banner ad Startup UIN

Cara Mahasiswa Muslim Pahami Radikalisme

Hallo UINers, seberapa jauh kalian memahami  radikalisme? Sering kita mendengar bahwa radikalisme adalah sesuatu yang menyeramkan, buruk, bahkan  menghancurkan kesatuan, bukan? Nah, sebagai mahasiswa muslim, kita patut banyak belajar dan memahami fenomena yang terjadi di masyarakat terutama soal radikalisme.

Berita yang beredar di media,  radikalisme adalah gerakan yang keras, yang dapat menghancuran kesatuan bangsa. Nah, pada kesempatan ini, Lembaga Dakwah Kampus Syahid (LDK Syahid) mengupas mengenai Radikalisme yang dituang dalam Talkshow dengan menghadirkan narasumber Ahmad Wali Rodhi, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Teknologi Bangdung (BEM ITB) dan Ahmad Nabil Bintang, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Jakarta (DEMA UIN Jakarta).

Acara Talkhshow yang merupakaian serangkaian acara Syahid Fair ini diselenggarakan pada Senin, 5 November 2018 di Aula Studen Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pembahasan mengenai radikalisme diawali oleh Kak Nabil. Kata Kak Nabil, radikalisme adalah pemikiran yang mendasar. Bahasa jaman sekarangnya sih, kepo tingkat dewa hahahaha. Ketika seseorang berpikir kritis terhadap sesuatu kemudian ia menggali ilmu tersebut hingga ke akar-akarnya, dinamakan radikal.

Namun, yang menjadi permasalahan dalam memahami makna radikal seperti yang Kak Nabil sampaikan adalah, pemerintah yang melarang mahasiswa untuk berpikir radikal dan adanya unsur kepentingan politik sehingga radikal menjadi sesuatu yang salah di media manapun.

“Bagi saya, pemerintah salah menindaki pemuda yang ingin tau. Negara melarang kita memikirkan sesuatu yang mendasar. Orang Indonesia itu gak boleh dilarang, karena semakin dilarang semakin dilakukan,” tutur Kak Nabil.

Penyampaian Kak Nabil diperkuat oleh ungkapan Kak Wali. Ia memulai dengan fakta, bahwa dulu, ketika Rasulullah berdakwah pun menggunakan cara radikal. Ketika Rasulullah hadir di Arab dengan misi menyebarkan agama Islam merupakan gerakan radikal. “Hadirnya Rasulullah dengan berbagai kultur di Arab, merupakan gerakan radikal. Karena kehadiran Rasul mengancam orang-orang saat itu. Kemudian radikalisme itu, seharusnya punya koridor di sistem politik. Koridornya adalah kebenaran yang absolut, yaitu Islam itu sendiri,” tutur Kak Wali.

UINers, sebagai mahasiswa muslim ternyata kita perlu lho, bersikap radikal. Memahami Radikal itu, berarti kita mengaku bahwa kita benar-benar muslim. Karena bagi Kak Wali, radikal adalah bentuk komitmen terhadap apa yang kita pegang.

Terakhir, Ka Wali menyampaikan bahwa Rahmatan Lil-Alamin yang dimaksud dalam Alquran adalah Nabi Muhammad, bukan Islam. Sehingga ketika ada perpecahan yang terjadi dalam Islam tidak bisa menyalahkan islam dan menyangkut pautkan bahwa Islam adalah Rahmatan Lil-Alamin, karena yang menjadi rahmat bagi seluruh alam adalah Rasulullah yang Allah utus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

“Islam adalah agama satu-satunya yang diridhai Allah, sehingga yang diaplikasikan oleh nabi Muhammad adalah menciptakan kedamaian,” jelas Kak Wali.

Nah, UINers, bagaimana penjelasan tentang radikalisme dari kedua narasumber di atas? semoga kita tidak merasa puas dengan informasi ini, ya. Sehingga kita terus belajar untuk menghilangkan dahaga ilmu, terutama tentang radikalisme. Berarti, kalau kita mencari tau tentang radikalisme sampai ke akarnya, kita melakukan tindakan radikal, ya? Hehehe.

Tags: , ,

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top