banner ad Startup UIN

Kisah Adinda Layla KKN Internasional di Turki

Yang nulis on di Mahasiswa | Mar 12, 2019 | 0 Komentar

Pada tanggal 8 Juni 2018 kemarin saya memutuskan untuk pergi ke Negara Turki yang merupakan termasuk dari golongan negara dengan high human development index dan dari aspek agama yang mayoritas muslim dan juga sekuler sepertinya Negara Turki cocok untuk dijadikan tempat belajar saya mengenai topik ini.

Break-Up the Barriers Project sendiri merupakan program yang mengangkat poin ke-4 dan ke-10 Sustainable Development Goals (SDGs) dari United Nations dari 16 poin yang harus diwujudkan sebelum tahun 2030. Poin ke-4 sendiri berisikan tentang inequalities education dimana program pendidikan ini harus merata dan tidak ada lagi halangan atau faktor yang mampu membuat negara memiliki ketimpangan pada sistem pendidikannya. Pada poin ke-10 berisikan tentang reduced inequalities dimana program ini menekankan sekali pada aspek human rights atau Hak Asasi Manusia (HAM) dimana setiap individu memiliki hak nya dalam mendapatkan kehidupan yang layak tanpa dibeda-bedakan dari ras nya, ekonominya dan juga dari fisiknya. Break-Up the Barriers Project ini memiliki total 5 minggu kegiatan aktif mengajar anak-anak difabel dan diskusi aktif bersama teman-teman mahasiswa yang juga mengikuti proyek ini. Anggota yang mengikuti proyek ini berasal dari negara Hong Kong, Tiongkok, Pakistan, Maroko, Tunisia dan Algeria. Latar belakang negara yang berbeda dengan kebijakan negara yang berbeda pun membuat kami selalu asik dalam berdiskusi mengenai berbagai aspek bukan hanya pendidikan yang merata tetapi juga sistem ekonomi dan politik negara dan juga bagaimana ideologi negara juga pandangan mengenai agama di negara mereka.

Tim relawan dalam program ini kami beri nama “Break-Up the Barriers Huge Family”. Pada program Break-Up the Barriers untuk KKN Mandiri Internasional 2018 ini saya merupakan satu-satunya mahasiswa yang mewakili UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di dalam satu tim relawan kami berasal dari bermacam-macam negara seperti yang sudah sempat dipaparkan secara singkat sebelumnya yaitu dari negara Hong Kong, Tiongkok, Kanada, Pakistan, Maroko, Tunisia dan Algeria.

Bertemu dengan partisipan dari negara lain dan belajar banyak hal dari mereka membuat saya bersyukur tinggal di Negara Indonesia, saya merasa makna dari kemerdekaan di Indonesia lebih terasa dibandingkan dengan negara-negara mereka. Saya yang tadinya merasa Indonesia sangat tertinggal namun sekarang saya merasa Indonesia juga memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan. Seperti contohnya di Maroko, Tunisia, Algeria dan Hong Kong yang tidak memiliki hak untuk berbicara mengenai sistem politik dan ekonomi secara buka-bukaan membuat saya iba karena di Indonesia sendiri kami bebas menyuarakan aspirasi kami. Begitu juga dengan Pakistan yang masih bersitegang dengan negara tetangganya yaitu India, dimana masih sering sekali pembunuhan dan pembantaian terjadi disana. Setidaknya walaupun hubungan Indonesia dengan negara tetangga yaitu Malaysia juga sering bersitegang tapi tidak sampai separah India dan Pakistan, hal ini juga membuat saya lebih bersyukur.

Selain itu, kami juga membahas mengenai bagaimana infrastruktur dan pendidikan di Negara Turki dimana kami merasa Turki sudah memiliki infrastruktur dan sistem pendidikan yang baik bagi difabel. Mereka sangat diterima dengan tangan terbuka dan tidak diperlakukan berbeda oleh masyarakat di Turki. Hal ini menjadi menarik untuk dianalisa dimana saya ingin mencari tahu faktor apa yang membuat Turki bisa menjadi salah satu negara yang ramah terhadap difabel. Bagaimana revolusi mental itu terjadi bagi orang-orang yang masih melakukan diskriminasi terhadap difabel, dan masih banyak lagi.

 

Ditulis oleh Adinda Nur Layla Ahmad, Jurusan Hubungan Internasional UIN  Jakarta

Tags: ,

About the Author

Tentang sarahmotiva:
(97's girl) Aktivis Dakwah Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Part of Solidaritas Peduli Jilbab. Volunteer Sekolah Pohon Inspirasi Bogor. Chemistry Education'15. Pecinta Hujan pengagum masa depan #motivawriter #drawriter [Tarbiyah Madah Hayah-Allahu Ghoyatunaa!]

rss feed Facebook Twitter
.

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Subscribe via RSS Feed Connect on Google Plus
Top