banner ad Startup UIN

Apa yang Terjadi pada E-Voting PEMIRA Pertama UIN Jakarta?

Yang nulis on di Mahasiswa | Mar 20, 2019 | 0 Komentar

Gimana kabarnya UINers?

Cek satu, dua, tiga. Masih aman, ya?

Oke, aku rasa udah aman terkendali untuk nulis artikel ini karena sudah hampir berlalu satu hari (tengok kanan kiri- belakang); masih ada yang tutup mata.

Sekarang waktunya bicara, soal apa ya tapi? Hihihi

Aku mau kasih kabar buat seluruh UINers yang ada di Indonsia kalau UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru saja menyelenggarakan Pemira alias Pemilihan Raya. Nah, Pemira tahun ini sungguh berbeda dari sebelumnya. Tahun ini menjadi tahun pertama UIN Jakarta menggunakan pemungutan suara elektronik atau e-voting.

Wah, mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0, donk keren pake teknologi! Terus juga jadi mengurangi sampah kertas gitu, lho. Secara sekarang udah jamannya mengurangi pemakaian kertas atau plastik donk sebagai bukti cinta lingkungan hihihi.

Eiittss, ternyata tidak sesimpel itu, Ferguso! wkwkwkwk

E- voting dimulai pukul 00.01, dan aku termasuk orang yang ngisi jam segitu. Eh paling cuma lebih beberapa menitan aja, sih (tepuk tangan donk hahaha *sombhong!). Alasannya karena aku mau merasakan cara baru Pemira ini tanpa menghadapi gangguan terutama server yang down.

Tapi anehnya, baru aja beberapa menit setelah subuh, udah banyak kabar kalau Mahasiswa gak bisa ngisi e-voting karena ada orang lain yang milih. Tanpa sepengatahuan pemilik NIM. Wah, wah ada apa gerangan?

Mari kita investigasi *cmiiiw

Ada screen shootan viral, nih. Ternyata itu temen kenalan aku. Aku chat dia:

“Eh, beneran akun kamu dibobol orang?”

“Iya, Sar.”

“Kamu gak ganti password ya, Ka?”

“Enggak:

Nah, tuh satu, ya. Dia temen aku di FITK.

Terus ada lagi, nih rame di salah satu grup tapi aku cuma ngamatin aja:

“Padahal belum milih tiba-tiba udah keiisi begini” | “Wow kamu dibajak” | “Asiquee hahaha semoga dapat hidayah yang bajak akun aku” | “Udah ganti password kamu?” | “Belum lama aku ganti password” | “Hmmmm hikmahnya kamu gak perlu capek capek milih.”

Pagi-pagi udah kayak di siang hari panas terik dah! wkwkwkw

Eh setelah itu beredar kabar kalau Pustipanda buka pengaduan bagi Mahasiswa yang merasa dirugikan karena dibobobol oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dan solusinya adalah bisa mengisi ulang. Namanya kabar, ya apa lagi media sosial gampang banget kesebar. Ada yang bilang itu hoax. Okedeh netizen, terima kasih sudah menimbulkan pemikiran kritis di tengah Mahasiswa.

Jadi,  dari UIN Community coba mendatangi Pak Nasrul. Beliau adalah Kepala Pustipanda. Ternyata benar pemirsa, banyak Mahasiswa yang mengadu akibat akunnya dibobol. Tapi, apakah benar Pustipanda membuka layangan pengaduan? Ckckck.

“Kami tidak membuka layanan pengaduan,” begitu kata Pak Nasrul di kalimat pertamanya.

Nah lho, terus kabar yang beredar berarti apa? HOAX? waduuuuuh gawat darutat, nih. Aku benci hoax hoax-an. Kesel akutu sama penebar hoax. Maunya apa? Ini di tingkat Mahasiswa masih ada ya yang berpikir membuat berita buruk; bukan burung.

Pustipanda sudah mensosialisasikan jauh-jauh hari untuk mengubah sandi pada AIS. Dijelaskan oleh Pak Nasrul, bahwa arahan untuk mengganti sandi pada AIS sudah dikabarkan melalu media sosial @uinjktofficial, akun-akun Dema Fakultas, dan di tampilan awal AIS sendiri.

Menanggapi  Mahasiswa yang sudah mengganti sandi bisa jadi karena terlalu percaya Mahasiswa kepada teman, sehingga bisa masuk dengan akun kita tanpa sepengatahuan kita sebelumnya.

Nah, kemungkinan itu bisa terjadi ya, UINers. Sabar dulu, jangan gampang tersulut esmosi *eh emosi.

Mari jadikan kejadian Pemira sebagai hikmah, ya.

Pelajaran bagi teman-teman Mahasiswa yang merasa dirugikan karena dibobol orang tidak bertanggung jenab alias bertanggung jawab, AIS adalah hal privasi kita. Ada data-data pribadi. Maka dari itu, kita harus sangat menjaga AIS dengan mengubah sandi. Nah, mungkin selama ini masih merasa aman-aman aja kan? Tapi, dengan adanya e-voting Pemira ini kita bisa tau, bahwa AIS harus aman terjaga; diri kita aja yang tau.

“Anggap saja AIS itu duit kita. Jangan sampai terkuras atau tertransfer tanpa sepengatuan kita. Masalah pemboboalan tidak hanya untuk e-voting saja, tetapi untuk masalah yang lain karena penggunaan AIS kita gunakan juga untuk kepentingan urusan perkuliahan. Pemira hanya bagaian dari AIS,” kata Pak Nasrul.

Pustipanda membuka pelayanan bagi Mahasiswa yang lupa sandi AIS. Beberapa kali juga mereka melayani Mahasiswa yang lupa sama sandinya. Nah, ini juga pelajaran banget kalau mau bikin sandi jangan susah sudah banget. Yang sering kita inget atau sering digunakan untuk sandi sandi lain, tapi please harus bisa jaga baik-baik jangan sampai ada yang tau. Doi kamu gak dijaga terus direbut orang ngambek kan, kamu? wkwkwkw.

Nah, kalau ganti password masih bisa diurus ke Pustipanda. Tapi, pelayanan untuk mengisi ulang akun yang dibobobl gak bisa, karena Pustipanda  membuat sisitem e-voting ini hanya bisa sekali isi dan langsung masuk ke sistemnya.

“Yang menjadi inisiator bukan Pustipanda, kami hanya melaksankan dari pimpinan. Kami mendukung keputusan e-voting sehingga Pustipanda harus melaksanakan itu,” lanjut Pak Nasrul.

Sebenarnya apa sih tujuan awal e-voting ini?

Pak Nasrul dan Pak Ihsan, salah satu staff Pustipanda menjelaskan tujuan e-voting ini sebagai berikut:

  1. menghadapi revolusi industri 4.0 sehingga Mahasiswa dilatih untuk aware terhadap kemajuan teknologi
  2. mengurangi energi panitia penyelenggara dan pemilih agar lebih efisien
  3. hemat biaya atau anggaran
  4. mengurangi sampah kertas

Begitulah kira-kira tujuan e-voting yang kami rangkum dari dpembicaraan kami dengan Pak Nasrul.

Namun, lagi-lagi ada saja oknum yang ja(h)il ngebobol akun orang. Aku harap teman-teman yang menjadi korban sangat menjadikan ini sebagai pelajaran berharga, ambil hikmah sebanyak-banyaknya. Doakan orang yang berbuat curang diberi hidayah dan kalau pelakunya adalah Mahasiswa semoga perilaku jahatnya tidak menjadikan ia susah lulus, dan jika dari atasan yang melakukan ini semoga makin berkah kehidupannya. Sebaik-baik balasan kepada orang lain adalah balasan yang baik kan? huhuhu sing sabar ya :’).

Coba kita simak para netizen UIN Jakarta menanggapi Pemira di twitter @uincommunity:

@alulbf: Wah kacos ini si. Makanya banyak yang menolak dengan sistem kayak gini. Esensinya juga gak dapet

@amiiamiiratu: Karena e-voting memang sangat riskan. Regulasinya tidak jelas, malah ada panwaslu yang belum sosialisasi di Fakultasnya. Sekalinya sosialisasi malah via instastory yang cuma bertahan 24 jam. Itu kalau ada yang liat instastorynya, kalau gak? Belum lagi tepat sasaran gak viewersnya?

Aku boleh jujur, ya? Aku sebenarnya mah deg degan pisan nulis artikel ini. Ah, tapi siap-siap aja ya kalau ada yang gak suka. Dan perlu ditekankan bahwa aku tidak memihak manapun, kepentingan siapapun. Ini hanya sebagai suara Mahasiswa yang ya, bersuara; suatu kewajiban tanpa harus ditanya alasan mengapa harus bersuara ckckckck.

Nah, karena ini adalah e-voting pertama di UIN Jakarta, maka kita perlu evalusai baik buruknya. Semoga Pemira tahun ini pun jadi pembelajaran berharga untuk UIN Jakarta. Jika masih mempertahankan cara e-voting untuk kedepannya, benahi agar tidak ada lagi kecurangan sehingga tidak ada lagi Mahasiswa yang dirugikan. Begitupula bagi Mahasiswa, please jangan ada lagi yang bertindak seenaknya, ya. Kalau cinta sama kampus, sama Indonesia tolong, ya yang bijak berdemokrasi. Saranghae <3

 

 

Tags: , ,

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top