banner ad Startup UIN

Belajar Menjadi Influencer #forchange di Netizen Fair 2018

Salam semangat UINers!

Aku mau cerita waktu aku sama Aisyah dan Syifa ke Plaza Tenggara, Gelora Bung Karno hari Sabtu, 24 November 2018. Ada yang ke sana juga, gak?

Acara yang mantep banget, karena sangat bermanfaat dan gratis hehehehe. Acara apa, tuh?

Nah, acara Siberkreasi Netizen Fair 2018 yang diselenggarakan oleh SiBerkreasi bekerja sama dengan banyak komunitas poitif lainnya menghadirkan pembicara ternama yang  inspiratif.

Apa sih SiBerkeasi itu?

SiBerkreasi adalah komunitas yang hadir dari inisiatif bersama berbagai kalangan, komunitas peduli, swasta, akademisi, masyarakat sipil,  pemerintah, dan media untuk membangun literasi digital di Indonesia.

Acra Netizen Fair 2018 sih sebenarnya diselenggarakan Sabtu dan Ahad. Tapi, kami berkesempatan datang di hari Ahad sore. Sesampainya di lokasi kami salat Asar dan melanjutkan workshop.

Ada dua workshop yang kami ikuti. Bagiku, workshop yang menarik banget sih tentang peredaran berita hoax dan perpecahan di sosial media. yang dipersembahkan oleh Search for Common Ground Id dan campaign_id.

Membahas tentang toleransi umat beraga di Indonesia, pada workshop ini menjelaskan bagaiman berita hoax memengaruhi sikap umat beragama yang terpecah belah.

Diceritakan oleh Kak Ayu, dari Sahabat Marauke yang merupakan program pertukaran pelajar antar agama. Anak-anak yang berbeda agama saat dikumpulkan pada satu forum, mereka akan menanyakan hal-hal yang selama ini hanya mereka pendam di benaknya. Bisa jadi, itu merupakan dendam yang diprofokatori oleh media. Semua yang ada dalam pikiran anak-anak disampaikan pada acara camp. Mereka hidup bersama beberapa hari. Hal yang paling berkesan adalah sebelum tidur melakukan diskusi kecil dengan teman-teman berbeda agama. Dari pertanyaan yang membuat tegang hingga pertanyaan manusiawi yang menghasilkan tawa. Dari peratnyaan “Kenapa kamu nyembah patung?” sampai “Kamu kalau ibadah ngantuk, gak?”.

Selanjutnya cerita dari Kak Izzah. Ia bergabung di komunitas Young Interfaith Peacemaker, komunitas mahasiswa se-Indonesia. Komunitas ini bergerak untuk menciptakan perdamaian umat beragama melalui dialog.

Wah, keren sih pas aku tau ada komunitas YIPC ID. Komunitas mahasiswa jarang banget jadi wadah antar agama dan memberikan kesempatan untuk berdialog. Karena, dialog antar agama seringnya  difasilitasi oleh pemerintah.

Bagi Kak Ayu dan Kak Izzah, dialog antar umat bergama itu perlu. Karena memang komunikasi yang tidak sehat yang mengakibatkan perpecahan antar umat beragama di Indonesia.

“Ngajarin perdamaian itu gampang, asal caranya benar. Kendalanya adalah menuju prosesnya,” kata kak Ayu.

Nah, terus ada juga nih pandangan dari Kak Alvin dari @islamidotco. Kata Kak Alvin, kita harus jadi pejuang internet. Kaum muda jangan apatis. “Jangan komen konten tidak baik, nantinya jadi rame karena bikin viral. Harusnya bikin trand tandingan.”

UINers, kita tuh sering gergetan kan sama postingan-postingan gak jelas. Rasanya tuh pengen komen, pengen berkata kasar, atau menghujat. Nah, cukup! Cukup di niat aja, jangan sampai kita ikutan tersulut buat komentar. Kalau kita ikut komentar nanti postingan jeleknya makin viral, jadi makin banyak orang yang baca dan geregetan juga hehehehe.

Baiknya kita bikin postingan tandingan aja. Bikin konten kreatif nan positif untuk membalas konten-konten perpecahan.

Virus kebencian lebih cepat menyebar dari virus perdamaian. Sebagai pemuda, bergerak di media sosial dengan quote perdamaian menjadi solusinya. Jangan sampai, perpecahan terjadi hanya karena jari-jari iseng komen gak jelas, menghujat, dan lain-lain. So, aku mengajak teman-teman untuk menjadi influencer #forchange.

Btw, kembali soal SiBerkreasi, suatu waktu aku penasaran banget sih sama akun ini. jadi aku kepoin IGnya hehehe.

Di bionya tertulis: “Gerakan Nasional Literasi Digital yang mendukung dan menyebarkan konten positif”

Aku makin penasaran donk! Aku klik link di Bionya ada penjelasan lebih lengkap.

Aku suka sama akun komunitas yang bergerak untuk mengkampanyekan kebaikan lewat sosial media. Menjadikan jempolnya berarti.

Aku jadi ingat sabda Rasul, “Antum a’lamu bi umuri dunyakum. Kamu mengetahui urusan duniamu”. Dan kurasa, orang-orang baik yang mau berdakwah (berbuat kebaikan) melalui somed mengetahui kebutuhan madu (objek dakwah) saat ini.

Kalau peduli dengan arus globalisasi yang semakin mempengaruhi gaya hidup masa kini, orang-orang baik jangan hanya diam.

Mudah sekali konten-konten kebencian menjadi viral. Kalu inget waktu workshop di Netizen Fair 2018, aku sedih banget melihat kenyataan perpecahan yang terjadi antar umat beragama yang disulut hanya karena hoax yang menjamur.

Teman-teman, kita bisa memberikan inspirasi, semangat, nilai-nilai positif lainnya lewat sosial media. Alhamdulillah, sudah banyak akun dakwah dengan konten kreatif.

Allah berfirman dalam Alquran surat Al Imran ayat 148 yang artinya, “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”

Ayat di atas Allah gak nyebutin harus berbuat baik lewat media atau metode apa kan? hehehe. So, bebas saja berkreasi asal jangan keluar batas nilai Islam.

Selamat berkreasi, UINers! Yuk, mulai sekarang gunakan sosial mediamu sebagai alat literasi digital positif! 🙂

Tags: , , , ,

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top