banner ad Startup UIN

Fauzan Arifin, Alumni UIN Jakarta Jadi Volunteer Tech in Asia Jakarta 2018

Yang nulis on di Mahasiswa | Okt 25, 2018 | 0 Komentar

Masih tentang Tech in Asia Jakarta 2018. Kali ini, aku akan cerita pertemuan dengan alumni UIN Jakarta jurusan Sistem Informasi yang menjadi volunteer #TIAJKT2018.

Kunjungan di hari pertama, kami melakukan registrasi sambil menunjukkan tiket dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) UIN Jakarta . Sang penerima regis menyambut dengan ramah. Saat aku menyodorkan KTM, seseorang di sampingnya tiba-tiba, “Kamu anak UIN Jakarta?” tanyanya. “Iya, Kak aku dari UIN Jakarta,” kataku.

Dia mengeluarkan dompet dan menunjukkan KTM UIN Jakarta sambil menunjukkan pada kami. Tertulis, Fauzan Arifin, di bawahnya jajaran angka Nomor Induk Mahasiswa (NIM) yang aku fokuskan adalah dua angka ketiga dan keempat; 13. “Oh, dia angkatan 2013” dalam hatiku. “Iya, gue alumni UIN Jakarta,” sambung Kak Fauzan.

Wah, ternyata ada alumni UIN Jakarta yang jadi Volunteer #TIAJKT2018. Kesempatan sih, buat nanya-nanya gimana ceritanya dia bisa jadi volunteer.

Di hari kedua, tidak sengaja kami kembali bertemu dengan Kak Fauzan. Aku meminta nomor handphonenya. Alhamdulillah aku berkesempatan nanya-nanya nih, ke Kak Fauzan.

Pertanyaan pertama  adalah bagaimana ceritanya Kak Fauzan bisa jadi volunteer #TIAJKT2018?

Nah, Kak Fauzan bercerita, awalnya dia tau informasi lowongan jadi volunteer itu di grup. Beberapa teman-temannya pun ada yang sudah daftar. Awalnya ngisi form document secara online. Ia mengisi seluruh pertanyaan. Suatu hari Kak Fauzan mendapatkan email dari crew #TIAJKT2018 mengabarkan kalau Kak Fauzan lolos jadi volunteer menjadi posisi registrasi.

“Wah, gak nyangka bisa lolos jadi volunteer event teknologi se-Asia sih. Gue menyelidiki lah ya, kenapa bisa lolos. Awalnya gue kira karena latar belakang jurusan gue SI, tapi ternyata banyak temen-temen volunteer yang jurusannya bukan berhubungan dengan teknologi. Dari beribu-ribu orang yang daftar, yang lolos Cuma 200 orang aja,” jelas Kak Fauzan.

Usut dengar usut nih, genks. Ternyata, setelah diselidiki lagi yang lolos jadi volunteer #TIAJKT2018 itu adalah mereka yang punya pengalaman menjadi volunteer berbagai event besar, kayak Asian Games dan Asian Para Games kemarin. Kak Fauzan juga jadi volunteernya, lho!

Sebenarnya, apa sih tugas Kak Fauzan di #TIAJKT2018?

Nah, tugas Kak Fauzan gak cuma jaga registrasi aja. Jadi, dia juga yang harus siap siaga buat nganterin pengunjung yang datang kalau kebingungan mau ke stage tertentu. Ada kisah unik nih, yang diceritain Kak Fauzi.

Jadi, ada bule yang nyamperin ke tempat registrasi. Dia gak punya koneksi intenet sama sekali. Akhirnya Kak Fauzan yang kasih data internet. Ketika bulenya minta diantar ke suatu tempat, dengan sigap Kak Fauzan mengantar bule tersebut. Dan si bule mengapresiasi orang-orang Indonesia yang ramah-ramah dan sangat mudah membantu orang lain.

Selanjutnya, apa sih kesan Kak Fauzan menjadi volunteer #TIAJKT2018?

“Sepatah dua patah kata. Sepatahnya keren, dua patahnya banget!” (kok aku ngakak, ya bacanya hahaha)

Menjadi volunteer #TIAJKT2018 pengalaman super keren buat Kak Fauzan. Alasannya yang pertama adalah banyak sekali startup baru yang gak pernah diketahui sebelumnya, bahkan gak pernah terbayang di otak. Ternyata ada orang-orang jenius yang menghadirkan startup baru yang berbeda-beda.

Kak Fauzan kasih contohnya adalah startup Nikah Yuk! Wkwkwkwkw.

“Itu cocok banget buat ukhti-ukhti yang siap nikah dan bisa cari calon dengan taaruf hehehe,” lawak kak Fauzan.

Kata Kak Fauzan, kita juga perlu memperhatikan bahwa tidak ada competitor antar startup. Jadi, mereka adalah partner; saling mengembangkan teknologi yang ada di Asia.

Nah, coba deh kita Tanya Kak Fauzan, apakah dunia startup penting bagi mahasiswa?

Pastinya penting banget ya, genks! Bagi kak Fauzan, manusia harus berkembang. Soalnya mengikuti perkembangan teknologi juga. Ada kekhawtairan ketika manusia tidak bisa mengikuti arus teknologi, manusia yang digantiin teknologi.

“Sekarang yang ditakutin tuh machine learning atau artificial intelegent (kecedasan buatan); udah banyak teknologi yang menggantikan tugas manusia. Piano di kantor google aja bisa main sendiri,” katanya.

So, UINers, pesan Kak Fuazan kita harus mengembangkan diri seperti teknologi yang begitu pesat perkembang. Mungkin kehidupan mahasiswa bagi Kak Fauzan seperti ‘ah, membosankan’, atau ‘ngapain sih, belajar merhatiin dosen, bosen’.

“Kita harus paham mengenai cita-cita kita terutama dalam dunia teknologi. Akan terjadi di mana saatnya teknologi membuat semuanya menjadi lebih mudah. Maka dari itu, kita semua harus belajar teknologi,” tutur Kak Fauzan.

Kemudian ia melanjutkan memberi pesan, bahwa semua aspek kehidupan bisa dengan sistem. Jadi, tidak boleh menyepelekan proses belajar kita. Karena proses belajar itu penting banget. “Kita gak bisa terus-terusan menjadi pengguna. Harusnya kita bisa menjadi yang mengembangkan. Akan lebih baik lagi kita yang membuat. Sehingga, jangan terlalu terlena dengan kemudahan teknologi saat ini,” tutup Kak Fauzan

 

 

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top