang anak semata wayang yang masih duduk di bangku SMP menjadi sorotan. Pada awalnya, ia mencari bantuan dari dukun dan paranormal. Akhirnya, ia membawa ibunya ke Rumah Sakit Jiwa. Ia merawat ibunya dengan telaten. Memberi obat setiap hari, sampai mampu diberi terapi oleh psikolog.

Penampilan para pemeran yang total membuat penonton larut dalam kisah. Banyak yang menangis melihat getirnya perjuangan sang anak dalam menghadapi ibunya yang mengidap skizofrenia. Penampilan Psychoir dan Psychodance pun membuat cerita menjadi semakin terasa hidup.

 

Mengenal Lebih Dekat Skizofrenia Bersama Psikologi UIN Bandung

 

PSYCHOLOGY ART PERFORMACE PAP kemudian ditutup dengan penampilan para mahasiswa. Ada kolaborasi permainan biola dan gitar, stand-up comedy dan nyanyian-nyanyian.

Wulan Dwi Lestari, salah satu peserta mengaku mendapatkan manfaat dari kegiatan ini. “Selain mendapatkan informasi yang lengkap dari narasumber, panitia pun mengundang langsung ODS. Sehingga kita tidak hanya mengenal teori, tapi juga mendapat pengalaman langsung dari pengidap skizofrenia. Apalagi ada penampilan teater yang menggambarkan skizofrenia secara detail. Nyesel deh yang gak nonton,” ujarnya.

Alhamdulillah, agenda ini benar-benar meningkatkan pemahaman kita bahwa skizofrenia perlu penanganan medis dan dukungan dari orang-orang terdekat. Jangan ada lagi anggapan bahwa ODS adalah orang gila atau harus dipasung!

Mari, kenali skizofrenia, tangani sedari dini!

Tags: , , , , ,

About the Author

Tentang tasya augustiya:
Namaku Tasya Augustiya, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Psikologi dari Fakultas Psikologi, Angkatan 2017.

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top
%d blogger menyukai ini: