banner ad Startup UIN

Ahmad Hamdani, 10 Kali Meraih Juara Kepenulisan Nasional

Yang nulis on di Mahasiswa | Okt 20, 2018 | 0 Komentar

Hai, UINers! Kalian harus kenal sama Mahasiswa satu ini! Ia memiliki segudang prestasi. Ia merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Namanya, Ahmad Hamdani.

Baru-baru ini, Kak Hamdani menjadi juara satu  pada cabang perlombaan Musabaqah Maqalah Al-Qur’an (MMQ) Nasional XXVII di Sumatera Utara, lho! Maa Syaa Allah, membanggakan sekali, ya!

Pada satu kesempatan, Kak Hamdani bercerita di insta storynya tentang pengalaman selama mengikuti lomba MMQ. Di tahun 2016 ia meraih juara terbaik 2 pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Ke-26 di Nusa Tenggara Barat. Dalam perlombaan MMQ tahun 2017 di Banten ia meraih juara terbaik 1.

Masih pada tahun 2017, dalam cabang lomba MMQ ia pun kembali meraih medali silver dari Kementrian Agama di Aceh. Selama tiga tahun Kak Hamdani menggeluti kepenulisan, sudah 10 kali final dan 10 kali memperoleh  juara tingkat Nasional.

Kemenangan di tahun 2018 ini menjadi peraihan terbaik Kak Hamdani. Karena memang tidak salah, seperti yang diakui Kak Hamdani kalau ia sudah menyiapkan mental, berusaha membenahi hal-hal non teknis. “Selain terus belajar dan ngulik tulisan agar enak dibaca, tentunya berdasar pada arahan, masukan, dan hasil berbagi dengan pembina dan banyak orang,” tutur Kak Hamdani.

Sebelumnya, Kak Hamdani tidak pernah terbesit untuk mengikuti MMQ. Perkenalannya dengan MMQ berawal di Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) Kementrian Agama di Palu, Sulawesi Tengah. Saat itu ia belum mengetahui bagaimana cara menulis MMQ yang diharapkan dewan juri yang ideal. Seiring berjalannya waktu, ia memperdalam kepenulisan MMQ sambil terus mengikuti kompetisi. Dari niat yang kuat, sambil belajar ia meraih banyak kemenangan.

“Saya mulai semuanya dari nol. Tidak tau apa-apa. Hanya belajar untuk terus mengikhtiarkan apa yang saya ciptakan, karena saya punya mimpi. Allah sudah banyak memberikan contoh, tinggal bagaimana cara kita membuat jalan cerita.”- Kak Ahmad Hamdani.

Selain perlombaan MMQ, Kak Hamdani juga pernah mendapatkan penganugerahan sebagai Wakil 1 Kang Nong Kabupaten Serang 2018. Eh, gak hanya itu, ternyata ia juga menjadi Duta Bahasa Banten 2018 juga! Keren banget gak, sih UINers?

“Bermimpi adalah hak siapa saja. Tidak ada batasan, tidak rasis. Bahkan, karena muncul dari pikiran dan perasaan, mimpi akan sulit untuk diintervensi,” tulis Kak Hamdani di aku instagramnya.

Banyak banget ya, pencapaian Kak Hamdani. Nah, kami berkesempatan bertanya, selama proses belajarnya apakah Kak Hamdani pernah merasa putus asa?

Kak Hamdani pernah berada di posisi kacau karena masalah yang ia pun bingung harus menyelesaikannya bagaimana. Pada saat seperti itu, ia galau dan jadi gak produktif sehingga banyak tidur. Selain itu, ia pernah mengalami kesulitan ekonomi yang berdampak pada kehidupannya. Untungnya, saat berada pada posisi lemah, Kak Hamdani mampu bangkit kembali berkat nasihat-nasihat, perbanyak sedekah, dan pelan-pelan memulai kembali pekerjaan yang dapat dikerjakan.

“Down mungkin adalah tamparan kasih sayang dari Allah agar kita lebih intim lagi kepada-Nya. Agar kita ingat, bahwa kita punya Tuhan. Selain itu, agar kita tidak lupa, tidak sombong, dan selalu menyandarkan semua hal karena Allah,” ucap Kak Hamdani.

 

 

Terakhir, Kak Hamdani berpesan untuk kita semua nih, UINers , biar selalu produktif menulis. Bagi Kak Hamdani, menulis adalah buah dari budaya membaca, pemikiran yang terbuka, dan banyak praktik. Jadi, kalau UINers tidak suka membaca dan pikirannya masih sempit, Kak Hamdani mengibaratkan seperti ada tembok besar untuk bisa menulis. Karena, tanpa banyak praktik menulis, kita akan kerepotan. Oleh sebab itu, kita butuh media untuk menyalurkan pemikiran dan wawasan dari hasil membaca.

“Jika ingin mengikuti kompetisi menulis, harus dengan hati. Sertakan Allah pada setiap langkah kita. Sebab, menulis itu akumulasi dari proses yang panjang. Kalau tidak sabar, akan kena penyakit bosan dan jenuh, akhirnya ikhtiar untuk belajar akan ditinggalkan,” pesan Kak Hamdani.

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top