banner ad Startup UIN

Belajar Berbagi Peran, #KitaMulaiSekarang!

Yang nulis on di Mahasiswa | Des 17, 2018 | 1 Komentar

Hai, UINers!

Kalian pernah gak sih berpikir tentang pekerjaan yang pantas atau tidak bagi seorang laki-laki atau perempuan? Atau  kepikiran kalau laki-laki dan perempuan tidak ada pekerjaan yang membedakan antara keduanya?

Selama dua hari, Sabtu dan Ahad, 15 dan 16 Desember 2018 aku menjadi satu dari 30 peserta #KitaMulaiSekarang Campaign Incubation Pogram yang diselenggarakan oleh Yayasan Pulih, Aliansi Laki-laki Baik, Investing Women, dan Campaign ID di Campaign #ForChangeID Hub.

Well, friends. Aku pernah memisahkan pekerjaan yang pantas bagi perempuan atau laki-laki. Kalau perempuan itu gak boleh melakukan pekerjaan kasar, atau sebaliknya laki-laki lah yang harus lebih banyak berperan dalam pekerjaan yang berat.

Kamu pernah gak sih berpikiran yang sama kayak aku? Menurutmu salah gak sih kalau kita berpikir seperti pernyataan di atas?

Yuk, simak sedikit review materi dari Kak Jane L. Pietra, Psikologi Dewasa dan Kak Wawan Suwandi, Fasilitator Yayasan Pulih.

Laki-laki itu tangguh, perempuan itu lemah lembut. Laki-laki itu tanggung jawab, perempuan perlu diberikan tanggung jawab. Laki-laki itu mengedepankan logika, perempuan itu mengutamakan perasaan. Laki-laki itu gak boleh nangis, air mata itu milik perempuan.

Ada yang mau menyangkal? Ada yang mau menyalahkan?

Dalam kesempatan yang berharga ini, aku dan teman-teman membahas tentang keterlibatan laki-laki dalam isu gander, perbedaan gender dan seks. Kami diberikan edukasi bahwa pekerjaan domestik, yang berbau rumah tangga seperti mengurus rumah, memasak, bahkan menjaga anak bisa dilakukan siapa saja, ayah maupun ibu. Karena berbagi peran itu asyik!

Nah, UINers coba kita renungkan deh. Kalau ada perempuan yang bekerja atau melakukan aktivitas yang banyak dilakukan laki-laki, perempuan itu akan dianggap apa oleh masyarakat? Strong, gagah wonderwomen, gitu kan, ya?

Kalau laki-laki yang melakukan pekerjaan rumah atau melakukan aktivitas yang sering dilakukan perempuan apa pandangan masyarakat? Wah, wah, negatif lah ya pokoknya.

Menurutku pandangan masyarakat yang stereotip ini sangat merugikan pihak laki-laki. Laki-laki akan dianggap sangat lemah ketika tidak bekerja di luar rumah.

Eits, tapi bukan hanya pihak laki-laki aja yang dirugikan, lho! Perempuan juga. Sehingga, mereka tidak boleh dominan dari laki-laki. Semua pekerjaan rumah diserahkan pada perempuan, sedangkan jika perempuan bekerja di luar rumah, pekerjaan domestik menjadi tugas yang gak boleh alfa dilkaukan. Gak adil kan? Wkwkwkwkwk.

Pandangan masyarakat mengenai pembagian tugas ini sudah lama terjadi. Pengaruh budaya Patriarkal, ketika laki-laki mendominasi dalam kepemilikan, pengambilan keputusan, dan mempengaruhi dalam budaya pembagian peran, perilaku, aktivitas, dan atribut. Sehingga, dari budaya Patriarkal ini muncul kekerasan laki-laki terhadap perempuan karena laki-laki merasa berkuasa dan menganggap lemah perempuan.

Akan ada konsekuansi dari pembakuan peran gender perempuan. Perempuan yang dianggap lemah oleh pandangan masyarakat, maka akan munucul kekerasan pada perempuan. Perempuan itu lembut, sehingga ketika perempuan mencalonkan diri menjadi pemimpin dimanfaatkan sebagi  black campaign “tidak sayang keluarga” (hehehe bisa aja kan? Mungkin juga terjadi di tengah-tengah masyarakat).

Terus apa lagi coba? Perempuan itu dinafkahi! Sehingga jika ada perempuan yang bekerja akan diberikan upah lebih rendah karena dianggap pencari nafkah tambahan dan tidak dapat tunjangan keluarga.

Begitu pun dengan laki-laki, ada konsekuensi yang harus diterima akibat pembakuan peran gender laki-laki. Misal, laki-laki dianggap kuat maka ia tidak boleh mengeluh dan selalu menjaga image mati-matian. Kemudian tegas, menjadi penghukum sehingga mengabaikan empati. Lalu laki-laki dianggap mapan yang mengakibatkan mereka harus jungkir balik demi mencapai kemapanannya sehingga tidak sedikit orang yang bunuh diri adalah laki-laki.

Sebagai penutup, aku mengajak kaum adam (huehuehue) untuk mengenali diri sendiri dan keluar dari topik masculinity yang merugikan laki-laki. Membangun empati dengan menghargai dan menghormati perempuan. Selain itu, dengan laki-laki mau berbagi pekerjaan domestik, akan membantu waktu dan energi perempuan tidak habis hanya dengan urusan domestik.

Bukan kah akan lebih sempurna jika dilakukan berdua? Hohoho. Yuk, #KitaMulaiSekarang untuk pembagian tugas! Kita mulai dari lingkungan pergaulan kecil kita aja dulu, ya! ^_^

Tags: , ,

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top