banner ad Startup UIN

Cerita Hikmah Muhammad Raja Rivaldo Jadi Relawan Korban Tsunami Banten

Yang nulis on di Artikel, Event Internal Kampus, Mahasiswa | Des 27, 2018 | 0 Komentar

Muhammad Raja Rivaldo menjadi relawan korban tsunami Banten. Dua hari setelah bencana terjadi, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang disapa Aldo  bergabung bersama Komunitas Peduli Lombok (KPL).

Aldo ditempatkan di Kecamatan Sumur yang menjadi tempat paling banyak memakan korban karena letaknya dekat bibir pantai. Aldo mengatakan bahwa di daerah tersebut belum ada bantuan logistik dari pemerintah saat ia dan timnya bertugas.

Pengalaman menjadi tim relawan merupakan hal yang berharga untuk Aldo. Tentunya, ini adalah kali pertama Aldo terjun langsung ke tempat kejadian bencana walau pun sudah lama ia menggeluti dunia kerelawanan di Gerakan Ayo Megajar yang  diinisiasi oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Taribiyah dan Keguruan (DEMA FITK).

Ia sangat bersyukur karena Allah memberikan kesempatan  untuk menjadi relawan pengungsian korban bencana tsunami. Aldo mendapatkan banyak sekali hikmah bermanfaat untuk kehidupannya. “Keinginan untuk membantu pertama kali Aldo dapatkan di Ayo Mengajar. Karena, Aldo ingin berbagi untuk tema-teman yang membutuhkan,” ucap Aldo.

Aldo mengunjungi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi  orang untuk berlibur dan bersenang-senang. Dapat dipastikan bahwa mereka tidak pernah terbayangkan akan terjadinya bencana  dahsyat mencerai beraikan  anggota keluarga dan mematikan kebahagiaan mereka.

“Dengan adanya bencana tsunami Allah dengan mudah membalikkan kondisi mereka 180 derajat. Mobil-mobil mewah, harta-benda dalam sedetik tsunami semua hilang. Jadi, pelajarannya cukup mahal. Jangan mementingkan duniawi sehingga melupakan kita akan urusan akhirat karena untuk menenggelamkan dunia sangat mudah bagi Allah.”

Ia mengapresiasi relawan-relawan yang bahkan datang dari luar Jawa untuk terjun langsung dan cepat tanggap terhadap korban bencana. Bahkan, ia menemui tidak sedikit  mahasiswa yang bersedia dengan sepenuh hati menjadi relawan. “Semua bisa jadi relawan. Siapa pun, selagi kita bisa, selagi kita kuat, selagi mau berbakti, pasti diterima. Karena kita harus siap untuk makan pas-pasan karena  harus mengutamakan pengungsi,” ujar Aldo.

Ada hal yang membuat Aldo sangat sedih, yaitu ketika bayi makan mie instan karena kekurangan makanan pendamping ASI. Oleh sebab itu, ia sangat berharap banyak bantuan berupa makanan bayi, pampers, dan kebutuhan sehari-hari yang datang karena kondisi  semua toko mati. Untuk membeli kebutuhan tersebut harus menempuh waktu yang lama.

Kemudian Aldo kembali bercerita saat berkeliling sekitar pukul 10 malam di antara pemandangan puing-puing rumah yang hancur,  ia melihat seorang bapak hanya terdiam sendirian melihat sekitarnya. Ketika Ia bertanya pada salah satu orang yang ia temui jawabannya karena bapak terebut depresi berat. “Rumahnya hancur dan ditinggal oleh keluarganya. Mungkin itu yang menyebabkan bapak tersebut depresi berat. Itu lah mengapa ketika terkena musibah harus ingat Allah. Karena, untuk menghilangkan trauma butuh waktu yang lama.”

Setelah menjalani dua hari menjadi relawan yang harus meninggalkan orang tua dan jauh dari rumah, justru itulah yang menjadi tantangan tersendiri untuk Aldo. Karena, Ia sangat memanfaatkan waktu mudanya untuk hal-hal positif. “Ketika anak-anak muda yang masih glamor, yang masih seneng banyak main, tapi ketika saudara-saudara kita terkena musibah, selagi ada kesempatan, kita harus mengambil kesempatan itu dengan baik,” jelas lelaki berkaca mata ini.

“Tri Dharma Perguruan Tinggi pun; Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. Nah, pengabdian ini lah yang masih kurang dijalani oleh mahasisiwa. Karena, pengabdian aplikasinya bukan hanya saat Kelompok Kerja Nyata (KKN) saja. Kita bisa gabung dengan gerakan kerelawanan untuk mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.”

Terakhir, Aldo memberikan pesan untuk  UINers di seluruh Indonesia untuk terus bersemangat menyebarkan kebaikan di mana saja. “Selagi ada waktu, selagi ada yang bisa kita kontribusikan, lakukan lah sesuai dengan kemampuan teman-teman. Jadikan ladang pahala atas apa yang kita lakukan. Apa lagi, dengan memberikan semangat pada orang-orang yang putus asa seperti korban bencana. Terus lah bersemangat!”

Sekian cerita dari Aldo, semoga teman-teman dapat mengambil hikmah, ya. Yuk, kita banyak-banyak bersyukur kepada Allah karena masih diberikan kenyamanan beraktivitas, menuntut ilmu, bahkan bersama keluarga. Syukuri segala apa yang kita punya, karena jika sudah hilang akan terasa mahal dan menyesal.

 

Tags: , , ,

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top